Kementan Optimis tak Perlu Impor Beras

0
51

Kementerian Pertanian (Kementan) menepis peluang impor beras karena produksi mencukupi sampai tiga bulan ke depan. Apalagi, mulai Januari akan ada panen. Tingginya harga beras lebih disebabkan oleh anomali pada rantai pasok (supply chain), bukan produksi. Benarkah?

Wacana impor beras kembali mencuat, seiring tingginya harga beras. Bahkan, Wakil Presiden Jusuf Kalla sampai meminta evaluasi data persediaan beras serta penghitungan produksi karena harga beras sudah jauh di atas harga eceran tertinggi (HET). Jika hasil penghitungan tidak sesuai, maka impor pun bisa dilakukan.

Komentar Wapres jelas berbeda dengan klaim yang selama ini disampaikan Kementan maupun Badan Pusat Statistik (BPS). Bahkan, produksi padi dalam angka ramalan (Aram) II BPS naik dari 79,355 juta ton gabah kering giling (GKG) menjadi 81,382 juta ton atau naik 2,56%. Hanya saja, angka ini yang diragukan. Pasalnya, jika benar, maka Indonesia sudah surplus bertahun-tahun dan harga pun tidak tinggi melampaui HET.

Namun, Menteri Pertanian Amran Sulaiman tetap optimis Indonesia tidak perlu impor. Apalagi, pihaknya sudah sejak tiga bulan lalu memperhitungkan produksi saat paceklik dan mengantisipasi dengan melakukan tanam Juli-September. Soal harga beras yang tinggi, Amran menyebut lebih karena anomali supply chain. ”Ada rantai pasar yang menyebabkan harga naik,” katanya.

Dia justru mengiritik pedagang terkait naiknya harga beras. “Jangan dijadikan tradisi jelang Natal dan tahun baru harga naik. Saya himbau kepada para pedagang, jangan lah memain-mainkan harga, karena produksi kita lebih dari cukup,“ jelas Amran di Jakarta, Kamis (14/12/2017). Stok beras di Bulog sebesar 1,1 juta ton pun dinilai cukup untuk tiga bulan ke depan.

Benarkah? Menurut seorang pedagang yang tak mau disebut namanya, volume sebesar itu terlalu riskan. Pasalnya, dari jumlah tersebut, cadangan beras pemerintah (CBP) hanya 260.000 ton sementara sisanya adalah beras sejahtera (rastra). Jika tiap bulan beras rastra dikeluarkan 230.000 ton, maka sampai Februari stok beras yang ada tinggal CBP. “Kondisi itu cukup riskan karena panen raya baru terjadi pada bulan Maret dan Perum Bulog baru melakukan penyerapan secara masif pada bulan itu,” katanya.

Untuk saat ini, Bulog jelas sulit menyerap karena harga sudah terlalu tinggi. Ini diakui Dede Samsudin, Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Sri Asih, Desa Ciptamarga, Kecamatan Jayakerta, Kabupaten Karawang, Jawa Barat. “Gabah untuk saat ini sulit didapat. Jumlahnya sangat sedikit, sehingga harga beli cukup tinggi, yaitu Rp6.000-an/kg untuk gabah kering panen (GKP),” katanya, Sabtu (16/12/2017).

Bahkan, pembeli dari Jawa Tengah dan Jawa Timur pun sampai mencari gabah ke Karawang. Sudah produksi sedikit, pembeli pun berebutan, sehingga harga melejit. Tambahan lagi, Januari atau Februari tidak akan banyak areal yang bisa dipanen karena musim tanam mundur. Baru Maret dan April kemungkinan areal panen cukup luas. Itu sebabnya dia menilai wajar wacana Wapres membuka kran impor. AI