Kondisi Beras Mengkhawatirkan

0
337

Kondisi beras di dalam negeri sudah mengkhawatirkan, yang terlihat dari makin tingginya harga. Pasok dari daerah pun terus menurun karena penggilingan juga kesulitan mendapat gabah. Pada saat yang sama, stok beras Perum Bulog juga sudah di bawah 1 juta ton. Kalau pun melakukan Operasi Pasar (OP), maka Bulog terpaksa menggunakan beras PSO (public service obligation) untuk rakyat sejahtera (rastra) karena beras cadangan pemerintah (CBP) kabarnya hanya tersisa 11.000 ton.

Harga beras cenderung terus bergerak naik dan sulit dikendalikan. Klaim pemerintah pasok beras cukup ternyata tidak tercermin dengan harga di pasar. Harga rata-rata beras di pasar Jakarta per Sabtu (06/01/2018) bertahan tinggi dengan kisaran Rp9.936/kg sampai Rp10.636/kg. Sementara di Pasar Induk Beras Cipinang pada tanggal yang sama, harga beras medium IR-64 III terus bergerak naik dari Rp7.800/kg pada awal tahun menjadi Rp8.800/kg atau naik Rp1.000/kg dalam kurun 5 hari.

Hanya saja, sampai kini Kementerian Pertanian masih optimis dan mengklaim stok aman. “Hari ini kita sudah bisa menyampaikan kepada publik, Indonesia telah berhasil mencapai swasembada pangan dan stok kita aman. Kita sudah bisa mengatakan bahwa kita swasembada beras, bawang, jagung dan cabe,” ujar Menteri Pertanian Amran Sulaiman dalam Rapat Koordinasi Gabungan Ketahanan Pangan dan Evaluasi Upsus 2017 di Jakarta, Rabu (03/01/2018).

Klaim ini dibantah keras oleh ProfDwi Andreas Santosa,  guru besar Fakultas Pertanian IPB, yang juga Ketua Umum Asosiasi Bank Benih Tani Indonesia (AB2TI). Bahkan dia mengaku tak pernah percaya data yang dilansir Kementan karena disparitas data dengan kenyataan sudah terlalu tinggi, sekitar 20%-25%. Itu sebabnya, dia mengandalkan data dari jaringan AB2TI di lapangan. “Dari sinilah saya berani mengatakan produksi padi 2017 lebih rendah dari 2016, yang berkebalikan sama sekali dengan pernyataan Kementan,” ujar Dwi, yang dihubungi Sabtu (06/01/2018).

Menurut Dwi, persoalan pasok bisa dengan mudah dilihat dari harga di pasar. Apalagi, saat ini justru tataniaga beras adalah relatif paling bagus. “Kenapa? Karena ada satgas pangan yang menakut-nakuti. Dengan asumsi seperti itu, maka kenaikan beras saat ini benar-benar murni karena supply and demand. Kalau supply tidak memadai, berarti produksinya bermasalah.”

Itu sebabnya, Perum Bulog harus melakukan operasi pasar (OP) karena tanpa OP harga akan terus melambung. Persoalannya, stok Bulog juga mengkhawatirkan karena sampai dua hari terakhir (04/01/2018) beras di gudang Bulog tinggal 945.000 ton. Dari jumlah itu, kata Dwi, cadangan beras pemerintah (CBP) tinggal 11.000 ton dan sekitar 930.000 ton adalah beras raskin/rastra plus sedikit beras komersial.

“Yang digelontorkan Bulog ke pasar saat ini berarti mengambil jatah PSO (rastra). Sehingga Bulog saat ini terbebani. Selain harus mengamankan stok nasional, juga harus tanggung jawab rastra,” ungkapnya.

Dwi mengingatkan jangan sampai kejadian tahun 1998 yang mengguncang terulang. Saat itu, stok Bulog tinggal 500.000 ton dan pemerintah terpaksa mengimpor beras dalam jumlah terbesar dalam sejarah. “Kondisi beras sudah berbahaya,” pungkasnya. AI