BPDP KS Undang Lembaga Asing Teliti Kelapa Sawit

0
41

Komoditas kelapa sawit selama ini menjadi bulan-bulanan kampanye negatif yang dilancarkan sejumlah negara dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) asing yang menuduh komoditas turunan dari kelapa sawit tidak ramah lingkungan dan tidak sehat. Untuk mengatasi tuduhan itu, Badan Pengelola Dana Pungutan (BPDP) Kelapa Sawit mengundang lembaga riset dan penelitian internasional untuk melakukan riset dan penelitian terhadap komoditas kelapa sawit.

“Kami mengundang lembaga riset dan penelitian internasional dari pelbagai negara untuk melakukan riset dan penelitian terhadap kelapa sawit,” ujar Direktur Utama BPDP KS, Dono Boestami, usai membuka Pekan Riset Sawit 2018 di Bandung, Selasa (13/02/2018).
Dono menjelaskan, pihaknya terbuka bagi lembaga riset dan penelitian yang berasal dari luar negeri untuk membuktikan apakah komoditas kelapa sawit tidak ramah lingkungan, seperti yang dilontarkan sejumlah LSM asing, atau sebaliknya, komoditas itu ramah lingkungan dan banyak kegunaannya.

“Silahkan saja ajukan proposal ke Dirjen Perkebunan nanti kita bantu realisasinya,” papar Dono.

Dia menyebutkan. Indonesia merupakan laboratorium sawit terbesar di dunia karena memiliki lahan perkebunan sawit seluas sekitar 11-12 juta hektare.

Selain mengundang lembaga riset dan penelitian asing, BPDP juga terus berusaha meningkatkan kerjasama dengan lembaga riset dan penelitian di dalam negeri. Saat ini, ungkap Dono, ada sekitar 32 proposal yang mencakup 7 bidang penelitian yang masuk ke BPDP KS.

Dono menjelaskan kegiatan riset dan penelitian merupakan bagian penting dari upaya pengembangan komoditas kelapa sawit Nasional yang berujung pada peningkatan kesejahteraan petani kelapa sawit dan kemajuan industrinya.

“Riset dan pengembangan merupakan salah satu mandat pengeluaran dana yang dilakukan BPDP,” katanya.

Komoditas kelapa sawit dan turunannya adalah sektor terpenting bagi negara karena tahun lalu memberikan kontribusi pendapatan devisa sekitar Rp 240 triliun dan mampu menyerap 4,2 juta tenaga kerja langsung dan 12 juta tenaga kerja tak langsung. Buyung N