“Tungku Tigo Sajarangan, Tali Bapilin Tigo” Ala Produsen Kertas

0
698
Seorang anggota Rumah Batik Andalan melakukan proses pencetakan dalam pembuatan batik cetak. Rumah Batik Andalan memproduksi batik khas yang kini populer sebagai batik Bono. Berkat membatik, kaum wanita anggota Rumah Batik Andalan kini lebih mandiri dan bisa membantu perekonomian keluarga.

Menyebut kain batik, maka yang terlintas di kepala adalah Yogyakarta, Solo, dan Pekalongan yang secara tradisional merupakan sentra produksi batik. Namun mulai saat ini, masukan juga Pangkalan Kerinci, Kabupaten Pelalawan, Riau dalam daftar. Ya, meski berada di ranah Melayu, yang lebih kental dengan budaya tenun, namun di Pangkalan Kerinci berkembang batik khas setempat yang populer sebagai batik Bono.

Adalah Rumah Batik Andalan, sebuah kelompok usaha wanita yang mengembangkan batik Bono.  Ketua Rumah Batik Andalan, Siti Nurbaya menyatakan, usaha Rumah Batik Andalan berkembang berkat pembinaan PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP). Industri bubur kayu dan kertas terintegrasi di bawah Grup APRIL itu juga memberikan bantuan permodalan. “Dulu, kami para ibu lebih banyak melakukan aktivitas tak produktif. Kini kegiatan kami jauh lebih bermanfaat,” katanya ketika ditemui pekan lalu.

Dia menceritakan, pada awalnya usaha Rumah Batik Andalan tak berjalan mulus. Setelah pelatihan pertama, tahun 2013, mereka terus-menerus menghadapi kegagalan pembuatan kain batik. Maklum, membatik memang tak semudah membalik telapak tangan. Ada proses mulai dari membuat pola, menggambar dengan menggunakan lilin, hingga proses pewarnaan. Produk awal Rumah Batik Andalan pun kerap berantakan, terutama soal pewarnaan yang ‘beleberan’. Akibatnya, Rumah Batik Andalan sempat vakum. Anggota pun menyusut dari awalnya 50 orang hingga tinggal 25 orang.

Yang mengharukan, kata Nurbaya, RAPP ternyata tidak pernah patah arang. Pembinaan terus dilakukan. Bahkan, perusahaan itu mengirim mereka ke sentra produksi batik di Yogyakarta dan Pekalongan. RAPP juga sampai mendatangkan guru membatik dari Solo, awal 2016. “Kami lalu gabungkan ilmu dari Yogya, Pekalongan, dan Solo. Kini, kami memiliki teknik pewarnaan batik sendiri,” katanya.

Selain pewarnaan, Rumah Batik Andalan juga mengembangkan motif  batik yang diambil dari keunikan masyarakat setempat. Salah satunya adalah Bono, sebuah fenomena langka yang terjadi di Sungai Kampar, di mana gelombang dahsyat bergerak menuju hulu sungai. Motif batik Bono ini yang akhirnya menjadi nama populer produk Rumah Batik Andalan.

“Selain Bono, kami juga mengembangkan motif batik daun akasia, ekaliptus, timun suri, dan lakum, tanaman khas di tepi Sungai Kampar,” kata Nurbaya.

Kini setiap bulan, mereka rutin menjual 150-250 lembar kain batik. Bahkan, pernah suatu ketika datang pesanan sekaligus hingga 1.700 lembar kain batik. Pelanggan pun datang tak hanya dari Pelalawan, tapi juga seantero Riau juga provinsi lain.

Rumah Batik Andalan pun bisa membukukan omset rata-rata Rp30 juta/bulan. Dampaknya, pendapatan dan kesejahteraan anggota Rumah Batik Andalan pun melonjak. Seorang anggota Rumah Batik Andalan bisa mengantongi pendapatan hingga Rp2,5 juta/bulan. Yang penting dicatat, mereka baru melakukan kegiatan membatik usai beres melakukan pekerjaan di rumah.

“Berkat membatik, ada yang dulu menumpang di tanah orang, kini sudah bisa mencicil rumah sendiri. Ada juga yang mulai mencicil untuk berangkat umroh,” kata Nurbaya bangga.

Siti Nurbaya
Siti Nurbaya

Wirausaha

Rumah Batik Andalan merupakan salah satu kegiatan pemberdayaan masyarakat (community development) dalam program usaha kecil dan menengah atau UKM (Small Medium Enterprise/SME) yang dilakukan oleh RAPP. Tercatat sudah 244 UKM yang diberdayakan, di mana 72 UKM merupakan usaha yang tidak terkait (off line) dengan operasional RAPP. Rumah Batik Andalan contoh usaha tersebut. Selain batik, ada juga usaha bengkel mobil dan sepeda motor, salon, dan madu hutan.

Sementara untuk UKM yang terkait (in line) dengan operasional RAPP ada 172 unit. Contoh usaha in line adalah penyediaan serbuk sabut kelapa untuk pembibitan, penyediaan palet kayu, dan penyediaan sumber daya manusia (SDM) untuk berbagai kegiatan pendukung operasional RAPP, seperti pembibitan, pemanenan, dan pengemasan produk.

Salah satu UKM in line yang dibina adalah PT SMAF yang dikelola oleh Darneti dan keempat anaknya. Perusahan ini menyediakan bus untuk transportasi karyawan RAPP.

Darneti menuturkan, usaha yang dirintis almarhum suaminya, Yusherman, dimulai ketika pabrik RAPP mulai dibangun tahun 1991. Pada awalnya dia dan suami mendapat kesempatan untuk mengelola kantin karyawan. Belakangan, mereka diberi peluang untuk mengelola angkutan karyawan. “Awalnya kami hanya punya satu bus kecil,” kenang Darneti.

Seiring dengan meningkatnya operasional RAPP, kebutuhan akan bus karyawan semakin meningkat. Darneti dan suami yang bisa menjaga kepercayaan pun diberi kesempatan untuk menyediakan lebih banyak bus karyawan. Hingga saat ini, Darneti dan keluarga mengoperasikan 30 unit bus karyawan. Omset yang diperoleh setiap bulannya pun tembus Rp1 miliar! “Laba yang bisa kami kantongi sekitar 30%,” katanya.

Darneti menuturkan, RAPP bukan hanya menyediakan peluang usaha pengelolaan bus karyawan. Tapi juga mendampingi agar manajemen usaha bisa berjalan baik. “Ada pendampingan kewirausahaan sehingga manajemen usaha kami semakin baik,” katanya.

Hj Darneti
Hj Darneti

Berkembang Bersama

Direktur Community Development and Community Forestry RAPP, Marzum menuturkan, pihaknya berkomitmen untuk mendorong tumbuhnya wirausaha di masyarakat. “Untuk tahun 2018, kami targetkan ada 100 wirausaha off line baru yang tumbuh,” katanya.

Dia melanjutkan, pihaknya akan all out untuk memastikan wirausaha yang dibina bisa tumbuh dan berkembang. RAPP bahkan sedang menyiapkan outlet khusus di Ibukota Riau, Pekanbaru untuk tempat pemasaran produk wirausaha binaan.

Selain program UKM, ada juga program sistem pertanian terintegrasi (integrated farming system/IFS). Melalui program ini, masyarakat dilatih budidaya pertanian pangan dan hortikultura, peternakan dan perikanan, untuk mengoptimalkan potensi desa setempat. Masyarakat juga diberi bantuan modal kerja dan pendampingan di lapangan. Tercatat sudah ada 78 desa terlibat dengan 99 kelompok tani dan lebih dari 2.000 kepala keluarga.

Marzum mengungkapkan, salah satu keberhasilan program ini adalah budidaya Nanas di kampung Cerenti, Desa Penyengat, Kabupaten Siak. “Dari awalnya hanya 10 hektare, kini budidaya Nanas berkembang hingga lebih dari 100 hektare,” katanya.

rumah madu
Rumah madu binaan PT RAPP

Program pemberdayaan masyarakat lain yang juga dijalankan RAPP adalah pendidikan dan pengembangan bakat, program kesehatan, pembinaan atlet berprestasi serta pembangunan infrastruktur pedesaan. Menurut Marzum, RAPP mengalokasikan rata-rata Rp15 miliar setiap tahun untuk program pemberdayaan masyarakat. “Nilainya bisa naik jika ada program pembangunan infrastruktur,” kata Marzum.

Dia menegaskan, program pemberdayaan masyarakat merupakan core value  dari RAPP dan Grup APRIL.  “Kami meyakini bahwa perusahaan harus berkembang bersama masyarakat,” katanya.

Persis seperti filosofi hidup masyarakat melayu, “Tungku Tigo Sajarangan, Tali Bapilin Tigo”, yang kira-kira berarti memberdayakan semua elemen masyarakat untuk hidup saling berdampingan.*