Ada Peluang, tapi Tidak Mudah

0
126
Industri plywood

Tak banyak mendapat perhatian, industri kayu lapis (plywood) rupanya sedang berupaya bangkit. Kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang ingin agar negaranya kembali berjaya ternyata ikut memberi sentimen positif bagi industri kayu lapis di tanah air.

Trump yang terkenal dengan slogan “Make America Great Again” itu banyak mengambil kebijakan yang menghantam negara mitra bisnisnya. Negeri tirai bambu, China, menjadi negara yang paling duluan disasar. Maklum, produk China dinilai sudah terlalu menguasai pasar dalam negeri AS. Untuk menjegalnya, sejumlah instrumen penghalang perdagangan pun dibuat. Termasuk untuk produk kayu lapis yang berbahan baku kayu keras (hardwood).

AS secara resmi telah mengenakan bea masuk anti dumping (BMAD) dan bea masuk imbalan (countervailing duty) kepada ratusan industri kayu lapis asal China. Besarannya pun tak tanggung-tanggung. “Bea masuk yang dikenakan mendekati 200%,” kata Gunawan Salim, pengurus Asosiasi Panel Kayu Indonesia (Apkindo) bidang Pemasaran dan Hubungan Internasional di kantornya,  Selasa (27/2/2018).

Berdasarkan pemberitahuan yang diumumkan Departemen Perdagangan AS lewat International Wood Products Association (IWPA), pengenaan BMAD dilakukan setelah investigasi yang dilakukan membuktikan adanya praktik dumping oleh produsen kayu lapis China yang membuat produsen kayu lapis AS mengalami kerugian (injury). Berdasarkan putusan Departemen Perdagangan AS, lebih dari 400 unit industri kayu lapis China dikenakan BMAD sebesar 183,3%. Putusan ini mulai berlaku terhitung 4 Januari 2018. Meski demikian pengenaan BMAD mulai diperhitungan sejak Juni 2017.

Selain BMAD, Departemen Perdagangan AS juga mengenakan bea masuk imbalan untuk produk kayu lapis China karena dinilai mendapat subsidi yang mengakibatkan produsen kayu lapis AS menderita kerugian. Sebanyak 60 industri kayu di China dikenakan bea masuk imbalan sebesar 194,9%, sementara dua industri lainnya dikenakan 22,9%. Seperti pengenaan BMAD, kebijakan itu berlaku mulai 4 Januari 2018, meski demikian mulai diperhitungkan sejak April 2017.

China selama ini memang menguasai pasar kayu lapis impor di AS. Berdasarkan data Departemen Pertanian AS, tahun 2016, dari total 3,1 juta m3 kayu lapis yang diimpor AS, sebanyak 1,8 juta berasal dari China atau sekitar 58%. Nilainya sekitar 1 miliar dolar AS.

Sementara tahun 2017, AS mengimpor kayu lapis dari seluruh dunia sebanyak 2,9 juta m3. Sebanyak 1,3 juta m3 berasal dari China atau sekitar 48% dengan nilai 809 juta dolar AS.

Sentimen positif

Kebijakan AS pun menjadi sentimen positif bagi produk kayu lapis Indonesia. Pengenaan bea masuk tambahan bagi produk China membuat importir AS mengalihkan sumber pembelian ke negara lain, termasuk Indonesia. “Ini menjadi peluang bagi Indonesia untuk meningkatkan ekspor kayu lapis,” kata Direktur Utama PT Nagabhuana Aneka Piranti, Gunawan Wijaya pada kesempatan terpisah.

Di pasar AS, Indonesia saat ini ada di urutan kedua setelah China. Ekspor produk kayu lapis Indonesia pada tahun 2016 sebanyak 321.799 m3 senilai 203,4 juta dolar AS dan pada tahun 2017 sebanyak 372.051 m3 senilai 224,9 juta dolar AS.

Direktur PT Kayu Lapis Indonesia, Buniadi Makmur menjelaskan, peluang di pasar AS bisa ditangkap oleh mereka yang memproduksi kayu lapis kelompok ‘general purposes’. “Kayu lapis kelompok itu yang biasa diproduksi China,” katanya.

Kayu lapis jenis ini berukuran tebal dan bisa memanfaatkan bahan baku kayu dari tanaman. Buniardi menyatakan, produk kayu lapis ini bisa diproduksi dengan memanfaatkan kayu sengon, jabon, atau kayu dari pohon buah-buahan.

Tapi, asal tahu, produk kayu lapis Indonesia yang biasa di ekspor ke AS selama ini umumnya memiliki ketebalan 2,7 milimeter (mm). Ini adalah produk premium yang diproduksi dengan memanfaatkan kayu dari hutan alam. Produk ini biasa dimanfaatkan untuk pembuatan mobil karavan. Mobil ini dimanfaatkan warga AS untuk wisata keliling menjelajah negerinya.

Untungnya, ungkap Buniardi, saat ini terjadi kenaikan permintaan mobil karavan. Hal ini terjadi karena banyak masyarakat AS yang memasuki masa pensiun. Mereka adalah generasi baby boomer, merujuk pada ledakan kelahiran pasca perang dunia II. “Masyarakat AS yang suka memanfaatkan mobil karavan adalah mereka yang sudah pensiun. Nah, sekarang, banyak generasi baby boomer yang masuk masa pensiun,” kata Buniardi menganalisa.

Dampak dari adanya tambahan permintaan dari AS, harga kayu lapis Indonesia mulai merangkak naik. Jika biasanya harga kayu lapis berada di rentang 600-700 dolar AS per m3, kini sudah ada di kisaran 800-820 dolar per m3 FOB. Bahkan, untuk ukuran khusus harganya bisa mencapai 1.000 dolar AS per m3.

Baca Juga:

Peluang Pasar Kayu Lapis AS

Giliran Pasar Terbuka, Bahan Baku Sulit

Tak mudah

Meski ada peluang bagi industri plywood di tanah air, namun Gunawan Salim mengaku bukan hal mudah untuk meraihnya. Pertama, adanya perbedaan segmen produk plywood Indonesia dengan permintaan pasar AS yang selama ini diisi oleh produk China. “Kita punya niche market yang berbeda. Meski secara volume tidak besar, namun nilainya lebih tinggi,” kata dia.

Di sisi lain, produsen kayu lapis Indonesia yang berbasis kayu tanaman juga tak mudah untuk memanfaatkannya, karena banyak persyaratan yang mesti dipenuhi. Misalnya soal standar emisi formaldehida yang diatur berdasarkan California Air Resources Board (CARB). Produk kayu berbasis kayu tanaman lebih sulit memenuhi standar tersebut. Ini pengaruh faktor sifat kayu tanaman yang lebih mudah mengemisi bahan formaldehida.

Tantangan lain, ungkap Gunawasan Salim adalah ketersediaan bahan baku. Dia mengungkapkan, saat ini terjadi kelangkaan bahan baku kayu — baik untuk kayu tanaman maupun untuk kayu yang berasal dari hutan alam.

Langkanya kayu tanaman karena ada persaingan dengan industri lain, yaitu barecore. Industri ini bisa memanfaatkan log berdiameter kecil di kisaran 20-30 cm saja. Petani lebih suka memproduksi log berukuran itu karena daur panennya lebih pendek, hanya 3-4 tahun. Sementara log yang dbutuhkan industri plywood berbasis kayu tanaman rata-rata berkisar 40-50 cm dengan daur panen 6-7 tahun.

Sementara kayu hutan alam mengalami kelangkaan akibat dampak iklim basah yang terjadi sepanjang tahun lalu. “Tingginya intensitas hujan tahun lalu menggangu aktivitas penebangan,” katanya.

Akibat shortage kayu saat ini, harga pun melonjak. Log meranti yang dulu cuma Rp1,5 juta kini sudah mencapai Rp2 juta-Rp2,5 juta di luar Dana Reboisasi, Provisi Sumber Daya Hutan (PSDH) dan pajak tambahan lain. “Sudah mahal, dicari pun tak ada barangnya,” kata Gunawan Salim.

Dia berharap situasi ini bisa segera diatasi, meski tak mungkin tuntas dalam waktu dekat.

Hal lain yang juga perlu dituntaskan untuk memicu industri kayu lapis adalah penciptaan iklim usaha yang lebih baik. Salah stau caranya adalah dengan membuat kebijakan yang tepat untuk meningkatkan daya saing industri kayu lapis di tanah air. “Misalnya soal pengenaan PPN Log yang harus direvisi,” kata Gunawan salim.

Dia menjelaskan, log sejatinya belum menghasilkan nilai tambah sehingga tidak tepat pemerintah mengenakan PPN. Memang, PPN log bisa direstitusi jika telah dibuat produk kayu olahan untuk kemudian diperdagangkan. Namun prosesnya makan waktu, bahkan hingga tahunan dan belum tentu permohonan restitusi cair seluruhnya.  Sugiharto