Agroforestry Untuk Pulihkan Citarum

0
131
Hulu Sungai Citarum

Revitasi Sungai Citarum telah dicanangkan oleh Presiden Joko Widodo. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan menghijaukan kembali hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum yang memasok air bagi Sungai terpanjang di Jawa barat itu. Pola Agroforestry menjadi pilihan untuk memastikan lahan kembali hijau tanpa mengurangi pendapatan petani.

Kepala Subdit Pemolaan, Direktorat Perencanaan dan Evaluasi Pengendalian Daerah Aliran Sungai, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, M. Saparis Soedarjanto mengungkapkan saat ini sungai Citarum sudah tercemar dari sampah dan limbah industri  “Kalau ada suplai dari industri dan lainnya, menyebabkan peningkatan beban pencemaran. Jika sudah tercemar tidak bisa pakai instalasi pengolahan air limbah karena sudah masuk ke aliran sungai,” kata Saparis saat meninjau lokasi RHL DAS Citarum, di Kampung Babakan Cianjur, Desa Malasari, Kecamatan Cimaung, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Rabu (28/02/2018).

Di sisi lain, sungai Citarum juga menghadapi persoalan lahan kritis dan berkurangnya ruang terbuka hijau. Hal ini berdampak pada menurunnya fungsi dan daya dukung DAS sebagai sistem pengatur tata air yang berpotensi menyebabkan masalah baru seperti kekeringan dan banjir.

Upaya yang cepat dan tepat dalam penanganannya pun dilakukan, baik melalui kegiatan percepatan rehabilitasi hutan dan lahan (RHL) pada daerah prioritas dan pembangunan bangunan konservasi tanah dan air (KTA) untuk mengurangi laju sedimentasi. Pelaksanaan RHL dalam rangka penanganan DAS Citarum dilakukan dengan RHL Konvensional, RHL Areal Seeding, Agroforestry.

Untuk diketahui, DAS Citarum meliputi 10 Kabupaten dan 2 Kota dengan luas 690.571,57 hektare (ha) dengan lahan kritis seluas 79.548 ha dari kawasan hutan seluas 38.963 ha dan luar kawasan hutan 40.585 ha.

Kegiatan RHL yang  telah dilaksanakan dari tahun 2015- 2017 seluas 18.925 ha.  Pada tahun 2018 dialokasikan anggaran sebesar Rp38 miliar untuk reboisasi 2.500 ha, pemeliharaan tahun pertama reboisasi 5.000 ha, pemeliharaan tahun pertama agroforestry 555 ha, pemeliharaan tahun kedua agroforestry 320 ha, kebun bibit rakyat 12 unit.

“Program penanaman sudah berjalan sejak lama hingga sekarang tetap berjalan. Hal tersebut, secara konteks dari hulu akan menghasilkan air dengan jumlah yang banyak dan kualitas baik sehingga dapat menurunkan konsentrasi pencemar di sungai,” jelasnya.

Saparis menyampaikan, lewat kegiatan RHL yang sudah dilakukan erosi pada lahan kritis DAS Citarum hulu dengan total 6.103.017 ton per tahun telah turun menjadi 5.280.849 ton per tahun. Kontribusi hasil kegiatan tahun 2015-2017 akan kembali menurunkan erosi menjadi 2.323.585 ton per tahun dengan semua lahan kritis tersisa direhabilitasi.

Saparis menekankan pentingnya pengembangan agroforestry di DAS Citarum. Agroforestry adalah pola pemanfaatan lahan yang mengkombinasikan tanaman keras dengan tanaman semusim. Menurut dia, agroforestry diperlukan mengingat lahan-lahan kritis inipun merupakan milik masyarakat. Sehingga, mereka tidak menolak lahan-lahannya dihijaukan karena akan memberi nilai ekonomi. “Selain ditanami tumbuhan kuat seperti kayu, dengan agroforestry inipun lahan-lahannya ditanami kopi, tomat, dan apapun yang memberi nilai ekonomi,” katanya.

Saparis menyatakan perlu ada kegiatan penyuluhan pada kegiatan agrofotesry yang sudah berjalan. Ini untuk memastikan tujuan dari agroforestry yaitu agar daya dukung lahan bisa dipulihkan sekaligus tetap memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat bisa tercapai.

Apalagi, pohon kayu baru bisa dipanen setelahg 5 tahun. “Pohon kayu panen 5 tahun tidak akan mungkin menunggu panen ini begitu lama tidak mungkin masyarakat tidak makan. Harus ada nilai ekonomi yang pendek seperti hortikultura,” ungkapnya.

Saparis optimistis, target pemerintah yang akan menuntaskan persoalan di Citarum selama 7 tahun bisa tercapai. Asalkan, semua pihak memiliki komitmen yang sama untuk mengatasinya. “Dengan catatan di sini, yang lain juga digerakkan. Kita persoalannya sinergi, koordinasi,” katanya.

Saparis menilai, perlu instrumen baku untuk menyinergikan seluruh unsur terkait. Salah satunya dengan aturan terkait penataan ruang yang memiliki keberpihakan terhadap konservasi kawasan hulu. Yakni, melalui aturan tata ruang yang jelas.

Ia berharap, setiap wilayah hulu difungsikan sebagai kawasan lindung sehingga mampu mencegah terjadinya kerusakan yang mengakibatkan bencana. Terlebih, menurutnya dengan menjadikan wilayah hulu sebagai kawasan lindung, sama dengan menambah penampungan air yang kapasitasnya lebih besar dibanding waduk buatan.

Produktif

Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Kopeng Sari, Sahru Suhendar menjelaskan, agroforestry merupakan program yang telah dicanangkan 2015. Hal tersebut, menjadikan lahan yang tidak ditanami dan penuh ilalang menjadi lahan yang produktif.

Lewat program tersebut, petani juga mendapatkan cara bertanam pohon kayu yang benar yaitu dengan berjenjang dan lorong.

“Dulu hanya lahan tidur tidak ditanami apapun. Pada saat tahun 2015 program berjalan dan ditanami kayu dan beberapa komoditas sebagai tumpang sarinya seperti kopi, kacang dan tomat. Untuk tanaman kayu terdiri dari mindi, siren, dan gmelina,” katanya.

Meski demikian Sahru menjelaskan, beberapa waktu belakangan ini agroforestry terbengkalai bahkan dibiarkan begitu saja. Hal tersebut, dikarenakan biaya produksi tidak menutupi hasil yang didapat.

“Petani sudah mengeluarkan modal yang cukup banyak tapi sayangnya hal tersebut tidak sebanding dengan hasil yang didapat,” jelasnya.

Menurut Sahru, kelompok tani lebih fokus pada budidaya sawi yang lebih menguntungkan dibandingkan tanaman kayu. Pasalnya, sayuran sawi sekali angkut mendapatkan omset Rp20 juta dalam 10 hari. Sementara pohon kayu harus menunggu 5 tahun panen.

“Kalau sawi satu kali angkut saja sudah menghasilkan Rp20 juta per 10 hari,” katanya.

Merespons hal itu, Saparis menambahkan, pentingnya peyuluh dalam hal ini untuk meningkatkan kepedulian masyarakat setempat terhadap agroforestry dan juga mengajak untuk mencari potensi sebagai nilai tambah dari sisi ekonomi atau tumpang sari.

Dia mengajak petani untuk menubah pola pikir mengingat pentingnya pengembalian daya dukung lahan. Dia juga menyatakan, agroforestry pun sejatinya menguntungkan jika dikelola dengan baik. “Pola pikir masyarakat harus diubah dan peran penyuluh juga berpengaruh dalam hal tersebut, contohnya seperti tempat lain yang sukses terhadap program agroforestry di daerah Jawa Tengah,” pungkasnya. Sabrina