Peluang Pasar Kayu Lapis AS

0
1079

Indonesia berpeluang meningkatkan ekspor kayu lapis ke pasar Amerika Serikat (AS) yang selama ini dikuasai China. Pasalnya, produk plywood China dikenakan bea masuk antidumping ratusan persen dan sulit bersaing. Persoalannya, mampukah?

Sikap proteksi Amerika Serikat terus menelan korban dan bisa memicu perang dagang. Kali ini, meski kurang elok, keputusan Departemen Perdagangan AS menerapkan bea masuk antidumping (BMAD) dan bea masuk imbalan (countervailing duty) terhadap kayu lapis (plywood) China membuka peluang besar Indonesia merebut kembali pasar plywood Amerika.

Departemen Perdagangan (Depdag) AS mengumumkan pengenaan BMAD setelah investigasi yang dilakukan membuktikan adanya praktik dumping oleh produsen kayu lapis China, yang membuat produsen kayu lapis AS mengalami kerugian (injury). Berdasarkan putusan Depdag AS, lebih dari 400 unit industri kayu lapis China dikenakan BMAD sebesar 183,3%. Putusan ini mulai berlaku terhitung 4 Januari 2018.

Selain BMAD, pemerintah AS juga mengenakan bea masuk imbalan untuk produk kayu lapis China karena dinilai mendapat subsidi yang mengakibatkan produsen kayu lapis AS menderita kerugian. Sebanyak 60 industri kayu di China dikenakan bea masuk imbalan sebesar 194,9%, sementara dua industri lainnya dikenakan 22,9%.

Ini jelas peluang emas, terutama untuk merebut kembali posisi yang pernah dipegang sebagai eksportir kayu lapis terbesar di pasar Amerika. Sejauh ini, untuk hardwood plywood, China masih mendominasi. Dari 2,9 juta m3 impor kayu lapis AS tahun 2017, sebanyak 1,3 juta m3 berasal dari China dengan nilai devisa 809 juta dolar AS. Indonesia sendiri di urutan kedua dengan pangsa pasar tahun 2017 sebanyak 372.051 m3 senilai 224,9 juta dolar AS.  “Ini menjadi peluang bagi Indonesia untuk meningkatkan ekspor kayu lapis,” kata Direktur Utama PT Nagabhuana Aneka Piranti, Gunawan Wijaya.

Yang jadi soal, apakah Indonesia mampu memproduksi kayu lapis kelompok general purposes yang banyak diminta pasar AS dan biasa dipasok China? Secara teknis tidak masalah. Hanya saja, saat  ini industri juga sedang kekurangan bahan baku kayu alam akibat musim hujan. Di sisi lain, penggunaan kayu tanaman butuh diameter 40-50 cm, sementara petani lebih suka memanen cepat dengan diameter 20-30 cm. Kondisi itu diperberat karena harus bersaing memperoleh bahan baku dengan industri barecore.

Yang tak kalah pelik, kayu tanaman juga agak sulit memenuhi standar emisi formaldehida California Air Resources Board (CARB). Itu sebabnya, Gunawan Salim, pengurus Asosiasi Panel Kayu Indonesia (Apkindo) bidang Pemasaran dan Hubungan Internasional, mengaku tidak mudah merebut pangsa pasar yang ditinggal China. Hanya saja, “kita punya niche market yang berbeda. Meski secara volume tidak besar, tapi nilainya lebih tinggi,” katanya. AI

Baca juga:

Ada Peluang, tapi Tidak Mudah

Giliran Pasar Terbuka, Bahan Baku Sulit