Bambu Untuk Masyarakat Ngada

0
165
Bambu di Kampung Ture Tugo, Ngada (foto-foto: Mawardah Nur H)

Kabupaten Ngada dan Bambu seolah tak terpisahkan. Di Kabupaten yang merupakan bagian dari Provinsi Nusa Tenggara Timur itu, hamparan bambu bisa kita lihat di sepanjang jalan. Masyarakatnya pun terbiasa memanfaatkan hasil hutan bukan kayu  (HHBK) itu. Bahkan pembangunan Bandara Soa Bajawa, menggunakan bambu sebagai rangka.

Hal ini pula yang melatarbelakangi kerja sama antara Badan Litbang dan Inovasi (BLI) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), International Tropical Timber Organization (ITTO) dengan Yayasan Bambu Lestari (YBL) dan pusat riset agroforestri Internasional, ICRAF.

Kerja sama mencakup pembuatan Bangunan Pengawetan Bambu Sistim Pengasapan, pengembangan pusat pelatihan sekolah lapang bambu dan sekaligus menjadi community center desa bambu Kecamatan Golewa, Kabupaten Ngada.

Project Manager kegiatan tersebut, Desi, mengungkapkan fokus utama untuk kegiatan ini adalah pemberdayaan masyarakat. Salah satu caranya adalah dengan membantu memperkenalkan teknologi pengawetan dan pengolahan bambu. Selain itu juga diperkenalkan teknik pengolahan bambu dengan mesin bernama ‘geprean’. Mesin ini berguna untuk memipihkan bambu menjadi semacam karpet atau bahan baku woven. Semula aktivitas ini memakan waktu 12–15 menit tergantung keahlian si pengolah, namun dengan mesin ini kegiatan tersebut dapat dilakukan dalam 4 detik saja.

“Kendalanya hanya di mesinnya yang masih mahal, ini didatangkan dari China dan jauh lebih murah dari yang ada di sini,” ujar Desi di sela kegiatan Peresmian Bangunan Pengawetan Bambu dan Peluncuran Kerja Sama pada 21-23 Maret 2018.

Pemilihan Ngada sebagai pusat pengembangan bambu dikarenakan kecocokan lingkungan daerah tersebut terhadap pertumbuhan bambu. Selain itu, kearifan lokal pada wilayah tersebut juga mendukung kegiatan budidaya bambu. Menurut Direktur Yayasan Bambu Lestari Arief Rabik sedikitnya sudah ada 60 masyarakat yang tertarik bergabung dengan kegiatan di Kecamatan Golewa ini.

“Selain lingkungannya yang cocok untuk pertumbuhan bambu, masyarakat di sini pun sangat membutuhkan bambu,” ujar dia.

Adapun luas wilayah pemanfaatan bambu untuk community center yang digadangkan oleh Arief adalah seluas 3 hektare (ha). “Ada bambu yang baru ditanam satu bulan sudah tumbuh sekitar 7 meter, tapi kendala dari bambu itu mudah diserang oleh berbagai macam organisme itu yang harus dipikirkan cara pengawetannya,” katanya.

Teknik pengawetan yang dikenalkan kepada masyarakat adalah teknik pengasapan. Tenik ini memerlukan waktu 24 jam saja. Dibandingkan dengan metode pengawetan dengan bahan kimia metode ini tergolong lebih ramah lingkungan. Bambu yang digunakan harus yang berumur 4 tahun agar uratnya sudah padat sehingga pengawetan dapat dilakukan dengan lebih efektif. Pada prinsipnya tujuan dari pengawetan ini adalah untuk mengeluarkan karbohidrat yang ada di dalam bambu dan membiarkan pengawet masuk ke dalam jaringan.

Oleh karena itu, menurut Arief setelah pemanenan maka kegiatan pengawetan harus segera dilakukan karena jika dibiarkan kering maka karbohidrat akan membeku di dalam jaringan dan membutuhkan upaya pengawetan dua kali lipat dari yang dilakukan semula.

Teknik ini dimulai dengan melubangi bambu agar larutan pengawet dapat meresap ke dalam jaringan. Setelah didapatkan kekentalan yang diinginkan maka bambu direndam ke dalam larutan sekaligus diasapi selama 6 jam. Setelah itu bambu dibiarkan selama 18 jam sebelum akhirnya bisa dimanfaatkan oleh masyarakat. “Kalau digunakan untuk kebutuhan indoor diperkirakan bisa awet hingga 100 tahun,” tutur Arief.

Teknik pengawetan bambu dengan pengasapan
Teknik pengawetan bambu dengan pengasapan

Mengenalkan Dengan Musik

Bambu memiliki nilai ekonomi penting, tidak hanya bagi masyarakat Ngada tetapi juga bagi masyarakat Indonesia. Menurut Communications and Resources Development Director Yayasan KEHATI Fardila Astari, nilai ekspor produk bambu Indonesia mencapai Rp6 triliun. Ini membuat Indonesia menduduki peringkat ketiga untuk ekspor bambu dunia di bawah Cina dan India. “Kita baru menguasai pagsa pasar sekitar 10%. Intinya adalah mendorong kreativitas pengrajin bambu agar dapat menarik minat pasar terhadap bambu produksi Indonesia,” ujar Fardila.

Di sisi lain, Fardila juga menekankan pentingnya bambu dalam rangka konservasi lingkungan dan ekosistem. Ia menyebutkan bahwa bambu memiliki nilai vital terhadap kelestarian lingkungan sehingga dalam pemanfaatannya harus dilakukan secara lestari. “Banyak yang membabat bambu kalau dibiarkan bisa merusak ekosistem padahal bambu memiliki fungsi vital yaitu meningkatkan cadangan air tanah, memproduksi oksigen, dan dalam perawatannya tidak perlu perawatan khusus,” tutur Fardila.

Pemberdayaan masyarakat sangat penting dalam mendorong kelestarian bambu. Untuk mendukung kelestarian ini maka diperlukan suatu sistem silvikultur dan pembelajar mengenai cara pengelolaan tanaman dengan cara peningkatan kualitas penyuluh, dan mendorong pemberdayaan perempuan dalam rangka pemanfaatan HHBK.

“Dengan adanya ketertarikan masyarakat terhadap pengembangan bambu, harus dimanfaatkan dengan baik hal ini selagi masih hangatnya isu bambu dan didukung oleh berbagai pihak dalam pengembangannya,” kata Regional Coordinator for ICRAF the World Agroforestry Center Aulia Perdana.

Rencana Pemanfaatan Bambu di KPHL

Ke depan  selain bekerja sama dengan masyarakat, upaya pemanfaatan bambu ini juga akan dilakukan dengan Unit Kesatuan Pengelolaan Hutan Lindung (KPHL) Ngada. KPHL Unit IV Ngada merupakan unit Kesatuan Pengelolaan Hutan Lindung yang wilayah administrasinya meliputi Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur yang dimandatkan melalui SK.591/Menhut-II/2010/28/11/2017 dengan luas 35.734,22 Ha.

Menurut Kepala Seksi Perencanaan dan Pengelolaan Hutan KPHL Ngada Ary Khrun Loke nantinya akan ada 3-4 Desa yang direncanakan bekerja sama untuk pembibitan bambu ini. Namun, hal ini masih akan dipastikan kembali mengingat KPHL Ngada masih dalam proses pembuatan RPHJP. Sejauh ini beberapa desa yang mungkin akan dilibakan di antaranya adalah Desa Nginamanu, Desa Denatana, Desa Wue, dan Desa Wolomeze.

Ary mengatakan sebelumnya memang sudah ada informasi mengenai niatan dari pihak program ini untuk bekerja sama. Namun, saat ini pihaknya masih berkonsentrasi dalam pembuatan RPHJP terlebih dahulu. “Rencananya ada sekitar 3-4 desa yang akan diikutsertakan dalam program ini tapi ini masih belum dipetakan, akan kami petakan terlebih dahulu,” tutur Ary.

Menurut Ary, budidaya bambu seharusnya mudah dilakukan di wilayah KPHL Ngada karena bambu sudah menjadi hal yang lumrah di sana. Selain itu, budidaya bambu ini juga dapat dimanfaatkan untuk penghijauan di beberapa daerah di sana. Sejauh ini, Ary menerangkan sebagian besar masyarakat bermata pencaharian sebagai peladang. Untuk potensi hasil hutan bukan kayu yang paling banyak dimanfaatkan sebagian besar berupa kemiri, itu pun masih diproduksi untuk kebutuhan sehari-hari saja. Namun, Ary tetap optimis bahwa pemanfaatan bambu ini akan bermanfaat bagi masyarakat di Ngada.

Berdasarkan data yang dimiliki oleh KPHL Ngada beberapa komoditas unggulan hasil hutan bukan kayu (HHBK) di KPHL Ngada saat ini diantaranya adalah kemiri, bambu, asam biji, rotan, kayu manis, cendana, pinang, dan kopi. Adapun bambu merupakan komoditas tertinggi ketiga di KPHL Ngada dari segi produksi dengan estimasi 300 ton, di urutan pertama ada kayu cendana dan kopi di urutan kedua.

Sejauh ini pemanfaatan bambu masih dilakukan secara swakelola tanpa adanya bantuan sarana dan prasarana yang mumpuni, seperti mesin pencacah.

Mawardah Nur H, Staf pada Direktorat KPHL, KLHK