Industri akan Serap Garam Petani 1,43 Juta Ton

0
961

Industri pengolah garam berkomitmen melakukan penyerapan garam hasil produksi dalam negeri  sebanyak 1.430.000 ton pada tahun 2018. Komitmen itu dituangkan dalam penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara industri pengolah garam dengan petani garam lokal yang difasilitasi oleh Kementerian Perindustrian.

“ Kami berkomitmen untuk membantu petani garam lokal dengan menyerap hasil produksi mereka,” kata Ketua Asosiasi Industri Pengguna Garam Indonesia (AIPGI) Toni Tanduk, usai  acara Penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) Penyerapan Garam oleh Industri di Jakarta, Kamis (05/04/2018).

Menurutnya, garam produksi petani lokal itu nantinya akan dibeli sesuai dengan harga pasar dan tergantung dengan kualitas garam itu. Untuk garam kualitas I, industri pengolah akan ebeli dengan harga sekitar Rp1.500 perkilogram. Sementara garam kualitas II akan dibeli dengan harga sekitar Rp 1.000 – Rp 1,200 per kilogram. Sedangkan untuk garam kualitas III, harga pembeliannya sekitar Rp 800 per kilogram/

Harga pembelian itu, ungkap Toni, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan harga garam impor yang hanya sekitar 50 dolar AS/ton atau sekitar Rp 600 per kilogram.

“Tapi kami kan harus membantu petani garam di dalam negeri agar mereka juga bisa terserap produksinya,” ujarnya.

Dalam pidatonya di acara penandatanganan MoU itu, Menperin Airlangga Hartarto menjelaskan, garam merupakan komoditas strategis yang penggunaannya sangat luas mulai untuk konsumsi rumah tangga hingga diperlukan sebagai penopang proses produksi di industri aneka pangan, pengeboran minyak, petrokimia, bahkan industri popok bayi. “Kalau makanan tanpa garam, tentu rasanya hambar. Selain itu, tidak ada produk kertas yang tercetak jika tanpa garam,” ungkapnya.

Kemenperin mencatat, kebutuhan garam nasional tahun 2018 diperkirakan sebanyak 4,5 juta ton yang terdiri atas kebutuhan industri sebesar 3,7 juta ton dan konsumsi sekitar 800 ribu ton. Sementara itu, guna mendukung keberlanjutan produksi di sektor industri, pemerintah telah menerbitkan izin impor garam industri pada tahun 2018 sebesar 3,016 juta ton.

Dengan kebutuhan garam yang tinggi tersebut, pemerintah juga berharap ada yang bisa dihasilkan dari produksi dalam negeri. “Dalam hal ini, Bapak Presiden Jokowi telah memberikan arahan untuk dapat mengoptimalkan penyerapan garam lokal hasil dari para petani kita,” jelas Ailrangga.

Selain itu,  pemerintah juga mendorong pengembangan beberapa klaster penghasil garam di dalam negeri. Salah satunya yang memiliki potensi adalah di Kupang, Nusa Tenggara Timur.

“Selain itu, kepada industri, ditugaskan untuk kerja sama dengan petani garam sebagai pendukung nilai rantai industri pergaraman dari hulu sampai hilir,” imbuhnya.

Menperin mencontohkan, dengan kinerja industri aneka pangan yang mengalami pertumbuhan cukup tinggi, diharapkan dapat memacu peningkatan produktivitas petani garam dalam negeri. “Meskipun ada berbagai tantangan, seperti faktor curah hujan dan ketersediaan lahan, pemerintah telah memiliki program pembinaan teknis dan resi gudang dalam meningkatkan kualitas garam rakyat,” terangnya.

Pada tahap awal penyerapan, sebanyak 10 industri pengolah garam telah berkomitmen menyerap garam dalam negeri sebesar 964.500 ton dari 105 petani garam lokal.

Ke-10 industri pengolahan garam yang menandatangani nota kesepahaman tersebut adalah Sumatraco Langgeng Makmur dan Susanti Megah. Selanjutnya, Budiono Madura Bangun Persada, Niaga Garam Cemerlang, Unichem Candi Indonesia, Cheetam Garam Indonesia, Saltindo Perkasa, Kusuma Tirta Perkasa, Garindo Sejahtera Abadi dan Garsindo Anugerah Sejahtera.

Dirjen Industri Kimia, Tekstil, dan Aneka (IKTA) Achmad Sigit Dwiwahjono menyampaikan, daerah-daerah penyerapan garam antara lain di Jawa Barat meliputi Cirebon, Indramayu, dan Karawang. Untuk Jawa Tengah terdiri dari Demak, Jepara, Rembang, dan Pati.

Kemudian, Jawa Timur mencakup Sumenep, Pamekasan, Sampang, Bangkalan, dan Surabaya. Di Sulawesi Selatan terdiri atas Takalar dan Jeneponto. Sedangkan, Nusa Tenggara Barat dari Bima, serta Nusa Tenggara Timur terdiri dari Nagekeo dan Kupang. Buyung N