Proyek Bagi-bagi di Tahun Politik

0
32

Kementerian Pertanian (Kementan) menggelontor anggaran sekitar Rp1 triliun untuk mengentaskan kemiskinan melalui program bedah kemiskinan rakyat sejahtera atau ‘Bekerja’ di 10 provinsi. Namun, proyek padat karya di sektor pertanian ini dinilai tidak produktif karena bantuan yang diberikan tidak sistematis dan bersifat instan. Inilah proyek tahun politik.

Proyek bedah kemiskinan rakyat sejahtera atau Bekerja memang fantastis. Bayangkan, selama tahun 2018 ini Kementan akan menyerahkan 10.000.000 ekor ayam bukan ras (buras), terutama ayam kampung, di 1.000 desa. Tiap kepala keluarga (KK) akan menerima 50 ekor ayam, berikut kandang dan pakannya. Inilah proyek padat karya tunai jangka menengah, selain jangka pendek dan panjang dengan harapan mengentas kemiskinan secara permanen.

“Sesuai dengan pencanganan Presiden Joko Widodo pada tanggal 3 November 2017 saat Rapat Kerja Terbatas (Ratas), yaitu mengarahkan program mengentas kemiskinan dan berbasis padat karya. Kementan merespons dengan program Bekerja ini,” kata Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak Kementan, Sugiono saat ditemui di Gedung Kementan, Rabu (9/5/2018). Menurutnya, program ini membidik petani yang tak punya lahan dan memiliki keterbatasan aset, dengan tujuan meningkatkan produktivitas. Untuk saat ini, ada 200.000 rumah tangga miskin (RTM) pada 100 kabupaten di 10 provinsi.

Sanggupkah pemerintah mencari ayam kampung sebanyak 10 juta ekor? Ini yang menarik. Himpunan Peternak Unggas Lokal Indonesia (Himpuli), yang tidak dilibatkan langsung, mengaku sulit untuk mencari ayam kampung umur 2 bulan lebih. “Tidak ada persediaannya. Selama ini pengembangan ayam kampung juga tak pernah mendapat perhatian pemerintah,” ujar Ketua Himpuli, Ade M Zulkarnaen di Jakarta, Jumat (11/5/2018). Itu sebabnya, program ini tidak hanya memberi bantuan ayam, tapi juga kambing, bahkan kelinci. Itu yang terjadi di daerah Malang.

Tidak heran, proyek pengentasan kemiskinan ini mendapat kritik. Meski berniat baik, tapi keberhasilannya meningkatkan produktivitas diragukan. Apalagi mengentas kemiskinan. Padahal, tugas Kementan meningkatkan produktivitas di sektor pertanian, baik tanaman pangan, peternakan maupun perkebunan. “Upaya yang dilakukan pemerintah harus sistematis.  Tidak akan ada peningkatan produksi terjadi secara instan. Untuk meningkatkan produktivitas peternakan ayam, tidak bisa hanya bagi-bagi ayam,” ujar Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Enny Sri Hartati di Jakarta, Sabtu (12/5/2018).

Bahkan, proyek bagi-bagi ayam ini juga dinilai keliru oleh mantan Dirjen Peternakan Kementan, Prof. Muladno Bashar. Pasalnya, bantuan berupa ternak cukup rumit, terutama terkait pakan. Sebagai mantan Dirjen, Muladno bahkan mengaku masih ingat ucapan Presiden Joko Widodo sekitar tahun 2016, yang melarang memberikan bantuan ternak.

Anehnya, sekarang Kementan malah membagi-bagi ternak. “Saya termasuk orang yang tidak setuju dengan program bagi-bagi ternak, karena sulit mengukur tingkat keberhasilannya,” ujar Muladno. Ah, ini kan tahun politik, Prof. AI