Banjir Bandang di Banyuwangi, Ternyata Ini Penyebabnya

0
49
IB Putera Parthama

Banjir bandang yang terjadi di enam kecamatan di Kabupaten Banyuwangi, Kamis (21/6/2018) murni disebabkan karena curah hujan yang tinggi, bukan akibat pengundulan hutan. Hasil analisis menunjukan tutupan hutan di wilayah hulu tergolong cukup baik mencapai 60%.

Demikian dijelaskan Dirjen Pengendalian Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (PDASHL) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan IB Putera Parthama di Jakarta, Jumat (22/6/2018).

Putera menjelaskan, banjir bandang yang terjadi di Kecamatan Sragi, Songgon, Singojuruh, Glagah, Licin, dan Rogojampi Kabupaten Banyuwangi termasuk dalam Daerah Aliran Sungai (DAS) Bomo dan DAS Glondong.

“Dari analisis data liputan lahan dan debit banjir pada daerah tangkapan air lokasi hulu pemasok dan terdampak banjir, maka kejadian banjir disebabkan oleh curah hujan tinggi selama beberapa hari berturut-turut sehingga mengakibatkan tanah jenuh air,” katanya.

Dampaknya adalah peningkatan limpasan air permukaan. Tercatat, pada Daerah Tangkapan Air (DTA) di DTA Badeng 26,16 m3/detik dari kapasitas pengaliran 3,8 m3/detik, DTA Kumbo 41,86 m3/detik (kapasitas pengaliran 5,2 m3/detik), dan DTA Binaung 37,36 m3/detik (kapasitas pengaliran: 5,3 m3/detik).

Putera menambahkan, adanya longsor di kawasan hulu yang menyumbat aliran sungai kemudian membentuk bendungan alami menjadi penyebab lain banjir bandang. “Ketika curah hujan tinggi, bendungan tersebut tidak dapat menahan air dan mengakibatkan banjir bandang,” ujar Putera

Berdasarkan hasil analisis perubahan tutupan lahan tahun 2017, luas tutupan hutan di bagian hulu masih tergolong baik yaitu sekitar 60% (9.785,18 Ha) dari total luas penutupan lahan. Sedangkan luas kategori lahan kritis dan sangat kritis sebesar 2.078,10 Ha dari 13.826, 71 Ha.

Menurut Putera, sebagai upaya pencegahan banjir dan tanah longsor, KLHK telah melakukan rehabilitasi hutan lahan (RHL) melalui kegiatan RHL dari tahun 2010 sampai dengan 2016 seluas 383 Ha di kawasan DAS Bomo dan DAS Glondong. “Ke depan, KLHK akan menerapkan skema agroforestry seluas 30 Ha, dan RHL dalam kawasan hutan seluas 1.500 Ha dalam rangka mitigasi bencana banjir,” kata Putera. Sugiharto