Kopi Garut Potensial Tembus Pasar Ekspor

0
142
Kopi arabika

Kabupaten Garut memiliki potensi besar untuk bisa mengekspor kopi ke luar Negeri. Apalagi, kopi Garut memiliki aroma dan karakter yang khas. Untuk mewujudkan potensi tersebut, dukungan dari semua pemangku kepentingan mulai dari petani hingga pemerintah pusat sangat dibutuhkan.

Ekspor perdana kopi Garut sudah dilakukan, Senin (9/7/2018). Ekspor kopi jenis arabika ditujukan untuk pasar Taiwan. Volume kopi yang diekspor perdana mencapai 15 ton.

Wakil Bupati Garut Helmi Budiman sangat mengapresiasi dilakukannya ekspor kopi perdana ke Taiwan. “Ekspor untuk saat ini baru 15 ton. Padahal potensi kopi Garut sendiri sangat besar,” kata dia.

Ekspor perdana kali ini dilakukan langsung oleh petani yang tergabung dalam Kelompok Kopi Asli Urang Garut (KASUGA). Turut hadir dalam kesempatan itu, Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan Kementerian Pertanian (Kementan) Dedi Junaedi.

Helmi mengungkapkan, di Garut ada sekitar 5.000 hektare kebun kopi. Jika setiap hektare bisa menghasilkan kopi arabika berkualitas bagus sebanyak 1 ton, maka produksi kopi di Garut minimal 5.000 ton.

Dia menyatakan, potensi lahan kopi yang ada saat ini belum bisa direalisasikan dengan baik. Untuk itu, pemerintah Kabupaten Garut, pemerintah Pusat, dan asosiasi kopi di Jawa barat akan terus mendukung produksi kopi di Garut.

“Potensi lahan kopi masih luas, saya berharap ada dukungan sehingga produksi kopi Garut terus meningkat,” ungkapnya.

Helmi menjelaskan, walau ekspor perdana yang dilakukan baru 15 ton, namun ke depan sudah ada permintaan dari beberapa Negara lain sehingga bisa meningkatkan ekspor. Negara itu misalnya Ukraina, Uni Emirat Arab, dan Amerika Serikat.

“Untuk perdana ini baru 15 ton untuk kedepan sudah ada beberapa permintaan dari berbagai Negara. Ada yang 7 ton, ada yang 40 ton. Semoga kita dapat memenuhi akses dan berkelanjutan,” katanya.

Helmi menambahkan, kopi Garut berbeda dengan kopi karena memiliki ciri khas tersendiri. Kopi Arabika Garut memiliki aroma yang lebih menyengat dan labih enak. Ini membuat kopi Garut memiliki karakter sendiri. “Kopi Garut memiliki karakter yang seimbang. Ini merupakan potensi yang bisa menjadikan ekspor Indonesia lebih baik,” ungkapnya.

Helmi menjelaskan, ekspor komoditas ke luar negeri tidaklah mudah. Perlu ada komunikasi antar kedua belah pihak untuk sampai pada keputusan untuk ekspor. Pemerintah garut sendiri telah menjalin komunikasi selama tiga tahun terakhir agar buyer di berbagai negara mau menerima komoditas yang dihasilkan Garut.

“Pemerintah terus komunikasi kepada beberapa negara baik Eropa dan Timur Tengah. Beberapa waktu belakangan ini Garut dikunjungi para peminat kopi dari luar negeri. Untuk ekspor ini juga merupakan komunikasi selama 3 tahun terakhir dan sekarang bisa melakukan ekspor,” tegasnya.

Pelepasan ekspor perdana kopi petani Garut menuju Taiwan
Pelepasan ekspor perdana kopi petani Garut menuju Taiwan

Lebih lanjut Helmi menyatakan harapan agar Garut bisa menjadi pusat ekspor kopi Indonesia. Ini tentu saja bisa berdampak pada peningkatan perekonomian Garut dan tentu saja Indonesia.

Harapan lain dari peningkatan perdagangan dan ekspor kopi adalah peningkatan kesejahteraan petani kopi. Helmi juga berharap ada insentif dari pemerintah Pusat dan Provinsi agar produksi kopi bisa ditingkatkan.

Helmi menyatakan ekspor perdana kopi Garut merupakan kerja keras dari para petani. “Apa yang telah ditanam petani dan hasilnya bukan hanya di jual di Indonesia tetapi dapat keluar negeri. Saya bangga dengan Kelompok Kopi Asli Urang Garut (KASUGA),” jelasnya.

Kerja sama

Sementara itu, Wakil Kelompok Binaan KASUGA Christian menyatakan, petani Garut dapat melakukan ekspor kopi untuk pertama kalinya berkat kerja sama dari semua pihak baik pemerintah daerah maupun pusat.

“Terima kasih kepada dinas terkait  yang telah memberikan dukungan untuk dapat mengekspor kopi petani. Hal tersebut, juga dapat memajukan perkebunan kopi petani Garut,” jelasnya.

Menurut Chriatian, ekspor perdana iniakan berdampak pada peningkatan perekonomian masyarakat setempat. Jangka panjangnya tentu saja menjadikanGarut sejahtera dan maju. “Ekspor ini dapat membangun perekonomian Garut bisa lebih maju dan sejahtera,” katanya.

Sementara itu, perwakilan buyer kopi Garut Chachy menyampaikan, kopi Garut tidak kalah dengan kopi lainnya yang sudah dipasarkan di Taiwan. Sebab kopi Garut lebih wangi dan enak dari pada yang kopi lain.

Hal ini, juga menjadikan Kopi Garut banyak diminati masyarakat Taiwan. “Sebagian besar orang Taiwan lebih banyak mengetahui kopi Garut. Kopi Garut tidak kalah baik dan enaknya dibandingkan kopi mana pun. Rasa kopi garut lebih wangi dan lebih seimbang dari pada lainnya,” katanya.

Sementara itu, Direktur PengolahandanPemasaran Hasil Perkebunan Kementerian Pertanian (Kementan) Dedi Junaedi menjelaskan, momen ini menjadikan tolok ukur untuk memajukan kopi di Garut. Apalagi selain ekspor ke Taiwan juga akan ada ekspor susulan ke negara lainnya.

“Momen ini sangat penting bagi (Kementan) untuk mendukung ekspor ke Taiwan. Selanjutnya ada permintaan lagi ke Ukraina. Luar biasa peran petani Garut, pemerintah akan terus memberikan dukungan dan semangat,” tegasnya.

Menurut Dedi, kopi merupakan komoditas strategis yang telah menjadi prioritas Kementan. Namun, dalam hal dana yang dikeluarkan dari APBN terbilang kecil sehingga perlu adanya himpunan dana dari setiap kelompok tani dan juga pelaku usaha.

Pemerintah pusat, akan membuat sistem perekonomian yang berlembaga dimana petani dapat bergabung dengan kelompok tani dan dapat membangun koperasi berbasis korporasi.

“Program ini akan digali dan didorong, pemerintah sangat mendukung karena tugas pemerintah membuat ekonomi yang berlembaga,” jelasnya. Sabrina