‘Panglima’ Lalat Tentara

0
924
Profesor Agus Pakpahan

Lama tak mendapat sorotan media, Profesor Agus Pakpahan ternyata masih terus berkarya.  Pria kelahiran Sumedang yang terakhir menduduki jabatan publik sebagai Deputi Menteri BUMN itu rupanya masih terus aktif sebagai peneliti. Selain itu, Doktor bidang Ekonomi Agrikultur dari Universitas Michigan, Amerika Serikat ini juga banyak aktif di berbagai kegiatan sosial.

Salah satunya, sebagai Senior Advisor organisasi lingkungan hidup dan kehutanan Forest For Life Indonesia, Agus mempromosikan teknologi biokonversi untuk pengelolaan sampah organik.

Inilah teknologi yang bisa menyelesaikan banyak persoalan terkait pengelolaan sampah di tanah air. Selain mengelola sampah basah, teknologi ini secara biologis membantu memberantas penyakit tropis, menyediakan pupuk untuk pertanian yang lebih sehat, dan menyediakan bahan pakan untuk ternak sehingga bisa menekan impor.

“Teknologi ini mengoptimalkan peran lalat tentara hitam atau black soldier fly (BSF),” kata Agus yang ditahbiskan sebagai Profesor riset pada tahun 2013.

Lalat? Mendengarnya yang terbayang adalah serangga jorok penebar penyakit. Namun, Agus menegaskan, lalat tentara hitam (Black Soldier Fly) yang punya nama latin Hermetia illucens, berbeda jauh dengan lalat jorok (Musca domestica). “BSF ini lalat yang bersih. Dia tidak punya mulut jadi tidak akan hinggap di makanan. Siklus hidup BSF dewasa pun cukup singkat, hanya untuk kawin dan bertelur, tak lama mati,” katanya.

Untuk tahu bagaimana teknologi  biokonversi bisa membantu pengelolaan sampah Agro Indonesia sempat berbincang-bincang dengan pria yang sejak dulu dikenal sangat perhatian dengan ekonomi pertanian ini saat peresmian proyek uji coba pengelolaan sampah organik dengan teknologi biokonversi di Langsir, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), Senin (9/7/2018). Proyek ujicoba itu merupakan kerja sama antara pemerintah Provinsi NTB dengan Forest For Life Indonesia serta mendapat dukungan dari Yayasan Korindo, Yayasan Jaya ESNI. Berikut petikannya.

Bisa dijelaskan apa sebenarnya teknologi biokonversi ini?

Secara sederhana, teknologi ini akan mengurai sampah basah menjadi pupuk cair dan kompos, serta protein untuk pakan ternak dengan memanfaatkan proses biologis. Di sini, prosesnya memanfaatkan serangga Hermetia illucens atau populer sebagai Black Soldier Fly.

Lalat?

Iya, tapi ini bukan lalat yang kotor. Ini lalat yang bersih. Ini bukan lalat yang suka beterbangan dan hinggap di makanan. Lalat ini tidak punya mulut, jadi dia tidak akan makan. Siklus hidup BSF dewasa pendek. Setelah kawin BSF jantan akan mati, sementara BSF betina mati setelah bertelur.Lalat BSF bersih karena larvanya justru bisa membantu menghentikan negleted tropical desease, yaitu penyakit-penyakit tropis yang disebabkan oleh virus, bakteri atau parasit. Ini sudah dibuktikan secara ilmiah.

Jadi, bagaimana teknologi biokonversi ini bekerja?

Sederhananya begini, sampah basah yang terdiri dari sisa makanan, sayur, buah-buahan, dan bahan organik lainnya dikumpulkan. Ini akan menjadi makanan bagi larva BSF. Prosesnya akan menghasilkan cairan yang akan menjadi pupuk cair. Pupuk cair dari teknologi lebih baik dari pupuk cair lain karena mengandung berbagai enzim yang diproses dari larva BSF.

Sampah organik padat yang telah diurai oleh larva BSF bisa dimanfaatkan sebagai kompos untuk pupuk tanaman. Setelah sekitar 21 hari, larva BSF dewasa akan bergerak mencari tempat kering. Nah larva dewasa dan saat masa pra kepompong bisa dimanfaatkan sebagai bahan pakan ternak. Ini proteinnya tinggi sekali. Bisa mencapai 54%.

Larva dan pra kepompong ini bisa langsung diberikan kepada ternak. Tapi sebaiknya dicampur dengan bahan pakan lain. Atau bisa juga diproses untuk dijadikan tepung. Ini bisa menggantikan kebutuhan tepung protein pada bahan pakan ternak yang saat ini sebagian besar masih diimpor.

Berapa persentase produk yang bisa dihasilkan dari proses itu?

Untuk bahan pakan ternak, bisa sekitar 10-20% dari setiap ton sampah yang dikelola. Sisanya berupa pupuk cair dan pupuk kompos. Persentasenya tergantung jenis sampah organiknya. Kalau banyak bahan yang mengandung air, tentu saja akan lebih banyak pupuk cair yang dihasilkan.

Mengapa teknologi ini layak dilirik?

Ini teknologi yang bisa menyelesaikan banyak persoalan di Indonesia. Pertama soal penyakit tropis dari sampah yang tidak terkelola. Kemudian pengelolaan sampah itu sendiri. Kalau sampah ini kita biarkan, dampaknya bisa pada perubahan iklim. Sebab sampah menghasilkan metana, gas rumah kaca yang dampak negatifnya lebih kuat dibandingkan karbon

Teknologi biokonversi ini juga bisa menyediakan pupuk untuk mendukung pertanian organik. Semakin berkembang pertanian organik, berarti produk pangan yang dihasilkan akan semakin sehat karena bebas residu kimia.

Terakhir, tentu saja teknologi ini bisa menyediakan bahan pakan ternak yang selama ini banyak diimpor. Kita akan menghilangkan ketergantungan pada impor. Kalau bahan pakan ternak murah, maka produksi protein hewani dari unggas atau sapi di tanah air bisa ditingkatkan. Ini berarti ikut mendukung peningkatan kecerdasan masyarakat.

Teknologi ini sesungguhnya sudah banyak diterapkan di Amerika dan Eropa. Tapi di Indonesia, dimana serangga BSF ini secara alami ada, teknologi biokonversi malah belum terlalu banyak diimplementasikan.

Kalau teknologi ini sudah lama ada, mengapa sulit berkembang?

Karena desain dan operasional pengelolaan sampah saat ini hanya pada tahap kumpulkan lalu buang. Belum sampai pada pengelolaan. Seharusnya, proses pengelolaan sampah ini sudah dimulai sejak di rumah-rumah.

Memang, biaya termurah untuk persoalan sampah adalah kumpulkan, buang, lalu timbun di TPA. Tapi, dalam jangka panjang, biaya ekologisnya akan besar. Juga akan muncul berbagai penyakit yang akhirnya merugikan kita juga.

Selain di Lombok, dimana lagi Anda sudah implementasikan teknologi ini?

Oo ini sudah saya kembangkan di kampung halaman saya di Sumedang. Di sana bisa jadi tempat pelatihan bagi mereka yang mau belajar implementasi teknologi ini.

Sugiharto