Pelajaran Dari Banjir di Danau Tempe, Pengelolaan Harus Terintegrasi

0
31
Danau Tempe (Google Maps)

Kombinasi dari faktor alam dan manusia menjadi penyebab Danau Tempe, Sulawesi Selatan meluap sehingga mengakibatkan banjir di Kabupetan Soppeng dan Wajo. Pengelolaan danau yang terintegrasi pun menjadi sebuah keniscayaan.

Dirjen Pengendalian Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan IB Putera Parthama menjelaskan, Danau Tempe meluap disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, adanya curah hujan ekstrem selama 2 hari berturut-turut. “Curah hujan dengan intensitas rata-rata 187 milimeter/hari,” katanya di Jakarta, Rabu (11/7/2018).

Faktor kedua adalah adanya kegiatan pertanian yang mendominasi penggunaan lahan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Bilawalanae, DAS dimana Danau Tempe berada. Seluas 354.297 hektare dari total luas DAS yang seluas 735.166 hektare atau sekitar 48% dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian. Hal itu mengakibatkan tingginya laju sedimentasi dan berdampak pada pendangkalan di Danau Tempe. “Ini  mengakibatkan kapasitas tampung air Danau Tempe turun,” kata Putera.

Faktor lainnya adalah, secara geomorfologis, Danau tempe merupakan danau paparan banjir. Ini mengakibatkan debit banjir selalu lebih besar daripada kapasitas pengaliran.

Integrasi

Banjir yang terjadi di danau tempe pun kembali mengingatkan tentang pentingnya pengelolaan danau yang terintegrasi. Putera menyatakan, pengelolaan danau terintegrasi sangat penting bagi Indonesia, mengingat fungsi danau dan pemanfaatan ekosistem danau yang banyak dilakukan.

“Ada urgensi yang sangat besar disini, karena Indonesia memiliki potensi danau yang sangat besar, dan fungsinya sebagai daerah tangkapan air, habitat keanekaragaman hayati, tambak, wisata, hingga fungsi sosial sebagai tempat tumbuh budaya dan kearifan lokal”, tuturnya saat membuka Workshop on Integrated Lake Basin Management di Gedung Manggala Wanabakti.

Indonesia memiliki sekitar 840 danau besar dan 735 danau kecil. Ini menjadikan Indonesia sebagai negara dengan jumlah danau terbanyak di Asia.

Putera, menyatakan pengelolaan danau perlu memperhatikan hal-hal antara lain, tipologi danau, indikator kesehatan danau, aktivitas pemanfaatan danau, serta dampaknya terhadap lingkungan dan masyarakat. Terkait hal ini, Putra meyakini, banyak pihak dapat berkontribusi terhadap upaya konservasi danau dan rehabilitasi ekosistem sekitar danau.

“Strategi pengelolaan danau dapat dilakukan dengan memperhatikan karakteristik danau, identifikasi potensi danau sebagai sumber ekonomi, didukung penegakan hukum, kemitraan, serta pelibatan masyarakat dan komunitas dalam upaya konservasi dan rehabilitasi,” tambahnya. Sugiharto