Bisnis Kehutanan Bangkit

0
98
Aktivitas di IUPHHK Hutan Alam

Bisnis hak pengusahaan hutan (HPH) yang redup mendadak kinclong. Proteksionisme yang ditempuh Amerika dan larangan ekspor log yang ditempuh jiran Malaysia membuat harga ekspor produk kayu Indonesia melambung dan berimbas ke sektor hulu: terbangnya harga kayu bulat (log) alam. Inilah momen emas, apalagi di saat dolar AS menguat.

Bisnis HPH ternyata belum mati. Bahkan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) segera memfasilitasi agar izin-izin usaha pemanfaatan hasil hutan kayu (IUPHHK) hutan alam — yang dulu disebut HPH — bisa segera aktif beroperasi lagi. “Kami bantu cari solusinya kenapa mereka sampai tidak aktif,” ujar Dirjen Pengelolaan Hutan Produksi Lestari KLHK, Hilman Nugroho di Jakarta, pekan lalu.

Hilman pantas semangat. Maklum, sejak akhir tahun 2017, tren harga produk kayu Indonesia di pasar internasional terus meningkat. Bahkan, di Jepang, pasar terbesar panel kayu nasional, menggeliat hebat. Harga plywood (kayu lapis), yang biasanya 600-700 dolar AS/m3, kini sudah 800-820 dolar AS/m3. Bahkan, untuk ukuran khusus, yakni ketebalan 2,4 mm, harga sudah lebih dari 1.000 dolar AS/m3.

Peningkatan harga di hilir berimbas positif di hulu. Harga kayu bulat (log) sebagai bahan baku pun melejit. “Selama saya di bisnis kayu, belum pernah harga log setinggi saat ini,” aku Ketua bidang Produksi Hutan Alam Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI), David, Kamis (9/8/2018).

Menurutnya, kenaikan harga log sudah terjadi sejak kuartal akhir 2017. Saat itu, log masih di kisaran Rp1,5 juta/m3, dan merangkak naik awal 2018 menjadi Rp2 juta/m3. “Sekarang, harga log sudah di atas 3 juta/m3,” katanya. Dengan kata lain, harga log sudah naik 100%!

Ini memang tren positif yang mengejutkan. Semuanya tak lepas dari kondisi internasional, terutama kebijakan AS terhadap impor produk kayu China serta perubahan kebijakan di negara jiran Malaysia. Sabah memutuskan stop ekspor log, dengan volumenya sekitar 250.000-300.000 m3/tahun, untuk memenuhi pabrik dalam negeri. Sementara Serawak terus menciutkan kuota ekspor log dari 30% menjadi 20%, bahkan ada isu akan menghentikan ekspor log pula. Padahal, Sabah dan Serawak adalah andalan Jepang untuk impor log. “Buyer pun akhirnya mengalihkan pembelian ke produk Indonesia. Ini ikut mengerek naik harga log di dalam negeri,” kata David.

Perubahan kebijakan di Sabah dan Serawak tak hanya mengerek harga, tapi juga mendorong investor Malaysia mulai menjajaki bisnis pengusahaan hutan di Indonesia. Pada awal Agustus, investor yang tergabung dalam The Timber Exporter’s Association of Malaysia (TEAM) menjajaki kemungkinan investasi di sini dan diterima Hilman. “Investor Malaysia berniat untuk berinvestasi di Indonesia karena iklim usaha kita semakin menarik,” katanya. Ya, bisnis kehutanan kembali menarik.AI

Baca juga:

Rekor Harga Log Meranti

HPH Menggeliat Lagi