Teknologi Sebagai Solusi Pertanian Indonesia

0
61
Dr. Eva Anggraini, S.Pi, M.Si, Wakil Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat IPB

Petani dan pertanian merupakan hal utama dan sangat penting dalam pembangunan nasional Indonesia. Produk pertanian, khususnya pangan merupakan kebutuhan dasar masyarakat. Sektor pertanian dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan memacu pertumbuhan ekonomi secara signifikan.

Namun, pada dasarnya pertanian Indonesia mulai mengalami penurunan dalam hal lahan, petani muda dan teknologi yang mendukung sektor pertanian. Lahan pertanian Indonesia semakin berkurang dikarenakan pembangunan infrastruktur industri, perumahan dan lainnya.

Pasca panen menjadi masalah lainnya. Selama ini petani hanya beraktivitas pada on-farming, menanam hingga panen. Petani tidak terlibat dalam proses pasca panen (off-farming). Padahal keuntungan terbesar ada di sisi pasca panen.

Untuk itu, teknologi pertanian merupakan hal yang harus dikembangkan dalam pertanian. Teknologi modern merupakan hal yang memang sangat dibutuhkan untuk di tengah fenomena turunnya luas lahan.

Menurut  Wakil Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) Institut Pertanian Bogor (IPB), Bidang Kajian Strategi dan Publikasi Ilmiah, Dr. Eva Anggraini, S.Pi, M.Si, perkembangan teknologi menjadi tantangan pertanian saat ini.

Wanita kelahiran 2 Mei 1979 di Batusangkar itu menyatakan, IPB terus mencoba untuk membuat inovasi teknologi modern agar dapat mensejahterakan atau membantu petani Indonesia dalam setiap permasalahan di sektor pertanian.

Wanita yang sebelumnya menjabat sebagai Ketua Program Studi Ekonomi Kelautan Tropika (EKT) pascasarjana IPB itu menyatakan pelaku ekonomi pertanian sangat didominasi dengan usaha kecil.  Perkembangan IT bisa membuka peluang-peluang bagi pelaku ekonomi skala kecil yang tadinya tidak terjangkau.

Ia mencontohkan terkait permasaran. Petani dan nelayan tidak bisa lepas dari tengkulak karena jalan satu-satunya jalur pemasaran hanya padanya. Perkembangan IT sekarang membuat produk petani bisa diakses langsung dan lebih luas sehingga petani bisa lepas dari jeratan tengkulak.

Wanita lulusan IPB S2 Program Studi Ekonomi Sumberdaya Kelautan Tropika lulus tahun 2005 itu menyatakan, dengan adanya teknologi transaksi pertanian dapat memotong rantai pemasaran atau langsung kepada konsumen akhir. Artinya petani sebagai produsen bisa menikmati margin yang lebih besar.

“Perkembangan IT yang memang sudah seperti “Banjir Bandang” untuk saat ini. Tentu Mau tidak mau kehidupan ini sudah sangat dipengaruhi IT, jadi harus bisa dimanfaatkan,” jelas wanita lulusan  S3 di Humboldt University of Berlin divisi Resource Economics tahun 2015.

Seperti apakah tantangan, manfaat, dan dampak untuk pertanian Indonesia dengan memanfaatkan IT dan sudah sejauh manakah perkembangan teknologi yang sedang dirancang IPB. Berikut kutipan wawancara dengan Agro Indonesia.

Sejauh apa teknologi informasi bisa membantu produktivitas pertanian Indonesia?

Dalam pertanian, harus mengubah pola pikir terlebih dahulu. Artinya, pertanian tidak hanya bicara on farm saja tapi harus bicara secara luas dimana orang yang terlibat dalam menyediakan makanan, dari mulai memproduksi sampai pada meja makan adalah orang yang berkecimpung dalam pertanian. Artinya, industri pengolahan, kemasan itu juga merupakan pelaku pertanian.

Kalau bicara produksi di sisi on farm memang perlu tantangan sangat besar karena masih sangat small scale. Banyak petani yang memiliki luas lahannya sangat kecil kurang lebih 0,5 ha sehingga untuk bisa efisien, economic of scale memang susah.

Tapi, dalam penggunaan sistem ekonomi modern, banyak pelaku ekonomi yang berkembang. Contoh, dengan adanya online transportasi. Orang yang tidak punya mobil dapat naik mobil ke mana saja. Hal tersebut, karena ada pelaku ekonomi yang menyediakannya.

Ini juga berlaku pada pertanian. Indonesia harus dapat meningkatkan produksi walaupun keterbatasan lahan dengan sistem yang modern.

Kalau dari segi keterbatasan lahan tapi tingkat demand pangan yang terus semakin tinggi, tentu teknologi menjadi jawaban yang peling tepat. Sekarang ini banyak sekali berkembang teknologi pertanian yang tidak lagi berbasiskan lahan. Artinya dapat dilakukan dengan cara intensifikasi dan juga urban farm, dimana diperkotaan yang tidak memiliki lahan masih bisa mengembangkan pertanian.

Konsep yang sebenarnya muncul adalah dengan perkembangan teknologi. Dengan teknologi yang akan dikembangkan, tidak perlu takut meskipun lahan mulai menyempit diganti. Dengan teknologi produktivitas akan meningkat.

Fokus juga perlu tertuju pada Sumber Daya Manusia (SDM), agar menciptakan petani yang cerdas. Teknologi modern dapat mendorong produktivitas. Jika petani yang memiliki lahan 1 ha awalnya hanya bisa menghasilkan 3 ton, dengan teknologi dapat menghasilkan 2 kali lipat.

Bagaimana mendorong petani untuk lebih cerdas dalam memanfaatkan teknologi modern?

Petani di beberapa tempat memiliki kreativitas dimana menciptakan model-model yang bisa membuat lebih ekspansi dalam pemasaran. Hal tersebut, perlu adanya pencarian ilmu dan mendapatkan informasi untuk bisa meningkatkan produktivitasnya dengan IT.

Contoh. IPB memiliki program yang baru dirancang dan mengembangkan Tani Center. Ini merupakan layanan daring, ketika petani mengalami masalah dalam pertanian dapat menggunakan aplikasi tersebut dengan bertanya pada ahli dan mendapatkan jawaban dalam waktu cepat.

Sehingga, petani dapat meminimalisi gagal panen dengan informasi yang tepat. Inilah perkembangan IT dimana bisa memanfaatkan teknologi yang ada untuk menyelesaikan masalah.

Bagaimana detilnya Tani Center itu?

IPB sedang merintis konsep Tani Center dalam bentuk sharing IPB terhadap petani. Ini untuk menangani masalah yang terjadi pada petani dengan cepat dan dapat konsultasi secara mendalam.

Teknologi tersebut, masih dalam proses kesiapan proposal, konsep, gedung. Diharapkan gedung Tani Center akan banyak kunjungan petani yang ingin konsultasi dan berbagi informasi terkait pertanian. Namun, IPB lebih mengutamakan pada cyber extension. Tani Center memang dirancang dan menjadi salah satu program utama IPB yang dianggap sangat memberikan manfaat masyarakat khususnya petani.

Aplikasi Tani Center merupakan bentuk pelayanan yang sangat baru belum ada di IPB. Aplikasi ini merupakan paling efisien dan cepat diakses. Siapapun dan di lokasi manapun selama dapat terhubung dengan internet maka dapat diakses.

Internet juga menjadi infrastuktur, mau tidak mau Indonesia harus mengembangkannya. Sekarang ini, kementerian-kementerian lain sudah cukup mampu untuk mengembangkan infrastruktur IT.

Manfaat dari teknologi tersebut yaitu pertama, dapat mensuplai informasi, dimana jika sudah bicara IT informasi harus real time. Petani dapat mengetahui tentang harga saat ini, teknik produksi, kendala dapat diakses dalam waktu cepat. Kepentingannya, dapat menambah ilmu dan informasi untuk petani dalam menyelesaikan masalah yang sedang terjadi saat itu juga yang terpenting petani terbantu dengan baik.

Hambatannya sendiri seperti apa dalam teknologi modern dalam sektor pertanian?

Masalah hambatan untuk situasi ini adalah literasi petani, nelayan terhadap IT masih rendah sekali. Masih banyaknya penggunaan IT dalam perkembangannya tidak mendorong produktivitas. Media sosial tidak digunakan untuk aksi produktif. Contohnya, selfi-selfi atau apapun yang tidak mendorong ke arah ekonomi.

Melek digital memang menjadi pola pikir yang harus diubah. Contohnya. Kementerian Komunikasi dan Informatika memiliki program Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) berbasis daring. Hal tersebut, merupakan bentuk media daring, dimana produsen dapat menjangkau konsumen secara langsung tidak lagi dibatasi jarak. Artinya, pelaku usaha mendapatkan manfaat yang lebih besar, tentu hal ini perlu ditingkatkan karena literasinya masih rendah.

Harapan ke depan dalam arti global untuk pertanian Indonesia?

Saya berharap dari pertanian agar petani sejahtera, itu harapan sesungguhnya. Kontribusi Produk Domestik Bruto (PDB) tinggi tetapi masyarakat masih miskin hal tersebut tidak memberikan penilaian positif. Saya berharap petani sejahtera yang memang bekerja langsung disektor pertanian, dimana petani memiliki hal yang luas dari hulu hingga hilir. Semua pelaku ekonomi dapat menikmati manfaat yang besar.

Masih banyak sekali petani yang tidak sejahtera, kalau dilihat dari semua bidang pertanian pangan, peternakan, nelayan masih jauh karena struktur yang banyak tetapi kepemilikan lahan kecil. Sabrina