Pengembangan Pasar Kayu Ringan Didorong Lewat ILCF

0
39

Industri kayu ringan di dalam negeri membutuhkan informasi terhadap perkembangan inovasi-inovasi yang diminati dalam rantai nilai global dan prospeknya di masa depan. Untuk memenuhi kebutuhan pelaku industri kayu ringan itu, Kementerian Perdagangan (Kemendag) kembali menyelenggarakan Indonesian Lightwood Cooperation Forum (ILCF).

“Indonesia merupakan salah satu lumbung kayu ringan terbesar di dunia yang saat ini mulai populer digunakan untuk berbagai keperluan seperti furnitur bahkan sebagai bahan bangunan tinggi dan industri transportasi. Masyarakat Eropa sejak beberapa tahun lalu juga telah mengalihkan perhatian dari kayu tropis (umumnya kayu keras) sebagai akibat keperdulian terhadap kelestarian lingkungan,” kata Arlinda, Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional, pada pembukaan ILCF di Solo, Jumat (19/10/2018). .

Alasan utama diminatinya kayu ringan karena waktu panen kayu ringan untuk diameter yang sama jauh lebih cepat dibandingkan dengan produksi kayu keras sehingga pasokannya dapat bersumber dari kayu budidaya. Sifatnya yang fleksibel, ringan, relatif tahan api dan anti rayap merupakan bahan yang ekonomis untuk berbagai aplikasi.

“Meskipun Indonesia kaya akan kayu ringan, namun untuk dapat menguasai pasar global, Indonesia perlu memproduksi produk-produk kayu ringan inovatif dengan nilai tambah yang lebih tinggi, bukan sekedar classical commodities, sehingga Indonesia dapat menjadi pioneer mengalahkan produk pesaing dari Tiongkok, khususnya di pasar Eropa, karena selama ini bahan baku produk kayu ringan Tiongkok diimpor dari Indonesia untuk kemudian diolah menjadi produk dengan nilai tambah yang lebih tinggi” ujarnya memberikan alasan digelarnya ILCF untuk ketiga kalinya itu.

Menurutnya, penyelenggaraan ILCF 2018 merupakan kolaborasi antara Kementerian Perdagangan, Indonesian Light Wood Association (ILWA), Swiss Import Promotion Programme (SIPPO), didukung oleh Bank Rakyat Indonesia, sengaja diselenggarakan sebagai side event dari Trade Expo Indonesia 2018. Selain dihadiri oleh kurang lebih 200 perusahaan kayu ringan Indonesia, forum ini juga dihadiri oleh empat buyers dari Jerman, Swedia, Belgia dan Perancis yang merupakan delegasi program Buying Mission kayu ringan yang dilaksanakan sebagai hasil dari kerjasama Ditjen PEN dan Import Promotion Desk (IPD) Jerman.

Berbeda dengan penyelenggaraan dua kali ILCF sebelumnya yang dilaksanakan di Jakarta, kali ini kota Solo dipilih sebagai lokasi penyelenggaraan ILCF 2018 guna mengakomodir kepesertaan yang lebih luas di mana sebagian besar perusahaan pengguna kayu ringan berdomisili Jawa Tengah dan Jawa Timur sehingga manfaatnya menjadi lebih besar.

“Kami berharap kegiatan ini dapat menstimulasi gairah industri kayu ringan dalam negeri untuk lebih berkarya dan mendapatkan inspirasi akan contoh pengaplikasian kayu ringan yang lebih modern dan futuristik di pasar global, seperti contoh pengaplikasian kayu ringan sebagai material bangunan 24 lantai HoHo Tower Vienna yang tahun ini akan dinobatkan menjadi World’s Tallest Wooden Skycraper,“ papar Marolop Nainggolan, Direktur Kerja Sama Pengembangan Ekspor, mewakili Penyelenggara.

Marolop menjelaskan, selama ini kayu ringan, sering dikategorikan kayu sembarang atau kayu murah, hanya digunakan sebagai bahan baku pembuatan panel barecore atau pengisi blockboard bernilai tambah rendah, dengan memanfaatkan teknologi dan menyasar pasar yang tepat, kayu jenis ini akan memberikan keuntungan yang berlipat ganda.

Pada kesempatan ini, juga ditandatangani Letter of Intent Pembentukan Indonesian Timber Council antara ILWA, Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI), Institut Pertanian Bogor (IPB), dan Institut Pertanian Stiper (Instiper) Yogyakarta. Pihak Kementerian Perdagangan juga menandatangani naskah kerjasama dengan IPD dan SIPPO sebagai perpanjangan dari kerjasama pengembangan dan promosi kayu ringan Indonesia hingga tahun 2020.

Potensi Kayu Ringan

Setidaknya ada empat alasan utama kayu ringan Indonesia, umumnya Sengon dan Jabon, memiliki keunggulan dibanding jenis kayu ringan dari negara pesaing seperti Acacia dan Eucalyptus.

Pertama, Indonesia merupakan satu-satunya negara dengan sistem verifikasi legalitas kayu terbaik yang telah diterima oleh EU FLEGT (European Union Forest Law Enforcement, Governance, and Trade). sehingga menjadi faktor yang membuat kayu ringan Indonesia lebih atraktif bagi konsumen di negara Eropa, dan non Eropa lainnya seperti Amerika.

Kedua, industri kayu Indonesia terus didorong untuk mentransformasi diri sehingga tidak lagi mengambil kayu dari hutan alam tapi kayu hasil perkebunan yang tidak merusak hutan. Selain itu, pohon Sengon merupakan sahabat alam karena merupakan salah satu tanaman Legum yang mampu menyerap emisi CO2 dan menyalurkannya menjadi nitrogen dalam tanah.

Ketiga, Indonesia telah memiliki perusahaan pioneer yang mampu memproduksi produk kayu ringan yang sangat inovatif sehingga mampu mengangkat positioning industri kayu ringan Indonesia yang diharapkan akan menjadi lokomotif bagi perusahaan kayu lainnya yang skalanya lebih kecil.

Keempat, kayu ringan mendukung ekonomi kerakyatan yang memungkinkan rumah tangga di pedesaan mendapatkan penghasilan tambahan dari menanam kayu sengon atau jabon yang dapat dikombinasikan dengan tanaman palawija (tumpangsari). Buyung N