Barantan Berperan Dongkrak Ekspor Pertanian 24%

0
173
Kepala Barantan Banun Harpini

Badan Karantina Pertanian (Barantan) memberi andil besar di balik pertumbuhan ekspor produk pertanian sebesar 24% atau setara Rp441,9 triliun, yang dapat dicapai tahun 2017.

“Kontribusi itu datang dari percepatan proses karantina, baik di dalam negeri maupun di negara tujuan ekspor,” kata Kepala Barantan, Banun Harpini.

Dia menjelaskan, percepatan pemenuhan protokol karantina mulai dilakukan sejak 4 tahun terakhir seiring dengan perundingan bidang Sanitary and Phytosanitary Standards (SPS) dengan negara-negara mitra dagang.

Barantan melakukan penyusunan Perjanjian Protokol Karantina dengan negara tujuan dan  mempercepat pemenuhan protokol karantina dengan melakukan proses Inline Inspection bersama petani.

Untuk akses percepatan secara elektronik juga dilakukan dengan pertukaran data eCert atau sertifikat elektronik yang dikirim ke negara tujuan. Sistem itu sudah diterapkan pada 3 negara, yakni Australia, Selandia Baru dan Belanda dan akan disusul Jepang, Amerika Serikat, dan Singapura.

“Untuk komoditas dengan kasus SPS, Barantan melakukan perundingan penyelesaian kasus SPS seperti pada komoditas CPO, Pala, Kopi, Teh, Manggis dan Salak agar komoditas itu dapat tembus dan tidak terhambat di negara mitra dagang,” kata Banun saat paparan evaluasi nasional capaian kinerja 4 tahun dan Karantina Pertanian di Era Industri 4.0 di Bogor, Senin (19/11/2018).

Dalam 4 tahun terakhir sudah  ada 4 hasil perjanjian SPS untuk akselerasi Ekspor Produk Pertanian Indonesia, Keempatnya adalah Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agrement (CEPA) untuk komoditas coklat, manggis, salak, kopi dengan nilai ekspor  667,8 juta dolar AS di tahun 2018;

Kemudian Indonesia-Cile CEPA  untuk komoditas CPO dan Jagung  (143,8 juta dolar AS, 2018); ASIAN Hongkong China Free Trade Agreement untuk komoditas tepung kelapa, mangga, sarang burung walet, kopi, madu, coklat, teh, reptil (3 miliar dolar AS, 2018); dan Indonesia-European Free Trade Association untuk komoditas rempah-rempah, kakao, kopi, teh, produk kayu, dan ikan (1,2 miliar dolar AS, 2018).

Dalam 4 tahun terakhir juga dilakukan perluasan negara tujuan ekspor baru, yaitu Ukraina, Timor Leste, dan Papua Nugini. Termasuk menambah komoditas ke negara-negara mitra dagang tradisional, misalnya salak ke Selandia Baru; mangga dan manggis ke Australia; manggis, produk kayu dan durian ke Tiongkok; dan bunga krisan, pisang, nenas ke Jepang; kelapa dan produknya ke India, Amerika Serikat.

Komoditas emerging

Banun menjelaskan, semenjak tahun 2015 hingga saat ini, banyak komoditas ekspor bertumbuh (emerging). Buah manggis adalah salah satunya yang telah dikirim ke 23 negara dengan total nilai dagang Rp11,62 triliun dengan total volume masing-masing  31.296,00 ton (2015), 30.099,67 ton (2016), 11.427,77 ton (2017) dan 26.939,20 ton (2018).

Untuk produk hewan, produk yang terus menunjukan tren peningkatan volume dagang adalah  Sarang Burung Walet. Hampir seluruh negara didunia menerima komoditas ini.  Sarang burung walet berhasil membukukan total nilai dagang selama 4 tahun senilai Rp107,2 triliun. Dengan masing-masing volume ekspor 700,66 ton (2015), 773,22 ton (2016), 1.158,15 ton (2017) dan 1.135,09 ton (2018 hingga bulan Oktober).

Melalui Indonesia Quarantine Full Automation System (IQFAST), Barantan juga mencatat produk pertanian yang khas dan digemari mancanegara, antara lain tanaman dan bunga hias, produk pertanian organik, lidi, daun kelor, produk turunan kelapa dan daun ketapang. Humas Barantan