Jadi Tuan Rumah WGAFCC 2019, RI Perkuat Akses Pasar Pertanian ke Australia

0
91
Delegasi Indonesia-Australia mempersiapkan agenda WGAFFC ke-22 tahun 2019 di Jakarta. WGAFCC akan berlangsung di Indonesia pada Juni atau Juli 2019.

Kementerian Pertanian melalui Badan Karantina Pertanian (Barantan) menyatakan kesiapannya menjadi tuan rumah pertemuan Indonesia-Australia pada Kelompok Kerja Pertanian, Pangan dan Kehutanan atau Working Group on Agriculture, Food and Forestry Cooperation (WGAFFC) ke-22 pada tahun 2019. Agenda tersebut akan menjadi ajang penguatan kerja sama bidang pertanian antara kedua negara, termasuk mendorong kapasitas ekspor komoditas unggulan Indonesia ke negeri kangguru tersebut.

“Persiapan telah dilakukan dan pelaksanaannya akan digelar pada bulan Juni atau Juli tahun depan,” kata Kepala Badan Karantina Pertanian (Barantan) Banun Harpini, selaku co-chair Indonesia untuk WGAFFC, melalui keterangan tertulisnya di Jakarta (27/12/2018).

Menurut Banun, pihaknya telah melakukan pertemuan dengan perwakilan Australia pada hari Rabu (19/12/2018) di Jakarta dan disepakati agenda pembahasan WGAFFC ke-22 untuk sektor pertanian dan kehutanan. Hadir mewakili pemerintah Australia pada pertemuan kali ini adalah First Assistant Secretary, Trade Market Access, Department of Agriculture and Water Resources Australia, Louis van Meurs.

Pada pertemuan sebelumnya, yang diadakan pada Februari 2018 di Meulbourne, Indonesia telah berhasil mencapai kesepakatan, di antaranya disetujuinya metode iradiasi untuk ekspor komoditas mangga dan buah naga, juga ekspor produk olahan ayam yang harus sesuai dengan persyaratan biosecurity Australia.

“Persetujuan ini menjadi penting bagi ekspor buah mangga dan buah naga Indonesia karena dapat lebih bertahan lama. Sementara  di pihak Australia, dicapai kesepakatan berupa importasi benih kentang yang harus sesuai dengan ketentuan perkarantinaan di Indonesia,” jelas Banun.

Delegasi pemerintah Australia diwakili First Assistant Secretary, Trade Market Access, Department of Agriculture and Water Resources Australia, Louis van Meurs.

Kesetaraan Perlakuan

Khusus eksportasi mangga asal Indonesia, Kepala Pusat Karantina Tumbuhan dan Keamanan Hayati, Barantan, Dr. Antarjo Dikin juga meminta Australia untuk segera mengirimkan ahli iradiasi dari IAEA Austria. Hal ini guna ditindaklanjuti ke depan kerja sama dengan BATAN dalam penyempurnaan prosedur standar radiasi buah mangga.

Antarjo, yang mendampingi Banun dalam pertemuan kali ini, juga menekankan beberapa hal teknis perkarantinaan, yakni meminta Australia agar memberikan kesetaraan perlakuan atau  equivalency treatment terhadap buah manggis yang akan masuk pasar Australia berupa penyemprotan udara bertekanan atau air brush pressure pengganti fumigasi dengan gas Methyl Bromida.

Selain itu, pihak Australia diminta segera membuka pasar ekspor buah naga karena telah memenuhi persyaratan berakhirnya masa dengar pendapat publik atau public hearing consultation.

Dari data Kementerian Pertanian, tercatat nilai ekspor komoditas pertanian Indonesia ke Australia senilai 126,53 juta dolar AS atau sebesar Rp1,77 triliun. Komoditas unggulan itu di antaranya adalah kedelai, kakao, kopi, karet dan nanas. “Kerja sama Indonesia-Australia, khususnya di bidang pertanian, telah berlangsung lebih dari 20 tahun dan saling menguntungkan bagi kedua belah pihak. Untuk itu, kerja sama bilateral ini harus terus diperkuat,” tambah Banun.

Selain pembahasan mengenai perdagangan komoditas pertanian, juga dibahas agenda terkait kehutanan dan peningkatan kapasitas (capacity building) bagi petugas karantina, khususnya dalam hal keamanan pangan atau biosekuriti. Pembahasan isu-isu tersebut nantinya akan dibagi kedalam kelompok kerja atau taskforce masing-masing, yakni Taskforce Crops and Plant Product, Taskforce on Livestock and Animal Products dan Taskforce on Forestry.

Selain membawa agenda negosiasi khusus bagi produk pertanian yang bakal menembus pasar Australia, Banun juga berencana fokus pada penguatan sistem sertifikasi perkarantinaan.

“Akses pasar untuk produk buah tropis seperti manggis, pisang dan buah lainnya akan menjadi fokus agenda dari kami. Juga kerja sama terkait Animal Health Certificate dan penguatan e-cert Indonesia-Australia yang telah berjalan,” tandas Banun. Humas Barantan