Korporasi Segera Dibentuk, Tahun 2019 Kementan Garap Lahan Rawa 550.000 Ha

0
108
Mentan Amran Sulaiman

Kementerian Pertanian (Kementan) mulai tahun 2019 akan menggarap sedikitnya 500.000 hektare (ha) lahan rawa lebak (RWL) dan pasang surut (RWPL) di 10 provinsi. Bahkan, unit usaha (korporasi) pun segera dibentuk agar usaha pertanian di lahan rawa menjadi lebih menguntungkan.

“Pengembangan lahan rawa ini tidak hanya untuk padi. Tetapi di lahan ini juga bisa untuk tanaman hortikultura, ternak dan perikanan (mina-padi),” kata Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman usai memberikan arahan pada acara peluncuran program Selamatkan Rawa Sejahterakan Petani (SERASI) di Kantor Kementan, Rabu (21/11/2018).

Menurut Amran, hal tersebut sudah jadi impiannya sejak lama, namun baru terealisasi saat ini.  “Saya yakin jika program ini berjalan dengan baik, maka petani bisa untung dua kali lipat. Sesuai dengan mimpi besar kita, yaitu kesejahteraan petani,” jelasnya.

Pengembangan lahan rawa lebak dan rawa pasang surut ini fokus pada enam provinsi, di antaranya Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sumatera Selatan, Jambi, Lampung dan Sulawesi Selatan.

Amran mengatakan, semua pihak terkait, baik pemerintah pusat, daerah dan kabupaten, ikut terlibat. Pengembangan lahan dilakukan dengan sistem korporasi. Artinya, unit usaha akan dihadirkan dalam pengembangan lahan ini.

“Pimpinan perusahaan biasa dari dari profesional daerah atau mantan-mantan pejabat yang sudah purna bakti (pensiun),” tegasnya.

Untuk itu, Amran menyarankan dan sekaligus mengajak kepada para purna bakti di lingkup pertanian atau yang akan segera pensiun untuk mengolah lahan sawah. Hal ini dia katakan mengingat pengalaman yang dimiliki cukup untuk mengembangkan potensi SDA yang ada.

“Dan yang menjadi pendamping di lapangan, manager, itu adalah purna bakti yang pensiun dari pertanian. Sehingga ilmunya tidak diragukan lagi, karena sudah pengalaman mengangkat produksi,” katanya.

Dia menyebutkan, saat ini ada 1.000 lebih purna bakti yang akan pensiun di tahun 2019 mendatang. Di dalam tiga setengah bulan ini, para purna bakti tersebut diharapkan dapat menjadi pendamping untuk mendorong tercapainya penggarapan lahan rawa.

“Iya, yang mengelola ini dirutnya dari korporasi dan kami harapkan mantan dirjen, atau kalau ada mantan bupati penghasilannya ini bagus kemudian eselon I, eselon II dan eselon III, semua pensiunan siapa saja mau ikut terbuka untuk umum,” tegasnya.

Gunakan Alsintan

Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, Sumardjo Gatot Irianto mengatakan, ada enam provinsi dengan lahan rawa potensial yang bisa digarap.

Lahan rawa tersebut dibagi menjadi dua kriteria, yakni lahan rawa lebak (RWL) dan lahan rawa pasang surut (RWPS). Lokasi lahan rawa lebak yang dikembangkan di Sulawesi Selatan seluas  5.000 ha, Kalimantan Selatan 10.000 ha dan RWPS 300.000 ha.

Untuk Provinsi Lampung, RWL yang akan digarap seluas  5.000 ha, Sumatera Selatan 20.000 ha dan lahan RWPS 200.000 ha, Jambi (RWL 5.000 ha) dan Kalimantan Tengah (RWL 5.000 ha).

Menurut dia, setiap 1.000 ha RWPS akan dikelola oleh satu unit desa, sedangkan untuk 200 ha RWL dikelola oleh satu unit desa, seraya menambahkan tidak mungkin 550.000 ha dikelola semuanya oleh pemerintah daerah atau pusat.

“Kami akan fokus di daerah tersebut. Yang paling siap adalah Sumatera Selatan dan Kalimantan Selatan, tapi yang lain juga siap. Kami targetkan minimal bisa panen dua kali setahun atau lima kali dalam dua tahun,” katanya.

Gatot mengatakan, budidaya di lahan rawa akan jauh lebih baik dibandingkan dengan di Jawa. Pasalnya, Kementan sudah menyiapkan skema yang berbeda, di mana setiap lahan RWL dan RWPS dilengkapi dengan saluran irigasi, pompa air, dan ekskavator.

Selain itu, lahan rawa juga 100% akan menggunakan mekanisasi dan memperkecil tenaga kerja yang menggarap sawah dengan harapan jauh lebih efisien untuk biaya produksinya.

Dari sisi budidaya, lahan RWL dan RWPS juga memilki perbedaan. Pada lahan RWL digunakan sistem pengairan yang tertutup agar lebih terkontrol, sedangkan lahan RWPS menggunakan sistem pengarus, jadi ada sirkulasi.

Gatot mengakui, awalnya memang lahan rawa tersebut tidak bisa dipakai karena tingkat keasaman yang tinggi pada tanahnya. Tapi berkat teknologi, permasalahan itu bisa teratasi. Adapun produktivitasnya mencapai 6-8 ton/ha dengan penggunaan benih sekitar 45-50 kg/ha. Penggunaan benih sebanyak itu karena menggunakan sistem tabur.

Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementan, Pending Dadih Permana mengatakan, pengembangan lahan 550.000 ha akan didukung dengan alat dan mesin pertanian (Alsintan). “Untuk Alsintannya akan dikosentrasikan pada lahan rawa. Kita (pemerintah pusat, Red.) mendukung dan menfasilitasi pengembangan lahan rawa ini,” tegasnya. Atiyyah Rahma/PSP