Modernisasi Tingkatkan Efisiensi Pertanian 48%

0
304
Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP), Kementerian Pertanian (Kementan), Pending Dadih Permana

Kementerian Pertanian (Kementan) selama empat tahun ini terus mendorong modernisasi di sektor pertanian. Penyediaan bantuan alat dan mesin pertanian (Alsintan) dilakukan untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas budidaya pertanian.

“Pemanfaatan Alsintan sebagai upaya modernisasi pertanian diyakini mampu meningkatkan efisiensi usaha tani 35%-48%,” kata Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP), Kementan,  Pending Dadih Permana di Jakarta, Jumat (23/11/2019).

Dia menyebutkan, Kementan mendorong modernisasi pada kegiatan budidaya pertanian secara keseluruhan, mulai dari kegiatan pengolahan lahan, penanaman, pemanenan, sampai  pengolahan hasil pertanian.

Modernisasi merupakan upaya untuk mengatasi keterbatasan tenaga kerja di sektor pertanian dan juga turut meningkatkan pendapatan petani. Saat ini ada kecenderungan secara global, tidak hanya tenaga kerja pertanian berkurang, tetapi minat generasi muda juga semakin menurun.

“Untuk itu, kita harus genjot modernisasi pertanian,” tegasnya saat melakukan paparan Kinerja Empat Tahun Ditjen PSP, Kementan. Kementan melalui Ditjen PSP telah menyalurkan bantuan Alsintan sekitar 350.000 unit.

Bantuan tersebut terdiri dari traktor roda dua, traktor roda empat, pompa air, rice transplanter, chopper, cultivator, excavator, hand sprayer, implemen alat tanam jagung, dan alat tanam jagung semi manual. “Bantuan ada yang langsung diberikan ke kelompok tani, ada juga yang ditempatkan di dinas pertanian untuk dimanfaatkan dalam program Brigade Alsintan,” sebut Pending.

Untuk tahun 2019, modernisasi pertanian, difokuskan pada lahan rawa. Kementan tahun depan akan menggarap 550.000 hektare (ha) lahan rawa di enam provinsi, yaitu Sulawesi Selatan, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, Lampung dan Jambi.

Indonesia memilik potensi lahan rawa yang cukup luas. Berdasarakan Pusat Data Daerah Rawa dan Pasang Surut, Indonesia memiliki lahan rawa 33,4 juta ha yang terdiri dari lahan pasang surut 20,1 juta ha dan rawa lebak 13,3 juta ha. Dari jumlah tersebut, Pending menyebutkan seluas 9,3 juta ha diperkirakan sesuai untuk dikembangkan sebagai kawasan budidaya pertanian.

“Potensi lahan rawa di Indonesia yang dapat dikembangkan menjadi lahan pertanian produktif tergolong sangat luas. Apabila potensi ini dapat dikelola dengan intensif dan memanfaatkan teknologi tepat, maka lahan rawa bisa menjadi alternatif yang mampu memberikan kontribusi besar terhadap peningkatan produksi pangan nasional pada masa mendaatang,” tuturnya.

Sementara itu Kepala Biro Humas dan Informasi Publik, Kementan, Kuntoro Boga Andri  memproyeksikan, dampak dari modernisasi pertanian akan dirasakan dalam kurun beberapa tahun ke depan.

“Investasi dalam pembangunan infrastruktur dan modernisasi pertanian akan memiliki dampak multiplier dalam 5 sampai dengan 10 tahun ke depan,” ujar Kuntoro.

Dia menjelaskan, untuk program pengembangan prasarana dan sarana pertanian, hingga tahun 2018 Kementan merehabilitasi jaringan irigasi tersier pada lahan seluas 3,47 juta ha, dengan capaian terbesar pada tahun 2015 seluas 2,45 juta ha.

Selama Oktober 2014-April 2018 pembangunan embung/dam parit/long storage mencapai 2.758 unit. Kemudian, selama Oktober 2014-April 2018 perluasan dan optimalisasi lahan sawah mencapai 1,16 juta ha.

“Modernisasi pertanian melalui mekanisasi merupakan solusi efisien menggantikan pola usaha tani manual. Mekanisasi juga sebagai solusi mengatasi berkurangnya tenaga kerja pertanian karena bermigrasi ke sektor industri dan jasa,” katanya.

Selain itu, selama empat tahun Kementan telah banyak menyalurkan bantuan Alsintan dengan berbagai jenis dan tipe, seperti rice transplanter, combine harvester, dryer, power thresher, corn sheller dan rice milling unit (RMU), traktor dan pompa air.

Mekanisasi pertanian diyakini dapat menghemat biaya produksi sekitar 30% dan menurunkan susut panen 10%. Mekanisasi menghemat biaya olah tanah, biaya tanam dan panen dari pola manual Rp7,3 juta/ha menjadi Rp5,1 juta/ha.

“Pada umumnya mengolah tanah secara manual memerlukan 20 orang hari kerja/ha dan biaya Rp2,5 juta/ha. Jika menggunakan traktor, satu orang mampu menyelesaikan 3 ha/hari dengan biaya Rp1,8 juta/ha,” katanya Kuntoro.

Dia mengatakan, mekanisasi menggunakan dengan rice transplanter menghemat tenaga dari pola manual 19 orang/ha menjadi 7 orang/ha dan biaya tanam menurun dari Rp1,72 juta/ha menjadi Rp1,1 juta/ha. Menyiang rumput (power weeder) menghemat tenaga kerja dari pola manual 15 orang/ha menjadi 2 orang/ha dan biaya menyiang turun dari Rp1,2 juta/ha menjadi Rp510.000/ha.

Combine harvester menghemat tenaga kerja dari pola manual 40 orang/ha menjadi 7,5 orang/ha dan biaya panen dapat ditekan dari Rp2,8 juta/ha menjadi Rp2,2 juta/ha dan menekan kehilangan hasil (losses) dari 10,2% menjadi 2%.

“Apabila dihitung secara nasional, dengan mekanisasi mampu menghemat biaya yang harus dikeluarkan petani sebesar Rp24,5 triliun,” terangnya pasti. PSP