Pemanfaatan Rawa Lebak Upaya Atasi Penyusutan Lahan Sawah

0
29
Lahan rawa memiliki potensi besar untuk meningkatkan produksi pangan nasional. Pada tahun 2019, direncanakan akan dikembangkan lahan rawa seluas 550.000 ha yang tersebar di enam provinsi.

Optimalisasi lahan rawa lebak dan pasang surut salah satu upaya Kementerian Pertanian (Kementan) untuk mengatasi penyusutan lahan pertanian.

“Lahan rawa memiliki potensi besar untuk meningkatkan produksi pangan nasional. Pengembangannya tergantung bagaimana kita mengelolanya,” kata Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP), Kementan, Pending Dadih Permana di Jakarta, Senin (26/111/2018).

Dia menyebutkan, dulu Pulau Jawa mayoritas lahan rawa. Harus menunggu ratusan tahun baru bisa menjadi lahan produktif. Sekarang, Indonesia sudah  punya teknologi,  sehingga untuk menggarap lahan  rawa tidak butuh waktu yang lama.

Pusat Data Daerah Rawa dan Pasang Surut mencatat, Indonesia memiliki potensi lahan rawa 33,4 juta hektare (ha) yang terdiri dari lahan pasang surut 20,1 juta ha dan rawa lebak 13,3 juta ha. Dari jumlah tersebut, seluas 9,3 juta ha diperkirakan sesuai untuk budidaya pertanian.

Upaya pemanfaatan lahan rawa telah dirintis sejak tahun 2016. Pada saat itu Kementan melaksanakan kegiatan optimasi lahan rawa seluas 3.999 ha, kemudian tahun 2017 seluas 3.529 ha, dan pada tahun 2018 hingga 5 November kemarin telah terealisasi seluas 16.400 ha.

“Pada tahun 2019, direncanakan kami akan mengembangkan lahan rawa seluas 550.000 ha yang tersebar di enam provinsi,” jelas Pending. Itu sebabnya, untuk mendukung pengembangan lahan rawa, Kementan meluncurkan program Selamatkan Rawa, Sejahterakan Petani (SERASI).

Menteri Pertanian Amran Sulaiman menyampaikan, ratusan ribuan hektare rawa yang tersebar di enam provinsi akan dimanfaatkan sebagai lahan pertanian produktif.

“Generasi kita ke depan tidak usah ragu, karena sudah menemukan solusi baru untuk pangan Indonesia. Pemanfaatan lahan rawa dilakukan secara berkelanjutan untuk menghasilkan komoditas pangan strategis terutama beras,” katanya.

Klaster

Langkah Kementan memanfaatkan lahan rawa mendapatkan dukungan dari sejumlah pihak. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution menyebutkan, optimalisasi rawa sebagai kebijakan yang cerdas dan strategis.

”Ini langkah besar untuk bangsa Indonesia, sekaligus menjawab pesatnya pertumbuhan penduduk dan penurunan lahan pertanian. Kami salah jika tidak mendukung program ini,” tegas Darmin Nasution pada Puncak Peringatan Hari Pangan Sedunia (HPS) ke-38 Tahun 2018 di Desa Jejangkit Muara Kecamatan Jejangkit Kabupaten Barito Kuala (Batola), Kalimantan Selatan, Oktober lalu.

Darmin menekankan pentingnya pembentukan klaster dalam kelembagaan petani untuk menjaga aspek berkelanjutan pembangunan di sektor pertanian. Dia mencontohkan ada 4.000 ha lahan pertanian rawa yang akan dikembangkan di Jejangkit ini. “Maka akan sangat baik jika dibuat klaster per 100 hektare,” katanya.

Menurut dia, jika berkelompok, petani bisa merancang pertaniannya untuk lebih berdaya saing dan bertanggung jawab. Baik saat pengolahan lahan, pemilihan benih, preferensi komoditas, menanam, pasca panen hingga pemasaran. “Pemanfaatan lahan rawa bukan hanya produktif, tapi harus berkelanjutan,” jelasnya.

Apresiasi FAO

Sementara Ketua DPR Bambang Soesatyo mengatakan, pemanfaatan lahan rawa lebak dan pasang surut yang dijadikan lahan pertanian produktif untuk meningkatkan produksi pangan nasional.

“Tingginya pertumbuhan penduduk Indonesia membuat pemenuhan kebutuhan pangan sering  menjadi masalah karena ketersediaan pangan yang belum mencukupi,” katanya.

Menurut dia, peringatan Hari Pangan Sedunia (HPS) pada Oktober lalu, yang memperlihatkan pertanian maju di lahan rawa, harus dijadikan momentum untuk meningkatkan kesadaran dan tindakan masyarakat dalam mengatasi masalah kekurangan pangan dan gizi, sekaligus untuk mendorong terciptanya sistem pangan global yang efektif.

Bambang optimis, pemanfaatan lahan rawa lebak dan pasang surut yang dijadikan lahan pertanian oleh Kementan akan berhasil. Program ini akan bisa menopang stok beras nasional dan menjadikan sentra baru pertanian tanaman pangan di luar di Pulau Jawa.

Perwakilan Badan Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa Bangsa (Food and Agriculture Organization of The United Nations) di Indonesia, Stephen Rudgard menyampaikan penghargaan dan apresiasinya yang tulus atas kerja Menteri Pertanian dalam melakukan berbagai terobosan untuk menjadikan Indonesia berdaulat pangan.

Rudgard mengatakan, optimalisasi lahan rawa menjadi upaya yang cukup besar untuk menghadapi tantangan pertambahan jumlah penduduk, meningkatnya urbanisasi dan perubahan permintaan konsumen.

“Peningkatan produktivitas melalui pemanfaatan lahan rawa sangat penting untuk memberikan makan populasi yang terus berkembang. Namun, lebih penting lagi untuk memiliki pendekatan pertanian yang berkelanjutan dalam berbagai intervensi pertanian,” jelas Rudgard. PSP