Produksi dan Ekspor Nanas Terus Meningkat

0
827
Dirjen Hortikultura Suwandi berjongkok saat meninjau perkebunan Nanas

Ekspor dan Produksi nanas dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan. Direktur Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian (Kementan) Suwandi menjelaskan hal tersebut Sabtu, (8/12/2018) saat mengunjungi hamparan nanas di Kediri, Jawa Timur.

“Lahan 7.650 hektar ditanami nanas jenis Paair Kelud (PK-1), PK Berduri, Madu, Queen, Smooth Qayenne. Nanas jenis KP-1 beratnya 2 hingga 3 kg per butir,” ujar Suwandi

Ia juga menjelaskan sentra nanas di Indonesia tersebar di berbagai daerah. Yakni Kabupaten Subang, Pemalang, Prabumulih, Kediri, Blitar, Kubu Raya, Mempawah, Muaro Jambi, Kampar, Lampung Tengah dan Karimun.

Produksi nanas mengalami penigkatan setiap tahunnya. Di tahun 2016 produksi tercatat 1,39 juta ton kemudian menjadi 1,79 juta ton pada tahun 2017. Ini berarti meningkat naik 22,3%. “Ini pencapaian yang bagus kerja keras petani, pemerintah dan para pelaku usaha. Semuanya bersinergi dengan baik,” jelasnya.

Menurut data BPS, Indonesia mengekspor nanas segar 2017 sebesar 9.586 ton. Ekspor naik 17,5% pada periode Januari-Oktober 2018 menjadi 11.247 ton. Negara tujuan ekspor ke Uni Emirat Arab, Jepang, Hongkong, Singapura, Saudi Arabia, Oman, Canada, Kuwait, Korea.

“Sebanyak 95% ekspor nanas dalam bentuk olahan dan sisanya dalam bentuk segar. Pangsa ekspor nanas ini 85% dari total ekspor buah,” ungkapnya.

Manajer Koperasi Langgeng Mulyo, Desa Ngancar, Kecamatan Ngancar, Kediri, Endro Pujiastoko mengatakan nanas varietas Madu Kelud dan PK-1 dengan luas 452 hektare bisa berproduksi 2 ton per hari. Sedangkan jenis queen simplex serta Queen Asam Gulas dengan luas 7.200 hektare bisa menghasilkan 70 ton per hari.

Hingga saat ini, pasar nanas dunia dikuasai Del Monte, Alamanda, dan Great Giant Pineaple yang baru mampu memasok memenuhi kebutuhan pasar dunia sekitar 55% dari kebutuhan. Oleh karena itu, agar petani nanas kediri bisa mengasilkan nanas berkualitas ekspor, Endro mengusulkan agar dibantu alat kultur jaringan bibit.

Saat ini Endro sedang melakukan riset daun nanas untuk serat nanasnya dengan bakteri pengurai selulosa di laboratorium UNISKA. Satu batang pohon nanas menghasilkan serat kering 150 gram, harga serat pasar Amerika 250.000 per kg untuk bahan tenun kain korden dan kain baju.

“Satu hektare menghasilkan serat 150 gram dikalikan 80.000 populasi pohon nanas hasilnya 12.000 kg dikali Rp 250.000. Hasilnya Rp 3 miliar. Ini potensi emas hijau yang belum tergali yang bisa bikin Indonesia kaya raya petani sejahtera,” imbuh Endro.

Atiyyah Rahma