Teknologi Pacu Produktivitas Hutan 

0
167
Kepala Pusat Standardisasi Lingkungan dan Kehutanan KLHK Noer Adi Wardojo (kanan) berbincang dengan Direktur Sustainability APP Sinar Mas, Elim Sritaba (kedua kanan), dan Vice President PT Sarmiento Parakantja Timber Hans Widjajanto yang juga mewakili Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) seusai sesi diskusi di Paviliun Indonesia dalam ajang Konferensi Perubahan Iklim ke-24 di Katowice, Polandia, Senin (10/12/2018).

Optimalisasi ilmu dan teknologi di sektor kehutanan bisa memacu produktivitas hutan sekaligus meningkatkan serapan karbon yang berdampak baik pada upaya pengendalian perubaham iklim.

Kepala Pusat Standardisasi Lingkungan Hidup dan Kehutanan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Noer Adi Wardojo menyatakan Indonesia sudah menerapkan teknologi terbaru sektor kehutanan mulai dari perencanaan. Pemerintah memanfaatkan teknologi citra satelit resolusi tinggi untuk mengimplementasikan kebijakan Satu Peta.

“Ini langkah korektif pemerintah untuk memperkuat kepastian kawasan hutan dan mencegah tumpang tindih perizinan,”  kata dia saat diskusi panel di Paviliun Indonesia pada Konferensi Perubahan Iklim (COP UNFCCC)  ke 24 di Katowice, Polandia,  Senin (10/12/2018).

Dia menyatakan teknologi terbaru juga banyak dimanfaatkan di tingkat tapak pada proses pembibitan, penanaman, pemanenan dan pengolahan hasil hutan.  Menurut Noer Adi, pihaknya mengembangkan sistem registrasi untuk teknologi terbaru ramah lingkungan yang digunakan di sektor lingkungan hidup dan kehutanan (LHK) .  Sistem tersebut mengacu pada ISO 14034-2017.  “Sampai saat ini sudah ada 65 teknologi sektor LHK yang terdaftar,”  katanya.

Sementara itu Direktur Sustainability Asia Pulp and Paper (APP) Sinar Mas Elim Sritaba menyatakan pihaknya memanfaatkan teknologi satelit untuk memantau areal hutan yang dikelola. “Inovasi berperan penting untuk mendukung upaya pengelolaan hutan lestari yang dijalankan APP Sinar Mas. Contoh, kami memanfaatkan teknologi satelit sehingga kami bisa mengambil tindakan segera terhadap potensi kebakaran, perambahan dan illegal loging, dan perselisihan soal lahan,” katanya.

Salah satu satelit yang dimanfaatkan adalah Radarsat 2. Teknologi ini bisa mendeteksi perubahan tutupan hutan bahkan jika hanya satu batang pohon yang ditebang. Informasi dari Radarsat 2 menjadi peringatan dini bagi manajemen APP Sinar Mas untuk melakukan cek lapangan yang mengambil tindakan yang diperlukan.

Menurut Elim, berkat teknologi pemantauan hutan yang didukung program Desa Makmur Peduli Api (DMPA), laju kehilangan hutan di konsesi APP Sinar Mas yang dialokasikan untuk konservasi bisa ditekan dari 5% menjadi tinggal 0,06% per tahun dari areal konservasi sebesar lebih dari 600ribu hektar didalam konsesi seluruh pemasok kayu APP.

Sementara itu Vice President PT Sarmiento Parakantja Timber (Sarpatim) Hans Widjajanto yang mewakili Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) menuturkan, inisiatif keberlanjutan sangat penting bagi pengelolaan hutan alam, termasuk di dalamnya pengembangan program-program keanekaragaman hayati di Indonesia.

Di samping itu, untuk meningkatkan produktivitas hutan pihaknya juga melakukan inovasi teknik silvikultur intensif (silin). Teknologi ini bisa meningkatkan riap pertumbuhan pohon di areal izin usaha pemanfaatan hasil hutan kayu (IUPHHK) hutan alam atau HPH.

Silin dikembangkan sejak tahun 2006 dan hingga kini telah mencakup areal seluas 26.605 hektare dengan jumlah pohon yang ditanam sebanyak 5,4 juta batang. Hans menuturkan, pada awalnya silin dilakukan dengan pola jalur. Kemudian, dikembangkan kembali dengan pola jalur efektif untuk meningkatkan riap tanaman. “Sekarang kami mengembangkan silin dengan penanaman pola klaster,” katanya.

Berkat silin, riap pertumbuhan tanaman mencapai 1-1,75 cm per tahun. Panen pun bisa dilakukan dengan daur panen yang lebih pendek, sekitar 23-36 tahun saja dengan potensi kayu sebanyak 270 m3 per hektare. Sugiharto