Dirjen PSP: Pengelolaan Air Itu Penting

0
152
Dirjen PSP Pending Dadih Permana

Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) terus mensosialisasikan cara mengelola sumber daya air dengan baik. Pengelolaan ini sangat penting untuk menghindari kebanjiran di musim hujan dan kekeringan di musim kemarau.

“Pengelolaan air itu sangat penting,” tegas Dirjen PSP, Pending Dadih Permana. Dengan pengelolaan yang berkualitas, katanya, lahan pertanian masyarakat bisa terhindar dari kebanjiran di musim hujan dan kekeringan di musim kemarau.

“Sekarang semua perangkat desa dan petani selalu membicarakan embung untuk memanen air. Bahkan, saat ini masyarakat membangun secara swadaya setelah memahami fungsi embung bagi budi daya pertanian,” katanya  di Jakarta, Jumat (18/1/2019).

Tak hanya itu, petani juga mulai melirik dam parit sebagai alternatif jaringan irigasi yang biayanya lebih terjangkau. Model dam parit di sentra-sentra produksi pertanian di Jawa diklaim berhasil. Dengan demikian, daerah lain bisa mengikuti langkah itu.

Direktur Irigasi Pertanian, Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP), Kementan, Rahmanto mengakui, embung, damparit dan long storage bisa membantu petani yang arealnya membutuhkan air.

“Kalau embung yang ada mata airnya masih bisa dimanfaatkan walaupun musim kering,” katanya. Dia mengatakan, beberapa embung yang mempunyai sumber mata air, seperti di Bali, NTT dan beberapa daerah lainnya, masih bisa menyelamatkan tanaman padi petani.

Namun, jika embung yang sumber air nya dari dari air hujan (run off), tentu belum bisa dimanfaatkan. “Tapi untuk dam parit dapat berfungsi dengan baik karena sumber airnya tersedia,” paparnya.

Pemerintah setiap tahun membangun dam parit dan embung sebanyak  500 unit serta memberikan bantuan alat dan mesin pertanian (Alsintan). Tahun 2014, Kementan sukses membangun sebanyak 9.504 unit embung di 30 provinsi. Sementara tahun 2015 embung yang dibangun sebanyak 318 unit di 16 provinsi.

Untuk tahun 2016, dana dari Ditjen Tanaman Pangan berhasil membangun 1.869 unit embung di 32 provinsi dan 115 unit embung dari alokasi dana pusat. Tahun 2017 dibangun 500 unit.

Rahmanto menyebutkan, embung yang bersumber dari mata air sangat membantu petani. Contohnya Desa Antapan, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, Bali. Keberadaan embung di sana sangat dirasakan para petani, terutama ketika sudah memasuki musim kemarau.

“Kami tetap dapat menanam sayuran di luasan yang sama dengan saat musim hujan,” ungkap Ketua Kelompok Setia Makmur, I Wayan Widana.

Petani makin efisien

Tak hanya itu. Keberadaan embung juga berhasil meningkatkan efisiensi waktu petani dalam mengolah lahan. Sebelum ada embung, para petani di Desa Antapan mengaku hanya sanggup mengolah sepertiga dari luasan lahan yang digarap.

“Dulu, waktu kita habis dipakai untuk mengangkut air dari sumber yang letaknya cukup jauh. Sekarang jadi hemat waktu untuk bekerja menyiram tanaman,” ungkap I Wayan Arsa, salah satu petani di desa yang berada di ketinggian 800 mdpl tersebut.

Manfaat keberadaan embung juga turut dirasakan oleh petani di Desa Bukti, Kecamatan Kubutambahan, Kabupaten Buleleng. Petani Desa Bukti mengungkapkan, pengembangan pertanian juga sempat memiliki kendala dari sisi ketersediaan air.

Dirjen Pending Dadih menambahkan, keberhasilan pembangunan embung dam parit tidak terlepas  dari kementerian lain, seperti Kemendesa dan Pengembangan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi serta Kementerian PUPR.

“Saat ini, kami lebih terbuka menerapkan sistem budidaya pertanian hemat air. Semua inovasi dari setiap institusi pemerintah, swasta, dan masyarakat kami terima sepanjang sesuai dengan kondisi setempat,” jelasnya.

Misalnya teknologi System of Rice Intensification (SRI) dalam budidaya padi yang hemat air. SRI kerap dikombinasikan dengan sistem padi Jajar Legowo (Jarwo) Super yang dikembangkan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.

“Prinsipnya, petani saat ini mulai cerdas menghemat air. Makin banyak yang menyadari bahwa air perlu dikelola dengan bijak,” katanya.

Menurut Sekretaris Dirjen PSP Kementan, Mulyadi Hendiawan, sosialisasi penghematan air gencar dilakukan sejak Presiden Joko Widodo memberi arahan agar dana desa dialokasikan untuk mendukung kegiatan pertanian.

Program Upaya Khusus (Upsus) yang melibatkan TNI juga membuat percepatan perbaikan jaringan irigasi yang rusak cepat ditangani pemerintah pusat dan pemerintah daerah.

“Kini yang lapor irigasi rusak bukan hanya petani, tetapi juga para Babinsa, sehingga macetnya birokrasi dapat diterobos sejak 3 tahun belakangan,” katanya.

Ditjen PSP telah membangun jaringan irigasi dan pengembangan sumber daya air dengan model padat karya. Jaringan yang meliputi irigasi tersier, perpompaan, embung, serta dam parit ini nantinya langsung dikelola oleh petani.

“Pengelolaan irigasi pertanian sangat dirasakan manfaatnya pada musim kemarau. Contohnya, saat kondisi kekeringan yang begitu ekstrem dan masif akibat El-Nino, mampu meningkatkan produksi padi tahun 2015 mencapai 75,39 juta ton Gabah Kering Giling (GKG) atau meningkat 6,42%,” tuturnya. PSP