Lewat Instrumen Dagang SPS, Ekspor Komoditas Pertanian Meningkat

0
277
Kepala Pusat Kepatuhan, Kerjasama dan Informasi Perkarantinaan, Barantan, Dr. Arifin Tasriff saat memaparkan kerja sama SPS pada acara Bincang Asik Pertanian Indonesia di Gedung Pusat Informasi Agribisnis, Kementerian Pertanian, Jumat (4/1/2019).

Kementerian Pertanian, melalui Badan Karantina Pertanian, selama kurun waktu 4 tahun terakhir telah melakukan negosiasi dagang dalam kerangka SPS (Sanitary and Phytosanitary Measures) komoditas pertanian dengan 18 negara.

“Saat ini kita terlalu menutup diri, tertinggal dari negara lain. Melalui perjanjian kerja sama SPS ini, diharapkan komoditas ekspor kita terus naik,” kata Kepala Pusat Kepatuhan, Kerjasama dan Informasi Perkarantinaan, Barantan, Dr. Arifin Tasriff saat memaparkan kerja sama SPS pada acara Bincang Asik Pertanian Indonesia di Gedung Pusat Informasi Agribisnis, Kementerian Pertanian, Jumat (4/1/2019).

Hasil kerja peningkatan ekspor komoditas pertanian tahun 2018 lewat perjanjian SPS di antaranya adalah Indonesia-Australia CEPA senilai 667,8 juta dolar AS untuk komoditas coklat, manggis, salak dan kopi; Indonesia-Chile CEPA senilai 143,8 juta dolar AS untuk komoditas CPO dan jagung; ASIAN Hongkong China FTA senilai 3 miliar dolar AS untuk komoditas tepung kelapa, mangga, sarang burung walet, madu, coklat, teh dan kopi; sedangkan Indonesia-EFTA CEPA senilai 1,2 muliar dolar AS untuk komoditas rempah-rempah, kakao, teh, kopi dan produk kayu.

Menurut Arifin, saat ini Indonesia telah berhasil melakukan perundingan perdagangan, terutama untuk komoditas pertanian di antaranya, Indonesia-European Union CEPA, Indonesia-Australia CEPA, Indonesia-Chile CEPA, Indonesia-EFTA CEPA, Indonesia-Iran PTA dan Regional Comprehensive Economic Partnership. Sedangkan yang dalam tahap proses perundingan di antaranya, Indonesia-Japan EPA, Indonesia-Pakistan PTA, ASEAN Economic Community dan Indonesia Turkey CEPA.

Barantan juga terus melakukan harmonisasi aturan dari otoritas karantina di negara tujuan ekspor untuk menembus pasar mereka. Hal ini sejalan dengan instruksi Presiden Jokowi agar tidak hanya meningkatkan volume, tapi juga membuka akses pasar bagi jenis komoditas lain yang terus digali.

Dukungan akselerasi ekspor produk pertanian di antaranya adalah melakukan perundingan di bidang standar SPS dan prokol SPS negara, menyusun perjanjian protokol karantina dengan negara tujuan ekspor, mempercepat pemenuhan protokol karantina dan proses inline inspection bersama petani, pertukaran data elektronik sertifikat ke negara tujuan dan perundingan penyelesaian kasus SPS, seperti untuk komoditas CPO, pala, kopi, teh, manggis dan salak.

Dr. Arifin Tasriff (ketiga dari kanan) sedang memberi penjelasan instrumen dagang SPS untuk meningkatkan ekspor komoditas pertanian.

Hadir dalam diskusi ini sejumlah pelaku usaha, masing-masing Indah Sofiati (eksportir jeruk purut dengan tujuan negara ekspor Perancis) dan Hendro Juwono dari Asosiasi Eksportir dan Importir Sayur dan Buah. “Dukungan Barantan sangat nyata bagi penjaminan mutu dan kesehatan produk pertanian kita, dan surat penjaminan karantina kita dipercaya oleh karantina di Perancis,” papar Indah. Humas Barantan