Tahun 2019 Kementan Rehabilitasi JIT 67.000 Ha

0
648
Rehabilitasi Jaringan Irigasi Tersier (JIT) terus dilakukan pemerintah guna meningkatkan indeks pertanaman.

Rehabilitasi Jaringan Irigasi Tersier (JIT) terus dilakukan pemerintah, karena program rehabilitasi ini mampu meningkatkan indeks pertanaman (IP). Naiknya IP otomatis akan meningkatkan produksi pertanian.

Untuk tahun 2019, Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian (Ditjen PSP) akan merehabilitasi JIT seluas 67.037 hektare (ha).

Dirjen PSP, Pending Dadih Permana mengatakan, program rehabilitasi jaringan irigasi yang saat ini sedang gencar dilakukan oleh pemerintah sangat dirasakan oleh para petani. Efek yang langsung dirasakan petani adalah adanya penambahan Indeks Tanam yang tadinya hanya bisa sekali setahun menjadi dua kali atau lebih.

“Dengan adanya program rehabilitasi jaringan irigasi, maka ada peningkatan pada indeks tanam petani, yang sebelumnya hanya sekali setahun menjadi dua kali,” katanya di Jakata, Selasa (15/1/2019).

Lebih lanjut dia mengatakan, di waktu jeda, petani tetap memanfaatkan air yang ada dengan menanam tanaman lain, seperti palawija atau tanaman hortikultura lain, dengan memanfaatkan lahan kosong dan ketersediaan air irigasi.

“Jaringan irigasi juga menambah luas layanan sawah yang terairi. Dengan volume yang sama, air yang dialirkan dapat mengairi sawah lebih luas karena air tersebut terdistribusi secara efisien,” jelasnya.

Menurut PP No. 23/1992 tentang Irigasi, jaringan irigasi terdiri dari 3 tingkatan, yakni dimulai dari irigasi primer, sekunder, dan tersier. Irigasi primer dan sekunder penanganannya di bawah Kementerian PUPR, sedangkan irigasi tersier dan kuarter penanganannya sampai ke pemeliharaannya dilakukan oleh petani.

Selain program rehabilitasi JIT, PSP juga mempunya program Irigasi Perpompaan. Tahun ini direncanakan akan dibangin sebanyak 467 unit, Irigasi Perpipaan 138 unit, Pembangunan Embung/Dam Parit/Long Storage sebanyak 400 unit dan Cetak Sawah seluas 6.000 ha.

Data Agro Indonesia mencatat, dalam empat tahun (2015-2018), Kementerian Pertanian     (Kementan) sudah merehabilitasi Jaringan Irigasi Tersier seluas 3,12 juta ha. Realiasi terbesar terjadi tahun 2015 yang mencapai 2,45 juta ha.

Pending Dadih Permana mengatakan, kegiatan rehabilitasi jaringan irigasi dari luasan 3,12 juta ha, mampu mempertahankan produksi padi sebanyak 16,36 juta ton.

Menurut dia, dengan  peningkatan IP 0,5 saja, maka akan terjadi peningkatan produksi sebesar 8,18 juta ton, sehingga total produksi padi selama empat tahun pada lahan rehabilitasi jaringan mencapai 24,37 juta ton gabah kering panen (GKP).

“Kita harapkan JIT yang sudah diperbaiki tersebut dirawat petani secara swadaya agar   infrastruktur perairan itu tetap berfungsi dengan baik,” kata Direktur Irigasi Pertanian, Ditjen PSP, Rahmanto.

Menurut Rahmanto, pemeliharaan jaringan irigasi, baik skunder, primer dan tersier, tidak lain agar suplai air ke sawah petani menjadi lancar. “Jika suplai air lancar, maka tanaman tidak mengalami kekeringan. Apalagi di musim kemarau, keberadaan air sangat dibutuhkan,” tegasnya.

Dia menyebutkan, Ditjen PSP mempunyai program/kegiatan pengembangan sumber-sumber   air dengan fokus kegiatan mengoptimalkan sumber-sumber air permukaan seperti sungai, mata air dan run off untuk dapat digunakan sebagai suplesi irigasi di lahan pertanian.

Dalam waktu tiga tahun (2015-2017) Direktorat Irigasi Pertanian telah melaksanakan program pengembangan bangunan konservasi air, yakni embung, dam parit, dan long storage sejumlah 2.785 unit.

Dadih menambahkan, untuk irigasi perpompaan, Ditjen PSP mencatat hingga 5 November 2018 telah membangun 2.978 unit. Dengan estimasi luas layanan per unit 20 ha, maka luas   oncoran atau yang dapat diairi saat musim kemarau mencapai 59,78 ribu ha.

Jika berdampak pada peningkatan IP 0,5, maka akan terjadi penambahan luas tanam 29,78 ribu ha dan penambahan produksi padi 154,85 ribu ton.

Tahun 2014, Kementan sukses membangun sebanyak 9.504 unit embung di 30provinsi. Sementara tahun 2015, embung yang dibangun 318 unit di 16 provinsi.

Pengembangan embung, dam parit, long storage dalam empat tahun terakhir (2015-2018) mencapai 2.956 unit, untuk realisasi per 5 November 2018. Dengan estimasi luas layanan 25 ha/unit, maka mampu memberikan dampak pertanaman seluas 73,90 ribu ha.

“Bila dapat memberikan dampak kenaikan IP 0,5, maka potensi penambahan produksi pertanaman mencapai 384,28 ribu ton,” kata Dadih.

Menurut dia, rehabilitasi jaringan irigasi tersier selama empat tahun terakhir (2015-2018),   Ditjen PSP Kementan melaksanakan kegiatan dengan pola bantuan pemerintah sebagai stimulus terhadap terselenggaranya pembangunan pertanian di pedesaan. “Kegiatan yang dilaksanakan Ditjen PSP secara langsung atau tidak langsung berdampak pada peningkatan IP, penambahan luas baku lahan sawah, luas tambah tanam, perlindungan usahatani, dan peningkatan produksi. PSP