Dampak Program Rehabilitasi JIT, Petani Jayapura Mampu Tiga Kali Tanam

0
132

Dampak program rehabilitasi jaringan irigasi tersier (JIT) yang dilakukan Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) berhasil menaikan indeks pertanaman (IP) petani Jayapura dari dua kali tanam menjadi tiga kali tanam dengan produktivitas rata-rata 6 ton/hektare (ha).

Direktur Irigasi Pertanian Ditjen PSP, Rahmanto mengatakan, kegiatan rehabilitasi jaringan irigasi di Kota Jayapura, Papua dilakukan pada tahun Anggaran 2018 seluas 200 ha.  “Salah satunya diberikan kepada Kelompok Tani Jaya seluas 100 ha di Kelurahan Koya Barat, Distrik Muara Tami,  Kota Jayapura, Provinsi Papua,” ujar Rahmanto.

Panjang saluran irigasi tersier yang direhab  sepanjang 135 meter dengan dimensi saluran lebar 40 cm tinggi 60 cm. Sumber  air untuk irigasi di daerah tersebut berasal dari Bendung Tami yang dapat melayani areal 5.000 ha dan dapat memasok air sepanjang tahun.

“Dampak dari kegiatan rehabilitasi jaringan irigasi tersier tersebut adalah meningkatnya  IP dari 200 menjadi 300 dengan produksi rata-rata 6 ton/ha,” katanya.

Selain padi, lahan sawah di daerah tersebut juga ada yang ditanami jagung, cabe, tomat, dan sayur-sayuran. Komoditas tersebut untuk memasok kebutuhan di Kota Jayapura.

Harapan petani ke depan agar kegiatan rehabilitasi jaringan irigasi tersier terus dilanjutkan mengingat masih banyak saluran irigasi tersier yang saat ini berupa saluran tanah, sehingga sulit untuk mengalirkan air sampai ke sawah bagian ujung.

“Tanpa adanya jaringan irigasi tersier, maka aliran air dari sumber air tidak akan bisa sampai ke lahan sawah dan tidak bisa dimanfaatkan oleh petani. Oleh karena itu, jaringan irigasi tersier adalah komponen mutlak dalam jaringan sistem irigasi,” katanya.

Menurut Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 23 Tahun 1992 tentang Irigasi, jaringan irigasi terdiri dari tiga tingkatan dimulai dari irigasi primer, sekunder, dan tersier.

Irigasi primer dan sekunder penanganannya di bawah Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), sedangkan irigasi tersier dan kuarter penanganannya sampai ke pemeliharaannya oleh petani.

Rahmanto menambahkan, irigasi adalah usaha penyediaan, pengaturan, dan pembuangan air irigasi untuk menunjang pertanian yang jenisnya meliputi irigasi permukaan, irigasi air bawah tanah, irigasi pompa, dan irigasi tambak.

“Tanpa air, pertanian tidak akan berjalan baik dan tidak akan memberi hasil optimal. Air mutlak bagi petani padi. Air menjadi kebutuhan mutlak bila ingin meningkatkan produksi padi dan mencapai swasembada beras,” tegasnya.

Padat Karya

Sementara itu, Dirjen PSP Kementan, Sarwo Edhy mengatakan, Kementan melalui Ditjen PSP c.q. Direktorat Irigasi Pertanian sejak tahun 2015 lebih fokus dalam melaksanakan program padat karya untuk mendukung peningkatan infrastruktur irigasi pertanian. Ini juga sekaligus upaya meningkatkan kesejahteraan petani.

“Program padat karya dilaksanakan sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan penyediaan air irigasi pertanian melalui rehabilitasi dan peningkatan fungsi jaringan irigasi tersier serta pengembangan irigasi perpompaan,” ujar Sarwo Edhy, Rabu (20/2/2019).

Dia mengatakan, peningkatan infrastruktur irigasi pertanian dilaksanakan dengan cara memberdayakan Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) dan Kelompok Tani. Mulai dari perencanaan awal sampai pelaksanaan fisik di lapangan (pelaksanaan secara padat karya).

“Program padat karya infrastruktur pertanian ini diharapkan dapat menyentuh langsung kebutuhan public, sehingga dapat memberikan kontribusi selain peningkatan produksi pertanian, juga pengentasan kemiskinan dan penyediaan lapangan kerja,” tegsnya.

Sarwo Edhy pun menjelaskan beberapa keunggulan dari peningkatan infrastruktur irigasi pertanian melalui progam padat karya. Di antaranya meningkatnya semangat partisipatif dan gotong royong, harga kontruksi lebih murah dibandingkan dengan kontraktual, meningkatnya rasa memiliki terhadap sarana yang dibangun dan meningkatnya pendapatan petani atau masyarakat.

“Kegiatan program padat karya oleh masyarakat petani (P3A dan Poktan) dilakukan melalui pola transfer dana pemerintah langsung ke rekening kelompok penerima manfaat. Dana ini untuk digunakan dalam pembangunan fisik infrastruktur irigasi pertanian,” tutur Sarwo Edhy.

Pelaksanaan konstruksi Irigasi Pertanian sendiri dilaksanakan secara swakelola oleh P3A/Poktan secara bergotong-royong dengan memanfaatkan partisipasi dari anggotanya.

Sektor strategis ini berperan penting menumbuhkan perekonomian masyarakat, terutama bagi kemajuan petani Indonesia. Sektor pertanian memiliki banyak komponen pendukung. “Sarana dan prasarana pertanian ini menentukan dalam peningkatan produksi pertanian yang diharapkan mampu mendongkrak kesejahteraan petani,” katanya.

Dia merinci sejumlah program sarana pertanian, yaitu pengembangan dan pengelolaan air, sistem pembiayaan usaha, sistem mekanisasi, fasilitasi penyediaan pupuk bersubsidi dan pendaftaran maupum pengawasan. Program-program tersebut berdampak positif bagi peningkatan produk hingga kesejahteraan petani.

“Tercatat adanya peningkatan IP lahan persawahan sebanya 0,5 di wilayah yang mengalami perbaikan irigasi,” katanya.

Selain itu, para petani juga merasa aman dalam berproduksi karena pemerintah sudah menyediakan layanan asuransi pertanian. Asuransi mampu menggenjot potensi lahan penghasil padi baru, melalui optimasi lahan rawa di beberapa wilayah.

“Secara nyata program tersebut telah memberi dampak terhadap peningkatan IP (Indeks Pertanaman), penambahan luas baku lahan, penambahan luas tambah tanam, perlindungan usahatani, dan peningkatan produktivitas,” katanya. PSP