Ekspor Tenun dan Batik Ditargetkan Sentuh 58,6 Juta Dolar AS

0
112
Menperin Airlangga Hartarto didampingi Dirjen IKMA Gati Wibawaningsih dan Ketua Pameran Adiwastra Nusantara 2019, Yantie Airlangga mengunjungi stand mitra binaan PT Pupuk Indonesia ((Persero) pada Pameran Adiswastra Nusantara 2019 di JCC, Jakarta, Rau (20/03/2019).

Peningkatan ekspor tenun dan batik nasional masih terbuka  seiring produknya yang semakin bernilai tambah tinggi dan terjalinnya beberapa kerja sama ekonomi dengan negara-negara potensial.

Melihat potensi itu, Kementerian Perindustrian (Kemenperin)  menargetkan ekspor produk tenun dan batik pada tahun 2019 mampu menembus angka 58,6 juta dolar AS atau naik 10 % dibanding capaian tahun lalu sebesar 53,3 juta dolar AS.

“Tenun dan batik merupakan high fashion yang nilai tambahnya tinggi, bukan sebagai komoditas. Maka itu, ekspor untuk industri ini terus kami dorong. Apalagi, sekarang Wastra Nusantara semakin beragam dan diminati konsumen global. Bahkan, tadi kami melihat ada substitusi sutra dari pabrik yang di Sukoharjo, Jawa Tengah,” ucap Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto saat pembukaan Pameran Adiwastra 2019 di Jakarta, Rabu (20/03/2019).

Menurut Airlangga, industri tenun dan batik yang merupakan bagian dari kelompok industri tekstil dan busana memiliki kontribusi cukup besar terhadap perekonomian nasional. Industri tenun dan batik, banyak ditekuni oleh pelaku industri kecil dan menengah (IKM) yang tersebar di sentra-sentra industri. “Selain berorientasi ekspor, sektor ini juga tergolong padat karya,” ungkapnya.

Kemenperin mencatat, sentra industri batik di Jawa mencapai 101 unit. Di dalamnya ada 3.782 unit usaha yang menyerap tenaga kerja hingga 15.055 orang. Sementara tenun diproduksi di 368 sentra dengan 14.618 unit usaha dan mempekerjakan 57.972 orang.

“Pemerintah terus berupaya mendorong agar batik dan tenun kita bisa lebih berdaya saing. Karena selain mampu berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional, sekaligus untuk melestarikan budaya tradisional di Tanah Air agar tetap bertahan dan bisa mendunia,” paparnya.

40 ribu pengunjung

Ketua Panitia Pameran Adiwastra 2019, Yanti Airlangga mengatakan, pameraan Adiwastra 2019  merupakan pameran kain adat terbesar di Indonesia. Gelaran tersebut sudah dilaksanakan sejak  tahun 2008 hingga sekarang.

“Pameran ini untuk terus mengobarkan semangat kelestarian serta perngembangan kain adat di nusamtara yang memiliki kekayaan dan keindahan, serta nilai-nilai filosofi dan kearifan lokal yang tinggi,” tegasnya.

Yanti mengatakan, pameran ini ditargetkan dapat dihadiri lebih dari 40.000 pengunjung dari seluruh Indonesia dengan nilai penjualan sebesar Rp45-50 miliar. Menurutnya, minat masyarakat terhadap kain adati terus meningkat dari tahun ke tahun, baik untuk busana, interior maupun kebutuhan lainnya. “Kecenderungan ini kian meningkat sejak Unesco menetapkan batik sebagai Warisan Budaya Dunia Tak Benda dari Indonesia tahun 2009 yang lalu,” jelasnya.

Penyelenggaraan pameran Adiwastra Nusantara ke-12 ini mengusung tema “Wastra Adati Generasi Digital”. Pameran akan diselenggarakan pada 20-24 Maret 2019 di Hall A dan B Jakarta Convention Center dengan diikuti 413 stand peserta dari seluruh Indonesia. Sebagian peserta merupakan binaan dari sejumlah BUMN, di antaranya adalah PT Pupuk Indonesia.

Direktur Jenderal Industri Kecil Menengah dan Aneka (IKMA) Kemenperin Gati Wibawaningsih mengungkapkan, pada Pameran Adiwastra Nusantara tahun 2019 ini, Kementerian Perindustrian memberikan kontribusi yang jauh lebih besar daripada tahun-tahun sebelumnya.

“Fasilitasi yang diberikan antara lain booth pameran untuk 36 industri batik dan tenun yang meliputi 20 booth dari Direktorat Jenderal IKMA dan 16 dari Direktorat Jenderal IKFT,” imbuh Gati.

Selain itu, tambahhya, Ditjen IKMA juga terlibat pada penyelenggaraan fashion show saat opening ceremony dengan tema Tenun Donggala, yang bekerjasama dengan desainer Didit Maulana sebagai salah satu wujud pembangunan perajin tenun di Sulawesi Tengah pascabencana tsunami.Buyung N