Pemda Tentukan Keberhasilan Optimasi Lahan Rawa

0
439

Pemerintah Daerah (Pemda) dinilai sangat berperan dalam menentukan sukses-tidaknya Program Selamatkan Rawa Sejahterakan Petani (Serasi) atau yang disebut optimasi lahan rawa.

“Pemda setempat sangat berperan menentukan keberhasilan optimasi lahan rawa yang dikembangkan Kementan,” kata Staf Ahli Menteri Pertanian, Prof. Dedi Nursyamsi dalam diskusi Forum Wartawan Pertanian bertema ‘Program Serasi Meningkatkan Produktivitas’ di Jakarta, Rabu (24/4/2019).

Dia mengatakan, Pemda yang punya lahan, Pemda pula yang punya sumberdaya manusia (petani). “Jadi, kalau Pemdanya tidak berperan aktif atau tidak mendukung, maka program Serasi ini tidak akan sukses,” tegasnya.

Dedi Nursyamsi mengaku optimistis bahwa Program Serasi dapat berjalan baik dibandingkan Program Lahan Gambut Sejuta Hektare pada masa Orde Baru. Alasannya, lahan rawa aman dari aspek lingkungan dan bahaya kebakaran.

“Program Serasi ini beda dengan Program Gambut Sejuta Hektare, karena program ini memanfaatkan tanah mineral, bukan lahan gambut. Selain itu juga hasilnya sudah terbukti di lapangan,” katanya.

Seperti diketahui, Kementan tahun 2019 ini akan menggarap pengembangan lahan rawa dan pasang surut seluas 500.000 hektare (ha) di enam provinsi. Namun, setelah divalidasi, ternyata hanya 400.000 ha yang siap CPCL (Calon Petani Calon Lokasi).

Lokasi seluas 400.000 ha tersebut berada di Sumatera Selatan seluas 220.000 ha, yang terletak di sembilan kabupaten, yaitu Banyuasin, Musi Banyuasin, Ogan Komering Ilir (OKI), Ogan Ilir, OKI Timur, Musi Rawas Utara, PALI, Ogan Komering Ulu (OKU) dan  Muara Enim.

Sedangkan lokasi di Kalimantan Selatan seluas 148.000 ha berada di sembilan kabupaten, yaitu Banjar, Batola, Hulu Sungai Selatan, Tanah Laut, Hulu Sungai Utara, Hulu Sungai Tengah, Tapin, Balangan dan Tabalong. Untuk Sulawesi Selatan, luasnya hanya 33.000 ha, yang terdapat di Kabupaten Bone, Wajo, Sopeng, Sidrap dan Kabupaten Pinrang.

Minat Tinggi

Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian, Kementerian Pertanian, Sarwo Edhy mengatakan, sampai saat ini minat daerah untuk mengembangkan lahan rawa cukup tinggi. “Saya optimis target seluas 400.000 ha akan tercapai,” katanya.

Potensi pengembangan lahan rawa untuk meningkatkan produksi pangan cukup besar. Dari hasil penelitian, potensi lahan rawa lebak di Indonesia mencapai 34 juta ha. Namun, kajian para ahli menyebut ada sekitar 10 juta ha yang dapat dijadikan lahan pertanian produktif.

“Ke depan akan kita garap secara bertahap. Tahun 2019 ini, kita programkan seluas 500.000 ha di tiga provinsi. Kita sangat concern mengembangkan lahan rawa. Karena lahan rawa merupakan masa depan pangan Indonesia,” tuturnya.

Selain potensi lahan yang cukup luas, potensi peningkatan luas tanam (indeks pertanaman/IP) juga sangat besar. Selama ini, petani di lahan rawa hanya memanfaatkan lahan rawa satu kali tanam dalam setahun dengan masa tanam padi lokasi selama 6 bulan. Produktivitasnya juga hanya 3 ton/ha.

Padahal, dengan teknologi seperti rehabilitasi jaringan irigasi, perbaikan tanggul dan pintu air, lahan rawa bisa ditanam hingga 2-3 kali dalam setahun. Selain itu, dengan menggunakan benih padi unggul seperti Inpara, potensi peningkatan produktivitas tanaman juga cukup besar.

Sarwo mencontohkan, saat panen padi di Desa Kandangan, Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan seluas 1.200 ha, produktivitas tanaman padi mencapai 6,5 ton gabah kering panen (GKP)/ha. “Kita bantu benih dan Alsintan, mulai dari pengolahan tanah dan alat tanam dan panen, sehingga petani senang.”

Untuk kegiatan ini, Kementan menggelontorkan anggaran sebesar Rp3,7 triliun untuk optimasi lahan rawa melalui Program Serasi. Anggaran ini disiapkan Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) sebesar Rp2,5 triliun untuk pengolahan lahan rawa.

Bantuan Saprodi

Sementara Ditjen Tanaman Pangan juga menyediakan anggaran sebesar Rp1,2 triliun untuk kebutuhan sarana produksi pertanian dan pembinaan. Dana ini akan dipakai dalam rangka penyediaan benih, dolomit, dan pupuk hayati. Estimasi biaya untuk saprodi rata-rata Rp2,01 juta/ha.

Sesditjen Tanaman Pangan Bambang Pamuji menjelaskan pihaknya menyediakan bantuan saprodi bagi petani peserta Program Serasi berupa benih, herbisida, pupuk hayati, dan dolomit.

Perhitungannya adalah bantuan benih dialokasikan 80 kg/ha, dolomit 1.000 kg/ha, herbisida 3 liter/ha, dan pupuk hayati 25 kg/ha.

Peneliti pada Balai Penelitian Tanah Kementerian Pertanian, I GM Subiksa mengatakan, keberadaan lahan rawa selama ini sangat termarjinalkan dan rapuh. Dengan kata lain, apapun tumbuhannya tidak bisa tumbuh secara baik.

“Karena itu, kita harus serius memanfaatka lahan rawa karena ini yang jadi problem kita,” katanya. Secara karekteristik, kata Subiksa, lahan rawa memiliki sedimen marin lapisan tanah pirit (FeS2).

Kemudian, posisi dan konsentrasi pirit bervariasi dan menentukan tipologi lahan. Lalu pirit mudah teroksidasi menghasilkan lahan dengan reaksi sangat masif.

Adapun secara genetis, lahan pasang surut merupakan tanah endese dengan tingkat kesuburan yang relatif baik. “Tapi kalau tidak dikelola dengan baik, maka akan terjadi degradasi lahan rawa seperti tanah masam yang menyebabkan basah-basah casium, magsium dan kasium tercuci,” katanya.

Dia menyebutkan, penggunaan pembenah tanah sepeti dolomit sangat membantu untuk kesuburan lahan rawa. “Penggunaan pembenah tanah seperti dolomit sangat dianjurkan,” tegasnya.

Saat ini setidaknya ada tiga produsen dolomit. Satu di antaranya adalah PT Polowijo Gosari. Perusahaan ini mempunyai potensi tambang dolomit yang dimiliki Polowijo sebesar 300 juta ton dengan produksi dolomit 1 juta ton/tahun.

Produksi dolomit Polowijo dengan merek Premium 100, saat ini banyak digunakan perkebunan sawit. Untuk program Serasi, PT Polowijo sudah siap produksinya yang cukup banyak. PSP