Pola Swakelola RJIT, Petani Merasa Punya Tanggung Jawab

0
178

Rehabilitasi Jaringan Irigasi Tersier (RJIT), yang dilakukan Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP), Kementerian Pertanian (Kementan), ternyata dilaksanakan secara swakelola oleh petani selama empat tahun terakhir ini.

“Dengan swakelola, jaringan irigasi tersier yang direhabilitasi umumnya lebih bagus dan petani merasa memiliki, sehingga punya tanggung jawab untuk memeliharanya,” kata Dirjen PSP Sarwo Edhy di Jakarta, Senin (25/3/2019).

Kementan telah berhasil melakukan rehabilitasi jaringan irigasi tersier seluas 3,7 juta hektare (ha) selama periode 2014-2019. Dana rehabilitasi ini sebagian besar disalurkan melalui rekening kelompok, sehingga petani melakukan perbaikan dengan pola swakelola.

Program RJIT dilakukan dengan sasaran untuk membangun jaringan irigasi tersier yang memang kondisinya hampir 50% sudah rusak. “Kita membangun secara bertahap berdasarkan kebutuhan masyarkat petani,” tambahnya.

Sarwo Edhy menambahkan, rumus program RJIT adalah jaringan sudah rusak, di sekitarnya ada sawah yang diairi, ada sumber air dan ada petaninya.

Menurut dia, dengan diserahkan RJIT ini kepada kelompok tani, maka pembangunan jaringan irigasinya dilakukan secara gotong-royong atau swakelola.

Namun, RJIT ini juga bisa dipihak-ketigakan. “Mayoritas RJIT dilakukan melalui bansos oleh petani. Itu lebih kuat, lebih bagus volumenya, lebih panjang dari yang ditetapkan dan mereka merasa memiliki,” paparnya.

Sarwo Edhy mengatakan, bagi masyarakat petani yang membutuhkan bantuan RJIT atau pembangunan embung, maka mereka bisa mengajukan ke Dinas Pertanian Kabupaten atau Kota masing-masing.

“Nanti Dinas bisa meneruskannya ke Ditjen PSP untuk ditindaklanjuti. Bantuan ini diharapkan bisa membantu petani yang ujung-ujungnya bisa mensejahterakan petani,” ujarnya.

Padat Karya

Program RJIT yang saat ini sedang gencar dilakukan oleh pemerintah memang sangat dirasakan manfaatnya oleh petani. Dia menjelaskan, efek yang langsung dirasakan petani adalah naiknya Indeks Tanam, yang tadinya hanya bisa sekali setahun menjadi dua kali atau lebih.

“Dengan adanya program rehabilitasi jaringan irigasi, maka ada peningkatan pada indeks tanam petani, yang sebelumnya hanya sekali setahun menjadi dua kali,” ujar Sarwo Edhy.

Lebih lanjut dia mengatakan, di waktu jeda petani tetap memanfaatkan air yang ada dengan menanam tanaman lain, seperti palawija atau tanaman hortikultura lain, memanfaatkan lahan kosong dan ketersediaan air irigasi.

“Jaringan irigasi juga menambah luas layanan sawah yang terairi. Dengan volume yang sama, air yang dialirkan dapat mengairi sawah lebih luas karena air tersebut terdistribusi secara efisien,” jelas Sarwo Edhy.

Dia mengatakan, Kementan melalui Direktorat Irigasi Pertanian, Ditjen PSP, sejak tahun 2015 lebih fokus dalam melaksanakan program padat karya untuk mendukung peningkatan infrastruktur irigasi pertanian. Ini juga sekaligus upaya meningkatkan kesejahteraan petani.

“Program padat karya dilaksanakan sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan penyediaan air irigasi pertanian melalui rehabilitasi dan peningkatan fungsi jaringan irigasi tersier serta pengembangan irigasi perpompaan,” ujarnya.

Dia mengatakan, peningkatan infrastruktur irigasi pertanian dilaksanakan dengan cara memberdayakan Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) dan Kelompok Tani. Mulai dari perencanaan awal sampai pelaksanaan fisik di lapangan (pelaksanaan secara padat karya).

“Program padat karya infrastruktur pertanian ini diharapkan dapat menyentuh langsung kebutuhan publik sehingga dapat memberikan kontribusi selain peningkatan produksi pertanian, juga pengentasan kemiskinan dan penyediaan lapangan kerja,” tegasnya.

Sarwo Edhy pun menjelaskan beberapa keunggulan dari peningkatan infrastruktur irigasi pertanian melalui progam padat karya. Di antaranya meningkatnya semangat partisipatif dan gotong royong, harga kontruksi lebih murah dibandingkan dengan kontraktual, meningkatnya rasa memiliki terhadap sarana yang dibangun dan meningkatnya pendapatan petani atau masyarakat.

“Kegiatan program padat karya oleh masyarakat petani (P3A dan Poktan) dilakukan melalui pola transfer dana pemerintah langsung ke rekening kelompok penerima manfaat. Dana ini untuk digunakan dalam pembangunan fisik infrastruktur irigasi pertanian,” tutur Sarwo Edhy.

Pelaksanaan konstruksi Irigasi Pertanian sendiri dilaksanakan secara swakelola oleh P3A/Poktan secara bergotong-royong dengan memanfaatkan partisipasi dari anggotanya.

Direktur Irigasi Pertanian PSP, Rahmanto mengatakan, dalam   waktu   tiga   tahun   (2015-2017) Ditjen PSP telah melaksanakan program pengembangan bangunan konservasi air, yakni  embung, dam parit, dan long storage sejumlah 2.785 unit.

Untuk irigasi perpompaan, Ditjen PSP mencatat hingga 5 November 2018 telah membangun 2.978 unit. Dengan estimasi luas layanan per unit   20   ha,   maka   luas   oncoran   atau   yang   dapat   diairi,   saat   musim   kemarau mencapai 59,78 ribu ha.

Pengembangan embung, dam parit, long storage dalam empat tahun terakhir, 2015-2018 realiasi per 5 November 2018 mencapai 2.956 unit. Dengan estimasi luas layanan 25 ha/unit, maka mampu memberikan dampak pertanaman seluas 73,90 ribu ha. PSP