Rekreasi dan Edukasi di Kampung Satwa

0
25
Hanif Kurniawan

Satwa dan tumbuhan merupakan salah satu bagian dari ekosistem alam yang tidak dapat ditinggalkan. Satwa dan mahkluk hidup lainnya memiliki peranan yang penting dalam keberlangsungan ekosistem yang sehat dan seimbang. Keberadaan mereka berada dalam satu garis yang disebut rantai makanan. Jika rantai makanan tadi terganggu, maka akan berpotensi mengganggu keseimbangan alam. Jika salah satu unsur mati, keseimbangan lingkungan sudah pasti akan terganggu dan kesehatan lingkungan pun juga akan goyah. Karenanya, penting untuk memperhatikan keberlangsungan satwa dan atau hewan liar  dan flora yang masih kita jumpai. Melindungi dan melestarikan keberadaannya.

Melindungi serta melestarikan  satwa dan flora merupakan bagian dari sikap dan gerakan moral dalam rangka mewujudkan lingkungan yang lestari, lingkungan yang sehat dan seimbang. Karena manusia seringkali lupa, dengan aktivitasnya kadang justru membuat lingkungan menjadi rusak dan tidak seimbang lagi. Sebenarnya gerakan untuk membuat lingkungan yang lestari ini bisa dilakukan siapapun yang dimulai dari hal sederhana.

Seperti yang dilakukan oleh Hanif Kurniawan yang biasa dipanggil dengan mas Aan. Sarjana Hukum lulusan UII, yang sekarang sering dibilang Sarjana Hewan kecintaannya terhadap satwa dari sejak kuliah.

Sejalan dengan motto hidupnya “cintai satwa dan tumbuhan, sebagai wujud cintamu pada Sang Pencipta, Mas Aan bersama rekan rekannya melakukan tindakan yang nyata, mencintai lingkungan dengan merintis dan membangun Kampung Satwa.

Kampung Satwa adalah sebuah kampung yang berada di Kedung Banteng, Desa Sumberagung, Moyudan, Sleman, Yogyakarta. Kampung yang menggambarkan ekosistem alam. Di Kampung Satwa ini masyarakat bisa  belajar tentang ekosistem alam serta berinteraksi langsung dengan berbagai satwa.  Pengunjung dapat dengan bebas melihat secara dekat aneka jenis satwa yang selama ini mereka takuti, seperti ular, biawak, kura kura, yang tersebar hampir di setiap halaman rumah warga. Untuk melihat lebih dekat seperti apa Kampung Satwa dan ide kreatif Aan, Agro Indonesia berkesempatan mewawancarainya.

Mulai kapan kampung ini terbentuk?

Kalau kegiatannya untuk kampung satwa dirintis tahun 2017, tetapi kalau untuk memulai bersama hewan khususnya reptil sudah dari sejak mahasiswa. Di tahun 2017 bertemu dengan teman teman komunitas bikin edukasi bersama ke sekolah sekolah. Dan muncul  usul untuk sediakan tempat sebagai sekretariat, dan sekalian edukasi ke beberapa sekolah, diundang akhirnya terbentuk kampung satwa ini. Setelah kampung satwa terbentuk dan teman  teman mulai kumpul dan ada kekompakan, akhirnya berlanjut buat Forum Edukasi Satwa dan Tumbuhan (Forest), yang melibatkan banyak komunitas Satwa, ada sampai 27 komunitas. Dan melakukan edukasi kebeberapa tempat, juga sekolah sekolah.

Kenapa dinamakan kampung satwa?

Dinamakan kampung satwa karena hampir sebagian besar dikampung ini warganya memiliki hobi dan memelihara  hewan hewan kesukaannya.

Apakah ada hambatan dalam pembentukannya?

Hambatan pasti ada, karena tidak mudah membangun kesadaran dan membentuk kecintaan masyarakat Indonesia pada satwa, mengenal, menyayangi dan menyelamatkan satwa pun tidak sebatas pada yang langka dan dilindungi saja. Tetapi untuk warga sini Kedung Banteng, saya bersyukur, sangat mendukung. Warga di sini boleh dibilang memelihara satwa satwa. Bahkan mereka meminta kepada kami untuk ikut memelihara. Tetapi untuk memelihara pasti butuh makanan, yang jelas butuh dana. Jadi hambatannya lebih kepada finansial karena satwa juga butuh makanan yang sesuai. Itu memerlukan dana juga.

Ada nilai lebih yang diharapkan dari kampung satwa ini?

Kampung satwa tak hanya menjadi hiburan tersendiri  tapi juga tempat belajar tentang keseimbangan ekosistem alam. Belajar dan mengenal secara dekat binatang binatang yang semula mereka takuti. Seperti ular, biawak, iguana, beberapa reptil lainnya. Mengenali satwanya, memahami satwanya , dan bagaimana kita memperlakukannya. Yang utama satwa adalah bagian ekosistem. Sehingga ekosistem terjaga dengan baik, dan membuat lingkungan sehat

Ada kemiripan dengan Kebun Bintang?  

Miripnya karena banyak satwa yang dipelihara. Tetapi di sini, masyarakat tidak hanya melihat atau menonton saja, mereka bisa berinteraksi langsung dengan satwa tersebut. Pengunjung bisa dengan bebas melihat tingkah laku binatang dan bisa berinteraksi langsung dengan hewan hewan yang sudah jinak tersebut.  Jadi di sini bisa rekreasi dan edukasi. Dan tanpa biaya juga. Kita lebih ke edukasinya, kalau hanya melihat saja, di kebun binatang bisa. Kita utamanya pengenalan, kita siapkan, reptil seperti ini, juga kalau mahasiswa mau pelatihan disini juga bisa. Bagaimana iguana, pengenalan terhadap ular berbisa, sampai pada king kobra, sampai pada penanganannya. Lebih spesifik untuk mengenal. Jadi beda dengan kebun binatang. Jadi disini memang untuk edukasi

Bagaimana dengan satwa yang buas?

Untuk binatang yang berbahaya dan berbisa, kita tempatkan di kandang kaca.

Apa targetnya?

Target kita menciptakan masyarakat untuk cinta lingkungan hidup dan seisinya.

Bagaimana dengan rencana ke depan?

Impian kita  ada living laboratory. Jadi mahsiswa juga bisa belajar disini, dan ke depannya ingin ada satwa satwa yang mewakili. Ketika ada riset menuju kesana kita siap. Untuk belajar tentang lingkungan disini.

Bagaimana dengan larangan pemerintah tentang pelarangan kepemilikan satwa yang dilindungi?

Benar ada UU No 5 th 90 tentang Konservasi Sumber Daya Alam. PP No 7 tentang Pengawetan Tumbuhan Dan Satwa. Permen LHK 20 th 2018 diubah dengan P.92 LHK 2018. Tetapi satwa yang bisa dinikmati untuk edukasi dan rekreasi di kampung satwa adalah satwa yang tidak masuk dilindungi. Kami sedang dalam proses kerjasama dengan Fakultas Biologi UGM untuk pendampingan dan penataan ke menuju Living Laboratory. Apabila dimungkinkan demi perkembangan ilmu pengetahuan, tidak menutup kemungkinan satwa dilindungi pun dapat kami pelihara dan akan kami sesuaikan dengan peraturan yang berlaku. Pada prinsipnya kami masih menuggu petunjuk dan penataan dari Fakultas Biologi UGM. Anna Zulfiyah