Bulog Dilemahkan dengan Isu Beras Berkualitas Rendah

0
76

Keberadaan Perum Bulog sebagai stabilisator harga dan pasokan beras di dalam negeri kini sedang dilemahkan oleh pemain kartel melalui isu  Bulog mensuplai beras bau dan berkutu serta beras berkualitas rendah.

“Permainan kartel yang dengungkan beras Bulog kurang bagus, melemahkan Bulog. Padahal beras Bulog berkualitas. Kalau ada beras yang rusak dikarantina itu supaya tidak tercampur. Kita juga tidak mengedarkan,” ujar Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso di acara Halal Bihalal dengan  Media di Gedung Bulog Corporate University, Jakarta, Selasa (02/07/2019).

Menurutnya, upaya melemahkan Perum Bulog ini akan berdampak pada makin berjayanya para pemain kartel pangan di dalam negeri yang akhirnya akan merugikan petani dan masyarakat konsumen.

Padahal, sejak dirinya menjabat sebagai Dirut Bulog, Budi Waseso yang akrab disapa Buwas sudah meminta jajarannya untuk menghasilkan pangan yang berkualitas. “Saya semenjak jadi dirut, berusaha memenuhi standar di Bulog yang ditentukan Negara,” jelas Buwas.

Gebrakan lainnya, Bulog saat ini juga memanfaatkan teknologi. “Sistem sudah mulai dibangun, Bulog harus mengikuti perkembangan teknologi. Jangan konvensional. Sekarang masyarakat berharap, pelayanan semakin cepat. Nanti setiap pelayanan pakai teknologi. Belanja online sudah bisa melayani,” bebernya.

Pemasok BPNT

Dalam kesempatan itu, Buwas juga meminta segera mengeluarkan keputusan mengenai siapa yang akan bertugas mensuplai beras untuk program Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT).

“Isu ini masih terus dibahas di tingkat Menko. Saya minta segera ada keputusan karena kasihan petani di dalam negeri,” pintanya.

Buwas mengingatkan, jika memang pengadaan beras untuk program BPNT ada di tangan Menteri Sosial, maka Perum Bulog hanya akan fokus pada kegiatan operasi pasar, pengadaan beras untuk aparatur sipil negara (ASN), bantuan bencana dan kegiatan komersil.

Walaupun begitu, dia juga mengingatkan bahwa saat ini di gudang-gudang Bulog terdapat stok beras sekitar 2,5 juta ton yang terancam busuk jika tak ada kepastian mengenai nasib Bulog.

“Jika memang sudah ada keputusan kalau Bulog tak dilibatkan dalam BPNT,  tak apa. Artinya, stok beras sebanyak 2,5 juta ton bisa dijual. Namun, siapa yang akan bertanggungjawab soal stabilitas harga dan pasokan beras di dalam negeri,” ingatnya.

Buwas juga mengatakan kalau Perum Bulog tetap melakukan tugas penyerapan di dalam negeri walaupun stok berasnya menumpuk. Dia tidak ingin petani di dalam negeri mengalami kerugian akibat harga berasnya jatuh.

Jika mengacu cadangan beras pemerintah (CBP), maka target penyerapan beras Bulog tahun ini mencapai sekitar 2,5 juta ton.

“Tapi dalam kondisi seperti ini, Perum Bulog tak harus berpatokan pada CBP. Bulog akan terus melakukan penyerapan dan akan beli beras petani dengan harga pasar dan menjualnya secara komersial,” jelasnya. Buyung N