Tanaman Padi Kena Kekeringan Capai 49.408 Ha

0
120

Musim kemarau sudah terjadi di beberapa wilayah Indonesia. Hingga bulan Juni 2019, areal tanaman padi yang terkena kekeringan mencapai 48.408 ha. Terluas terjadi di Jawa Timur (Jatim).

Untuk mengurangi dampak kekeringan, petugas lapangan perlu meningkatkan kemampuan mengelola embung, sehingga bisa dimanfaatkan pada musim kemarau, seperti sekarang ini.

Sehubungan dengan itu, Direktorat Irigasi Pertanian, Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementerian Pertanian (Kementan) melakukan Training of Trainer (TOT) Peningkatan Kapasitas Petugas dan Petani dalam Adaptasi Perubahan Iklim di Tingkat Usahatani, di Balai Besar Pelatihan Pertanian, Lembang, 24-28 Juni 2019.

Kegiatan tersebut diikuti oleh peserta berjumlah 58 orang berasal dari 8 Provinsi dan 25 Kabupaten. Dengan narasumber berjumlah 6 orang berasal dari Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi, Badan Litbang Pertanian, hingga Field Indonesia.

“Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan petani tentang perubahan iklim serta meningkatkan pemanfaatan dibangunnya embung pertanian dalam hal ini dapat berupa embung/dam parit/long storage dalam upaya adaptasi dan antisipasi perubahan iklim di tingkat usaha tani pada saat musim kemarau,” kata Direktur Irigasi Pertanian, Rahmanto.

Sebab, perubahan iklim secara langsung akan berpengaruh terhadap capaian ketahanan pangan nasional. “Pengaruh yang sangat dirasakan mulai dari infrastruktur pendukung pertanian seperti pada sumber daya lahan dan air, infrastruktur jaringan irigasi, hingga sistem produksi melalui produktivitas, luas tanam dan panen,” tuturnya.

Oleh karena itu, diperlukan upaya adaptasi yang diimbangi dengan upaya antisipasi yang dapat dilakukan oleh petani dengan bantuan dari pemerintah, sehingga tingkat kepedulian petani terhadap adanya gejala alam tersebut dapat lebih diantisipasi dan dapat mengurangi dampak negatif terhadap usaha pertaniannya, terutama kekeringan yang mengakibatkan gagal panen.

Untuk diketahui, selama lima tahun terakhir sudah sebanyak 2.962 unit embung terbangun sebagai infrastruktur air dan bentuk antisipasi terhadap perubahan iklim.

“Embung tersebut sudah seharusnya dikelola dengan baik dengan sumberdaya manusia yang mempunyai kemampuan pengelolaan dan daya adaptasi yang baik,” tambahnya.

Sehingga dalam pelatihan tersebut, petugas dan petani diberikan pengetahuan tentang bagimana cara memanfaatkan embung pertanian dalam upaya adaptasi dan antisipasi perubahan iklim di tingkat usaha tani pada saat musim kemarau.

“Sehingga petani maupun petugas lapangan bisa memiliki daya adaptif yang meningkat meskipun perubahan iklim terus terjadi,” tuturnya.

Kekeringan di Gunung Kidul

Areal tanaman padi yang terkena kekeringan dari bulan Januari-Juni 2019 sudah mencapai 49.408 ha. Dari jumlah ini, yang dinyatakan puso seluas 3.001 ha.

“Jawa Timur terkena kekeringan paling luas. Kemudian disusul Jawa Tengah. Sementara daerah lain, kecil-kecil,” kata Direktur Perlindungan Tanaman Pangan, Edi Purnama kepada Agro Indonesia di Jakarta, Kamis (27/6/2019).

Sementara di Yogjakarta, areal yang terkena kekeringan sekitar 4.963 ha. Dari jumlah ini sekitar 1.501 ha terdapat di Kabupaten Gunung Kidul. “Bahkan di antaranya mengalami puso. Ini hasil peninjauan kami bersama petugas POPT di Wilayah Kabupaten Gunung Kidul,” ucapnya.

Kekeringan terjadi di lima kecamatan di Gunung Kidul, berdasarkan kategori Ringan, Sedang, Berat dan Puso periode 1-15 Juni 2019. Yakni Kecamatan Semin untuk kategori ringan 874 ha, sedang 203 ha, Berat 250 ha, Puso 350 ha. Berikutnya adalah Kecamatan Nglipar kategori ringan 367 ha, sedang 113 ha dan Berat 40 ha.

Kecamatan Gedangsari hanya puso 807 ha. Kecamatan Ngawen kategori ringan 355 ha, Sedang 279 ha, berat 171 ha dan puso 182 ha. Kecamatan Karangmojo untuk kategori ringan 290 ha, sedang 141 ha, Berat 10 Ha, dan puso 7 ha.

Kecamatan Playen kategori ringan 89 ha, sedang 60 ha, berat 59 ha dan puso 37 ha. Kecamatan Ponjong kategori ringan 59 ha, sedang 40 ha dan Berat 1 ha. Sedangkan Kecamatan Patuk terdapat dua kategori, yakni berat 40 ha dan puso 113 ha.

Kecamatan Semanu katagori ringan 6 ha, sedang 4 ha dan berat 1 ha. Sedangkan dua Kecamatan Girisubo kategori ringan 1 ha dan puso 5 ha, dan Kecamatan Paliyan hanya katagori ringan 5 ha. Secara kumulatif kekeringan tanaman padi untuk kategori ringan 2.046 ha, sedang 840 ha, berat 576 ha dan puso 1.501 ha.

Wilayah yang mengalami kekeringan sebagian besar berupa perbukitan dan pegunungan kapur. Hal ini tampak dari lokasi beberapa kecamatan yang terkena kekeringan, seperti tersebut di atas termasuk dalam zona utara dengan ketinggian 200-700 m di atas permukaan laut.

Ditambah lagi varietas padi pada lahan yang mengalami kekeringan adalah Ciherang. Varietas tersebut bukan merupakan toleran kekeringan, sehingga kurang mampu bertahan ketika terkena kekeringan.

Jika masih terdapat sumber air (air dangkal) Dinas Pertanian setempat untuk mengajukan bantuan pompa air kepada instansi terkait (Ditjen Sarana Prasarana Pertanian, Kementan) atau  dengan memanfaatkan sarana pengaliran air dari sumber air yang masih ada.

Selain itu meningkatkan koordinasi dengan instansi terkait untuk mengantisipasi kekeringan antara lain dengan menggunakan Cadangan Benih Nasional (CBN) dan Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) bagi daerah yang terkena Dampak Perubahan Iklim. PSP