Hasil Litbang dan Inovasi KLHK Diminati

0
60
Kepala Pusat Litbang Hasil Hutan Dwi Sudharto memamerkan produk kayu sawit hasil litbang dan inovasi peneliti Pusat Litbang Hasil Hutan BLI KLHK.

Hasil litbang dan inovasi yang dilakukan peneliti-peneliti Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) diminati oleh masyarakat sebagai pengguna. Hasil litbang dan inovasi itu bisa mengoptimalkan manfaat hasil hutan untuk mendukung kelestarian lingkungan hidup yang lebh baik.

Hal itu yang tergambar saat Festival Riset Hutan Tropis dan Lingkungan Hidup di Puspitek Serpong, Tangerang Selatan, Selasa (13/8/2019).

Kepala Departemen Perencanaan PT Wijaya Sentosa Andi Taufik Husen Dalimunte mengungkapkan, pihaknya memanfaatkan sejumlah hasil litbang dan mendapat pendampingan dari Pusat Litbang Hasil Hutan (P3HH) Badan Litbang dan Inovasi (BLI) KLHK. “Dampaknya produktivitas kami bisa meningkat dengan kerusakan hutan yang minimal,” katanya saat talkshow Iptek dan Inovasi Pengolahan Hasil Hutan.

PT Wijaya Sentosa merupakan pemegang izin usaha pemanfaatan hasil hutan kayu (IUPHHK) hutan alam seluas 130.755 hektare di Papua Barat. Perusahaan itu merupakan bagian dari Sinar Wijaya Grup yang total mengelola areal konsesi IUPHHK sekitar 500.000 hektare.

Andi menuturkan, salah satu hasil litbang yang dimanfaatkan adalah arkoba. Ini adalah produk hasil pencampuran arang, kompos dan bioaktivator yang bisa menyuburkan tanaman. Arkoba dibuat dengan memanfaatkan daun-daun dan sisa tebangan pohon. Memanfaatkan arkoba, pohon merbau yang ditanam dengan teknik silvikultur intensif bisa tumbuh dengan sangat baik. “Pohon merbau umur tiga tahun sudah setinggi 3-4 meter dengan diameter 6-7 centimeter,” katanya.

Selain arkoba, produk lain yang dihasilkan adalah pupuk organik cair dan pestisida alami. Pemanfaatan produk-produk organik itu, kata Andi, mendukung perusahaannya dalam proses mendapatkan sertifikasi pengelolaan hutan produksi lestari skema sukarela, FSC.

Hasil litbang P3HH lain yang dimanfaatkan oleh PT Wijaya Sentosa adalah teknik pemanenan kayu Reduce Impact Logging (RIL) dan Tree Length Logging. RIL adalah teknik yang bertujuan untuk meningkatkan efisiensi penebangan sekaligus mengurangi hutan yang terdampak. Sementara Tree Length Logging bertujuan untuk mengoptimalkan kayu yang bisa dimanfaatkan dari setiap batang pohon yang dipanen.
“Berkat teknik tersebut efisiensi pemanenan kayu naik dari 86,2% menjadi 91,97%. Jadi dulu sekitar 5% tebangan dibuang, kini termanfaatkan. Produktivitas kami pun naik,” kata Andi.

Sebagai gambaran, jika rata-rata tebangan PT Wijaya Sentosa sebanyak 100.000 m3 per tahun, dengan implementasi RIL dan Tree Length Logging, perusahaan tersebut bisa menambah produktivitas hingga 5.000 m3.

Peneliti P3HH Yuniawati menyatakan, hasil litbang yang juga banyak dimanfaatkan dalam praktik pengelolaan hutan alam adalah alat pendeteksi ‘growong’ pohon dan pengukur diameter kayu yang dipopulerkan sebagai wesyano. “Pemanfaatan produk-produk hasil litbang dan inovasi dari P3HH mendukung optimalisasi pemanfaatan hasil hutan,” katanya.

Kayu Sawit
Kepala P3HH Dwi Sudharto menuturkan, pihaknya mengajak masyarakat untuk memanfaatkan litbang dan inovasi yang sudah dihasilkan. Menurut Dwi, P3HH BLI akan terus melakukan litbang dan inovasi untuk merespons perkembangan dan kebutuhan masyarakat.

“Seperti AIKO, alat identifikasi kayu otomatis. Perangkat ini akan terus kami kembangkan hingga bisa memberi manfaat yang luas bagi masyarakat,” katanya.
Memanfaatkan AIKO, masyarakat bisa mengenali jenis kayu, kelas kuat dan awet kayu, status perlindungan kayu, bahkan lokasi kayu berasal hanya dalam hitungan detik. AIKO memanfaatkan telefon seluler berbasis android dan aplikasinya bisa diunduh di playstore.

AIKO yang awalnya dikembangkan bersama Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) kini semakin kuat karena bisa mengidentifikasi meski dalam keadaan off line. Hal ini, kata Dwi, sangat menguntungkan masyarakat karena bisa mengenali jenis kayu di lokasi manapun. “Masyarakat akan mudah mengetahui apakah kayu yang dimafaatkan legal atau justru ilegal,” katanya.

Produk litbang dan inovasi ungulan lain adalah teknologi pemanfaatan kayu sawit. Teknologi ini bisa memanfaatkan kayu sawit yang selama ini terbuang. “Puluhan tahun, kayu sawit hanya dibuang. Kalau dihancurkan, butuh biaya. Dibakar tidak boleh. Kalau dibiarkan bisa menjadi sarang hama,” kata Dwi.

Teknologi yang dikembangkan P3HH bisa mengolah kayu sawit menjadi produk flooring, kayu lapis, bahkan kayu pertukangan. Menurut Dwi, pihaknya saat ini sedang mengajukan usulan kepada Kementerian Keuangan, agar ada insentif khusus bagi industri yang mau memanfaatkan kayu sawit. “Potensi kayu sawit sangat besar untuk mengisi kebutuhan produk kayu di dalam negeri maupun di luar negeri,” kata Dwi.

Wirausaha
Kepala BLI KLHK Agus Justianto menyatakan pemanfaatan hasil-hasil litbang dan inovasi akan terus didorong. BLI KLHK, katanya, akan terus bergerak aktif, proaktif dan progresif dalam menjawab dinamika dan kompleksitas pengelolaan LHK, termasuk menghadapi era industri 4.0 dan society 5.0.

“Tingginya dinamika persoalan LHK dan terbatasnya sumberdaya, maka peran IPTEK tidak lagi cukup memproduksi dan reproduksi pengetahuan, namun harus diimbangi oleh co-produksi pengetahuan. Langkahnya yaitu mempromosikan dan mengkampanyekan, membangun jiwa kewirausahaan, memperluas jaringan kerja, serta masuk dalam area kerja virtual,” katanya.

Agus Justianto menekankan bahwa BLI KLHK saat ini mulai bekerja dalam 4 paradigma baru. Empat paradigma baru tersebut yaitu Produksi/reproduksi pengetahuan, pertukaraan dan perdebatan (kontestasi) pengetahuan dan branding; Promosi, kampanye, dan advokasi; Pembangunan jaringan dan memperluas jangkauan; dan Masuk dalam virtual era dan society era, serta merintis komersialiasi, bisnis, marketing dan wirausaha.

Agus menyatakan bahwa litbang tidak cukup lagi bergerak dalam pelayanan publik, namun diperluas dengan agenda-agenda komersialisasi dan bisnis litbang. BLI juga menginisiasi industri pengetahuan. Pemasaran bergerak dari pemasaran secara fisik, diperkuat secara digital. Kapasitas SDM diperkaya dengan inisiatif-inisiatif wirausaha.

Agus menambahkan, BLI KLHK telah memiliki lebih dari 200 hasil litbang unggulan dengan lebih dari 50 diantaranya telah dipatenkan. Banyak produk yang dihasilkan adalah produk konsumer yaitu produk yang bisa digunakan langsung oleh konsumen, seperti parfum tobarium yang berbahan kayu kemenyan. Parfum ini memiliki aroma berkelas yang tak kalah dengan parfum merk ternama. “BLI juga banyak menghasilkan benih tanaman unggul yang bila dimanfaatkan bisa meningkatkan kualitas tanaman masyarakat,” kata Agus.

Sugiharto