Indah Megahwati: Musim Kemarau, Genjot Realisasi Asuransi

0
61

Musim kemarau yang sedang berlangsung sekarang ini akan menyebabkan ribuan sawah mengalami gagal panen (puso). Bagi petani yang sudah ikut program Asuransi Usaha Tanaman Padi (AUTP), tentunya  tidak terlalu khawatir karena akan mendapat ganti rugi.

Namun, bagi petani yang belum ikut AUTP, maka jelas mereka akan menanggung kerugian. Untuk itu, Kementerian Pertanian (Kementan) selalu mensosialisasikan program ini agar petani ikut serta dalam asuransi. Jika terjadi gagal panen, maka petani mendapat ganti rugi.

“Kemarau ini momen tepat untuk ajak petani ikut asuransi,” kata Direktur Pembiayaan Pertanian, Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP), Indah Megahwati ketika mendamping Dirjen PSP Sarwo Edhy dalam kunjungan ke Desa Haurgajruk, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Lebak, Banten, Rabu (14/8/2019).

Dia menyebutkan, target luas areal tanaman padi yang dibidik ikut AUTP tahun 2019 seluas 1 juta hektare (ha). Hingga Juli 2019, tercatat 375.278,28 ha ikut asuransi. Tahun  2018, realisasi lahan yang ikut dalam program asuransi seluas 806.199,64 ha dari target 1 juta ha dan yang mengajukan klaim seluas  12.194,29 ha.

Untuk realisasi Asuransi Usaha Ternak Sapi-Kerbau (AUTS/K), hingga Juli 2019 telah mencapai 87.419 ekor sapi dengan total nilai preminya sebesar Rp17,48 miliar. Tahun ini target AUTS sebanyak 120.000 ekor sapi.

Sementara data Ditjen Peternakan mencatat, hingga 6 Agustus 2019 pada aplikasi SIAP, data yang masuk sudah tercatat 91.429 ekor. Dari jumlah itu, yang sudah terbit Daftar Peserta Definitif (DPD) sebanyak 66.209 ekor. Sedangkan jumlah premi yang sudah dibayar baru 45.264 ekor.

Provinsi yang paling banyak meng-asuransi-kan ternak sapi adalah Jawa Barat, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Sumatera Utara dan Lampung.Tingginya respon masyarakat ternak karena program ini sudah berjalan selama empat tahun.

Indah menyebutkan, masih rendahnya realiasi AUTP karena beberapa faktor, salah satunya adalah sosialisasi yang belum maksimal. Untuk menggenjot peserta AUTP, Kementan telah menyiapkan strategi.

“Target saya dalam 2 bulan ini menyelesaikan asuransi AUTP dan AUTS/K bisa mencapai 90%. Kita akan jemput bola, dengan pararel melakukan kegiatan, terutama di tiga Provinsi Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah,” ujar Indah.

Selain itu, lanjut Indah, pihaknya juga akan meningkatkan sosialisasi aplikasi Sistem Informasi Asuransi Pertanian (SIAP). Sebab, sistem pendaftaran online akan mempermudah petani mengikuti program asuransi pertanian, baik AUTP maupun AUTS/AUTK.

“Mengenai asuransi, sekarang online. Kita akan melihat lagi seperti apa aplikasinya. Selain ada asuransi, nanti akan ada kegiatan lainnya di online untuk kesejahteraan petani, ini sedang kita rancang,” tambahnya.

Indah juga mengaku, jumlah peserta (petani) belum mencapai target bukan semata karena petani tidak mau mengikuti program  asuransi. Namun, ada penyebab lainnya, seperti  penyuluh pertanian dan pihak asuransi yang kurang mensosialisasikan ke petani.

“Karena aplikasi barunya online, dan masih ada beberapa kendala, seperti penyuluh yang belum paham juga termasuk sinyal yang sulit,” katanya.

Karena itu, Indah mengungkapkan, pada 2020 pihaknya akan memberikan penyuluh pertanian insentif pulsa untuk kegiatan penyuluhan asuransi pertanian dan kartu tani. “Kita harapkan bisa di-launching kegiatan ini tahun 2019,” ujarnya.

Untuk percepatan penyerapan asuransi pertanian, Indah mengatakan, pihaknya juga akan melakukan pemetaan terlebih dahulu untuk mengetahui kawasan mana saja yang memiliki peluang besar untuk memperoleh konsumen.

Provinsi Jawa Tengah, Jawa Timur dan Jawa Barat merupakan provinsi yang menjadi sasaran awal. ”Kami akan ke Kalimantan Selatan, Sumatera Selatan dan Sulawesi Selatan untuk memasukkan agenda. Karena mereka dapat bantuan untuk progran SERASI, jadi supaya mereka juga masuk asuransi. Kita jemput bola bersama pihak asuransi,” katanya

Premi Disubsidi

Sementara itu Dirjen PSP, Kementan, Sarwo Edhy mengatakan, AUTP sangatlah penting bagi petani karena manfaatnya bisa dirasakan di kala lahan mengalami gagal panen. Petani dianjurkan ikut asuransi.

“Preminya hanya Rp36.000/ha. Murah, karena dapat subsidi dari pemerintah. Sayang sekali kalau petani tidak ikut. Sebab, jika terjadi gagal panen, petani dapat ganti rugi dari Jasindo sebesar Rp6 juta/ha. Ini kan sangat membantu petani,” tegasnya.

Dirjen meminta Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Lebak, Dede Supriatna untuk rajin mensosialisasikan AUTP kepada para petani. “Tolong AUTP ini terus disosialisasikan kepada petani di sini karena sangat bermanfaat buat petani. Tolong ya pak kepala dinas,” kata Sarwo Edhy.

Dede berjanji untuk lebih intens lagi mensosialisasikan AUTP kepada para petani di Lebak. Dia mengaku masih banyak petani Lebak yang belum ikut  asuransi pertanian.

“Ke depan, kami berharap para petani di Lebak ikut semua program asuransi pertanian, sehingga saat musim kering dan gagal panen petani bisa mendapatkan ganti rugi dari asuransi,” kata Dede.

Terkait musim kemarau, Sarwo Edhy menyebutkan, Kementan melalui Ditjen PSP telah melakukan berbagai usaha dalam mengatasi kekeringan. Upaya penanggulangan gagal panen akibat bencana kekeringan ini sebenarnya sudah dilakukan dengan memberikan informasi kepada para petani terkait iklim.

Selain itu, memberikan rekomendasi budidaya tanaman seperti penggunaan varietas toleran kekeringan. Petani juga diminta mengikuti pola tanam yang telah ditetapkan. Termasuk meminta petani untuk menggunakan pupuk organik. Sebab akan meningkatkan daya ikat air dalam tanah.

Sarwo Edhy mengatakan, guna mencegah semakin luasnya lahan pertanian yang terkena kekeringan dan puso, pemerintah telah berkoordinasi dengan berbagai pihak, dari mulai pemerintah daerah dan TNI untuk memetakan kebutuhan alat dan mesin pertanian (Alsintan) dan pemanfaatan sumber air yang harus dibangun.

“Sekarang kita sudah banyak membangun sumber air. Baik itu sumur dangkal, embung, dan damparit. Kita juga telah melakukan program pompanisasi, sehingga diharapkan kekeringan untuk tahun ini bisa teratasi,” katanya.

Sementara Indah menambahkan, untuk lebih meningkatkan pelayanan dan sosialisasi AUTP kepada petani khusus di Lebak, pihaknya akan  menyarankan Jasindo membuka anak cabang di Lebak.

“Karena selama ini kan kantor cabangnya baru ada di Serang. Jadi, memang cukup jauh. Saya rasa kalau ada anak cabang di Lebak akan lebih mudah baik sosialisasi maupun pelayanan,” kata Indah.

Menurut Indah, jika petani atau kelompok tani yang di awal musim telah terdaftar dalam program AUTP bisa mengajukan klaim gagal panen akibat bencana kekeringan. “Saat ini baru untuk komoditas padi. Klaimnya sebesar Rp6 juta/ha. Jadi, sayang kalau petani di Lebak ini belum terdaftar dalam program AUTP ini,” katanya. PSP