Praktik Kelola Gambut Lestari Dirumuskan

0
44
Kepala BLI KLHK Agus Justianto bersama peserta kick off meeting pelaksanaan kegiatan kerja sama Pilot Project Penelitian BLI KLHK dan PT Wana Subur Lestari dan PT Mayangkara Tanaman Industri, di Jakarta, Senin (12/8/2019)

Badan Litbang dan Inovasi (BLI) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melakukan penelitian produktivitas dan hidrologi terpadu untuk merumuskan pengelolaan lahan gambut lestari. Rumusan penelitian akan dijadikan acuan untuk diimplementasikan pada seluruh perusahaan Hutan Tanaman Industri (HTI).

“Ini adalah penelitian produktivitas dan hidrologi terpadu secara intensif terbesar di dunia pada ekosistem gambut,” kata Kepala BLI Agus Justianto saat Kick Off Meeting pelaksanaan penelitian di Jakarta,  Senin (12/8/2019).

Penelitian pada skala bentang alam seluas  135.164 hektare (ha) berlokasi di Kawasan Hidrologi Gambut Sungai Terentang-Sungai Kapuas, Sungai Kapuas-Sungai Mendawak,  dan Sungai Kualan-Sungai Laban, Kalimantan Barat.  Areal penelitian merupakan Hutan Lindung Mendawak seluas 19.543 ha dan areal kerja PT Wana Subur Lestari (WSL)  seluas 40.750 ha dan PT Mayangkara Tanaman Industri (MTI)  seluas 74.870 ha. Dua perusahaan tersebut merupakan kongsi dari Alas Kusuma Grup dan Sumitomo Forestry.

Agus menjelaskan,  penelitian akan merumuskan teknik pengelolaan lahan gambut lestari yang mencakup aspek pencegahan kebakaran, peningkatan produktivitas tanaman, penurunan emisi karbon, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar kawasan hutan. “Lokasi ini juga menjadi pilot project International Tropical Peatland Center (ITPC)  dan telah dikunjungi perwakilan Negara-negara pemilik gambut tropis,”  katanya.

Vice President Director WSL dan MTI Tsuyoshi Kato menjelaskan pihaknya menerapkan pengelolaan gambut berkelanjutan yang mampu menjaga gambut lestari dan mendukung pertumbuhan tanaman pokok dari jenis acacia crasicarpa.

Kato menjelaskan, sebelum mulai mengembangkan HTI, pihaknya melakukan survei topografi secara intensif untuk mengetahui topografi lahan gambut. Panjang transek survei mencapai sekitar 1.700 kilometer untuk menghasilkan peta topografi dengan interval 0,5 meter.  Survei kedalaman gambut juga dilakukan di 1.400 titik dengan interval antara 100-500 meter. “Seluruh lokasi kami survei untuk mendapat data akurat,”  katanya.

Data hasil survei ini penting untuk membuat peta zonasi air. Berdasarkan peta ini, manajemen MTI dan WSL membangun kanal sesuai kontur. Tujuannya untuk mengatur tata air sehingga tanaman pokok jenis accacia crasicarpa bisa tumbuh namun gambut tidak mengalami kekeringan yang bisa membuatnya rentan terbakar.

Untuk menjaga pasokan air gambut, MTI dan WSL mengalokasikan sekitar 20% dari konsesinya untuk tujuan konservasi. Lokasinya ada di kubah gambut. Selain itu, juga dialokasikan areal dengan tujuan hydrobuffer.

Berbekal pengelolaan seperti itu,  MTI dan WSL selalu mampu menjaga Tinggi Muka Air Tanah (TMAT) gambut  tak lebih rendah dari 0,4 meter dari permukaan,  bahkan di musim kemaru seperti saat ini.  TMAT dan kondisi gambut dipantau dengan sistem informasi Sensory Data Transmission Service Assisted 3 (SESAME 3).

“Di lokasi sudah 52 hari tanpa hujan.  TMAT masih tidak lebih rendah dari 0,4 meter,  gambut masih lembap dan tidak ada kebakaran,” kata Kato. Sugiharto