Menanam Sayuran di Pekarangan

0
85
Edi Mugiyarto, Ketua Kelompok “Tani Makmur”

Penghias pekarangan rumah ternyata tidak hanya tanaman hias saja. Aneka jenis tanaman sayur juga bisa menambah asri pekarangan rumah.  Aneka jenis sayuran yang biasanya ditanam di area sawah, ternyata juga ditanam di pekarangan. Menanam aneka sayur tidak lagi harus dilakukan di lahan yang luas bahkan bisa dilakukan di lorong-lorong jalan. Bukan hanya di daerah pedesaan, daerah perkotaan pun bisa.

Menanam sayuran di pekarangan rumah memberi manfaat ganda.  Selain untuk menghias rumah dan menambah segar suasana, sayur yang ditanam tentu saja bisa mencukupi kebutuhan pangan. Bahkan jika panen melimpah, bisa dijual atau dibagikan ke tetangga.  Jadi bisa menambah pendapatan keluarga.

Menanam sayur juga bisa mengendalikan dampak inflasi. Terutama di daerah perkotaan. Jika masyarakat mampu melakukan pemenuhan kebutuhan pangan secara mandiri, kenaikan harga sayur mayur di pasar tradisional bisa ditekan dan inflasi akan terkendali.

Di Yogyakarta, kini marak pengembangan Kampung  Sayur. Salah satunya ada di Kampung Badran RW 11, Bumijo, Jetis, Yogyakarta.  Di sana Warga berpartisipasi dan terlibat langsung dalam penanaman sayur di dalam lorong wilayah perkotaan Yogyakarta. Warga menanam sayur di seluruh rumah dan di halaman rumahnya. Sayur yang ditanam di pekarangan dan kebun sayur warga tersebut, sudah sangat layak jual, karena kualitasnya sangat bagus.

Bagaimana mengelola sebuah kampung sayur yang asri dan sehat? Kita ikuti kiprah Edi Mugiyarto, Ketua Kelompok Tani “Tani Makmur” yang mengelola Kampung Sayur di RW 11,  Kampung Badran, Kelurahan Bumijo, Kecamatan Jetis, Kota Yogyakarta.  Berikut hasil wawancara dengan Edi.

Apa yang mendasari terbentuk sebuah kampung sayur yang kompak?

Harga sayur naik turun. Bahkan kadang sayuran tertentu sangat tinggi kenaikannya. Di samping itu sayur yang dijual banyak bahan kimia. Tanaman sayur hasil panen dari pekarangan memiliki kelebihan minim zat kimia dan pupuk kimia. Dengan jumlah yang tidak banyak, kontrol hama dan penyakit bisa dilakukan manual sehingga tidak membutuhkan pestisida. Pupuk yang digunakan untuk menanam sayuran di pekarangan juga pupuk organik sehingga mengkonsumsi sayuran yang ditanam di pekarangan jauh lebih sehat, dan tentu segar. Tanaman sayuran hasil pekarangan selalu segar karena kita memanen saat kita ingin memasaknya

Sayuran apa saja yang ditanam?

Ada berbagai jenis tanaman sayuran yang diperlukan untuk konsumsi sehari-hari seperti cabai, selada, daun bawang, tomat, sawi, kangkung, bayam, seledri, terung, gambas

Hambatan di lapangan?

Memang bukan tanpa hambatan ini bisa berjalan. Yang awalnya tidak suka, ada. Secara alami, faktor faktor negatif tidak akan langgeng, tergeser waktu. Pola berfikir juga mengikuti, bisa berubah. Kondisi wilayah berkaitan erat dengan pendidikan dan ekonomi. Selama pendidikan dan ekonomi membaik, hal hal yang negatif itu akan berkurang. Kami sudah mengembangkan Kampung Sayur sejak 2007 namun sempat vakum dan mulai diintensifkan kembali Juli 2018 hingga sekarang. Alhamdulillah, berkat semangat seluruh anggota kelompok tani, pada Juli 2019 mampu meraih juara pertama lomba pekarangan tingkat kota

Yang membuat vakum?

Banyak hal, karena kurang kesadaran anggota, administrasi yang belum maksimal. Tapi yang namanya berkiprah di sosial, tidak bisa dihitung, tenaga dan pikiran. Kita tetap bergerak.  Kita menghadapi banyak orang, RW 11 terdiri dari 5 Rt (Rt 47,48,49,50,51) dengan banyak warga, dengan pola pikir berbeda. Menyatukan beberapa pikiran yang berbeda tidak mudah. Tetapi perbedaan pendapat adalah biasa, kita tidak mundur untuk mengenalkan program seperti ini. Itu bisa dengan contoh dan kegiatan yang nyata.

Kampung sayur ini pernah menjadi juara di tingkat  kota. Dari situ sudah terlihat hasilnya. Dan saat warga menanam, kemudian tumbuh baik, lingkungan tertata indah dan asri, sayur bisa dimanfaatkan baik untuk konsumsi sendiri atau dijual, hasil semakin nyata, dan ini menjadi kebersamaan untuk menata bersama kampung ini.

Apa yang perlu diupayakan agar keberlanjutan?

Ada rutin kumpulan, diskusi, menanam dan juga membeli sayur dari warga. Saling mengontrol, memonitor. Kita ada grup yang bisa digunakan untuk berhubungan sesama warga, sekaligus juga untuk mengenalkan atau memasarkan sayur kepada warga, untuk memenuhi kebutuhan sayur warga.

Rencana dan Harapan ke depan?

Kegiatan seperti ini bisa diperluas lagi, tidak hanya di Rw 11 ini. Setiap satu rumah memiliki beberapa pot tanaman sayur. Sehingga kebutuhan sayur sehat dam lingkungan sehat bisa terpenuhi. Kami, Warga Badran memiliki prinsip dan komitmen bahwa lahan sempit bukan alasan tidak bisa menanam sayur

Selain sayur, ada berbagai potensi yang dimiliki Kampung Badran di antaranya pengembangan lele cendol, produk batik tulis dan cap, jamu, bank sampah dan kelompok pemanfaat air (program penyediaan air minum swadaya, yang diambilkan dari mata air sungai Winongo). Itu semua bisa dikembangkan. Saya ingin bersama warga mengembangkan berbagai potensi di kampung ini sehingga tumbuh sebagai Kampung Wisata Edukasi. Namun perlu dukungan perbaikan infrastruktur yaitu talud Sungai Winongo yang rusak beberapa tahun lalu agar segera diperbaiki.

Anna Zulfiyah