Peragi: Pertanian Indonesia Makin Modern

0
54

Perhimpunan Agronomi Indonesia (Peragi) menilai penerapan inovasi teknologi dan mekanisasi pertanian selama lima tahun terakhir telah merevolusi wajah pertanian Indonesia menjadi lebih modern.

Ketua Umum Peragi, Moh. Syakir mengatakan, dalam 5 tahun terakhir program Kementan berhasil meningkatkan level atau tingkat mekanisasi pertanian Indonesia sebesar 236%.

Dia menilai, program-program yang dilakukan pemerintah sesuai dengan visi utama oraganisasinya, yaitu menghasilkan sistem pertanian modern dan efisien dengan berbasiskan penerapan inovasi teknologi di bidang agronomi.

Menurut dia, penerapan teknologi dan inovasi terbaru di  bidang agronomi sangat terlihat dalam kebijakan Kementerian Pertanian (Kementan)  saat ini. Syakir menyebutkan kebijakan itu antara lain program optimalisasi pemanfaatan lahan suboptimal, penggunaan bibit unggul,  peningkatan produksi dan produktivitas.

“Selain itu, kebijakan Kementan adalah mendorong peningkatan nilai tambah komoditas melalui peningkatan kualitas produk pertanian,” katanya di Jakarta, Sabtu (7/9/2019).

Usaha mendorong modernisasi pertanian melalui mekanisasi juga dinilai sukses. Berdasarkan data Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian (BB Mektan), Badan Litbang Pertanian, pada tahun 2018, level mekanisasi pertanian Indonesia meningkat 236% menjadi 1,68 HP (horse power)/hektare (ha), dari sebelumnya tahun 2015 level mekanisasi pertanian Indonesia baru 0,5 HP/ha.

Syakir mengatakan, pertanian Indonesia juga mampu berbicara banyak di forum internasional, serta mendapat pengakuan dari Badan Dunia dan negera-negara sahabat.

Sebelumnya, Bappenas menilai belanja Alsintan Kementan merupakan inovasi pendanaan pemerintah karena mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah.

“Bappenas mengatakan, peningkatan 1% belanja Alsintan, maka akan mendorong 0,33% peningkatan subsektor pertanian, peternakan, perburuan, dan jasa pertanian di daerah. Ini luar biasa sekali,” ujar Syakir.

Selain itu, Peragi menilai pertumbuhan sektor pertanian sebesar 3,7 dan mampu melewati target yang ditetapkan sebesar 3,5 merupakan capaian kinclong Kementan saat ini.

Peragi adalah organisasi profesi para profesional, pemerhati, dan pecinta ilmu terapan di bidang pertanian. Agronomi adalah salah satu cabang utama ilmu pertanian yang dirintis Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Universitas Gajah Mada Yogyakarta tahun 1977.

Peragi menilai pertanian dalam 5 tahun terakhir sudah sangat berubah dan telah mengubah mindset kita ke memodernisasi industri dan teknologi pertanian.

Presiden Kagum

Bahkan, Presiden Joko Widodo (Jokowi) juga merasa kagum dengan percepatan pertanian Indonesia yang sudah mentransformasikan dirinya dari pertanian tradisional ke pertanian modern.

Menurut Presiden, dalam lima tahun ini, Kementerian Pertanian (Kementan) sudah membagi-bagikan alat dan mesin pertanian (Alsintan), seperti traktor, excavator dan bulldozer untuk daerah-daerah yang memiliki lahan besar-besar, seperti di Humbang Hasundutan, Sumatera Utara (Sumut).

“Saya kaget juga dalam satu kabupaten traktornya dan excavator-nya begitu banyak, sehingga lahan besar bisa dikerjakan dengan mekanisasi peralatan-peralatan yang ada. Saya lihat itu bantuan dari Menteri Pertanian,” kata Presiden Jokowi saat berdialog dengan peserta Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Tahun 2019 di Istana Negara, Jakarta, Selasa (6/8/2019).

Untuk itu, Presiden meminta para bupati yang biasanya menggarap lahan secara manual, agar meminta bantuan ke Kementa. Pasalnya, setiap tahun bantuan alat dan mesin pertanian (Alsintan) selalu dialokasikan.

“Jadi, kita ubah petani yang sudah berpuluh-puluh tahun melakukan land clearing dengan cara membakar diganti dengan dengan mekanisasi (traktor, excavator). Jadi, tanpa harus membakar,” kata Presiden seperti dikutip laman Setkab.go.id.

Data Agro Indonesia mencatat, bantuan pemerintah berupa Alsintan yang disalurkan melalui Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP), Kementan sudah mencapai 385.170 unit.

Alsintan itu terdiri dari traktor roda dua, traktor roda empat, pompa air, rice transplanter, chopper, cultivator, excavator, hand sprayer, implemen alat tanam jagung dan alat tanam jagung semi manual.

Pada tahun 2015, Alsintan yang disalurkan sebanyak 54.083 unit. Tahun 2016 sebanyak 148.832 unit, tahun 2017 sebanyak 84.356 unit, dan tahun 2018 sebanyak 115.435 unit (per Oktober 2018). Total yang sudah diberikan sebanyak 385.170 unit.

Usia Petani

Sementara itu, Direktur Alat dan Mesin Pertanian, Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian,  (PSP), Kementan, Andi Nur Alamsyah mengatakan, jumlah terbanyak tenaga kerja pada sektor tanaman pangan adalah petani berusia lebih kurang 60 tahun, disusul kemudian usia antara 40-45 tahun.

Dampak nyata adanya kelangkaan tenaga kerja dan usia lanjut tenaga petani untuk mendukung budidaya tanaman padi adalah rendahnya kapasitas kerja tanam padi per satuan luas lahan dan mahalnya biaya tanam.

Menurut dia, masalah yang muncul pada kegiatan tanam dapat ditangani dengan menerapkan mesin tanam pindah bibit (transplanter, Red.) padi. Mesin transplanter adalah sebagai solusi peningkatan kerja kegiatan tanam padi.

“Hemat tenaga kerja, mempercepat waktu penyelesaian kerja tanam per satuan luas lahan. Dan faktor tersebut akhirnya mampu menurunkan biaya produksi budidaya padi,” katanya.

Dampak nyata penggunakan mesin tanam padi ini, sambungnya, terlihat dari hasil pengamatan di tingkat petani. Pengguna mesin transplanter menunjukkan bahwa rata-rata kinerja 1 mesin transplanter dengan 1 orang operator dan 2 asistennya dapat menggantikan antara 15 hingga 27 hari orang kerja (HOK), sedangkan kemampuan kerja tanam mencapai 1 hingga 1,2 hektare (ha) per hari. PSP