Realisasi AUTP Capai 60%

0
85

Realiasi Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) hingga minggu terakhir September sudah mencapai sekitar 60% atau 600.000 hektare (ha) dari target 1 juta ha. Begitu juga AUTS/K (Asuransi Usaha Ternak Sapi/Kerbau) sudah mencapai 55,6% dari target 120.000 ekor.

“Hingga akhir bulan September 2019 ini, realiasi asuransi mencapai 60%. Bahkan, jika kita lihat di lapangan, realisasi bisa lebih tinggi lagi,” papar Direktur Pembiayaan Pertanian, Ditjen Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP),  Kementan, Indah Megahwati.

Dia menyebutkan, di beberapa daerah capaian target asuransi cukup tinggi. Namun, ada daerah yang memang minat petaninya masih perlu didorong untuk ikut asuransi.

“Kami terus kejar realisasi target. Kami sudah membentuk tim percepatan realisasi AUTP. Kemudian meningkatkan sosialisasi pengoperasionalan aplikasi SIAP untuk pendaftaran maupun pengajuan klaim,” kata Indah kepada Agro Indonesia di Jakarta, Sabtu (21/9/2019).

Upaya lain untuk mempercepat realiasi target adalah memberikan insentif kepada petugas untuk berlangganan internet. “Kami juga menganjurkan petani untuk mendaftar lebih cepat menjadi peserta AUTP, meskipun baru akan menanam padi bulan Oktober-Desember 2019,” katanya.

Selain itu juga dilakukan pertemuan dengan Kelompok Tani (Poktan) dan Petugas AUTP di Kabupaten/Kota dengan langsung dilakukan pendaftaran di Provinsi Jabar, Jateng dan Jatim. “Ini semua upaya kami untuk percepatan realisasi asuransi tahun ini,” tegasnya.

Data Ditjen PSP mencatat, realiasi AUTP tiap tahun cenderung meningkat. Tahun 2015, pada saat program ini pertama diluncurkan, hanya mencapai 233.499 ha atau 23,3% dari target 1 juta ha. Kecilnya realisasi pada tahun ini karena waktu kerjanya hanya tiga bulan.

Tahun 2016, target yang dipasang hanya 500.000 ha, tercapai 99,9% atau 499.964 ha. Tahun 2017 target AUTP seluas 1 juta ha  tercapai 99,8% atau seluas 997.966 ha. Tahun  2018 target 1 juta ha terealisasi 806.199 ha (80,6%). Tahun 2019, target sama 1 juta ha, namun hingga akhir Agustus 2019 sudah mencapai 305.599 ha (lihat Tabel).

Untuk AUTS/K, perkembangan realiasi dari tahun 2016 target sebanyak 20.000 ekor tercapai 100%. Tahun 2017, target sebanyak 120.000 ekor  tercapai 76,8% atau 92.176 ekor.

Tahun 2018, target 120.000 ekor terealisasi sebanyak 88.673 ekor atau 73,8%. Tahun 2019 target 120.000 ekor, hingga awal September 2019, sudah terealiasi sebanyak 67.066 ekor (55,8%).

Indah mengakui, beberapa daerah capaian target asuransi masih relatif rendah. Di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), misalnya. Sampai saat ini, realisasi AUTP dan AUTS/K masih rendah.

“NTB kita kejar terus realisasinya. Memang masih rendah, tapi sejak tiga bulan terakhir sudah menunjukkan peningkatan,” katanya.

Untuk mempercepatnya, kata Indah, pihaknya akan menempatkan anggota tim di NTB guna memastikan realisasi AUTP dan AUTS/K berjalan dengan baik.

Untuk AUTP, dia optimistis bakal mencapai 70% dari target 17.000 ha, yang masuk daftar peserta definitif (DPD). Saat ini realisasi AUTP NTB baru 946,7 ha. Begitupun dengan AUTS/K yang menargetkan 12.000 DPD. Sebab itu, dibutuhkan kesadaran petani betapa pentingnya program asuransi ini.

“Kalau untuk AUTS, kesadaran peternak untuk daftar asuransi sudah sangat tinggi karena sudah merasakan langsung manfaatnya. Bahkan, komitmen untuk Agustus sampai Oktober itu sudah 10.000 lebih,” papar Indah.

Gencarkan Sosialisasi

Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementan, Sarwo Edhy dalam berbagai kesempatan juga meminta daerah agar lebih gencar mensosialisasikan program asuransi pertanian ini. Pasalnya, masih banyak petani yang masih belum mengerti cara mendaftar.

“Kepada Dinas Pertanian seluruh daerah agar terus melakukan pendekatan kepada petani. Bisa menggunakan para penyuluh juga. Ini agar perani bisa lebih tenang dan nyaman, serta tidak takut mengalami gagal panen,” katanya.

Sarwo Edhy mengatakan, pihaknya mengalokasikan anggaran program asuransi sebesar Rp163,2 miliar untuk pertanian di tahun ini. Anggaran sebesar Rp144 miliar itu untuk AUTP. Untuk AUTS/K dialokasikan sebesar Rp19,2 miliar.

Sarwo Edhy menjelaskan, program asuransi tersebut dimulai sejak 2015 dengan besaran premi Rp180.000/ha. “Dari jumlah premi yang dibayar petani hanya 20% atau Rp36.000/ha. Sementara 80% dibayar oleh pemerintah alias subsidi,” katanya.

Dengan membayar premi Rp36.000/ha/musim, petani akan mendapat ganti Rp6 juta/ha. Klaim ini akan dibayar jika lahan petani puso karena kekeringan, banjir atau kena serangan hama.

Sarwo juga menyebutkan, tahun depan Ditjen PSP akan fokus pada kegiatan utama. Pertama, Optimasi Lahan Rawa Pasang Surut dan Lebak (#SERASI), Optimasi Lahan Kering dan Tadah Hujan serta Cetak Sawah.

Kedua, penyediaan air melalui rehabilitasi jaringan irigasi, pembangunan embung dan bangunan air lainnya.

Ketiga, pengembangan dan penerapan mekanisasi pertanian (Prapanen) sesuai kondisi lapang. Keempat, melakukan upaya perlindungan usahatani melalui pengembangan Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) dan Ternak Sapi/Kerbau (AUTS/K).

Kepala Cabang Jasindo Mataram Munfidzu Al Dustur mengatakan, kendala pendaftaran asuransi pertanian di NTB adalah tingkat kesadaran petani, terutama petani padi, yang masih perlu diberi tahu manfaat proteksi usaha tani nya.

Selain itu, musim tanam ke dua yang baru dimulai pada Oktober bahkan November atau Desember mendatang. “Petani padi masih menunggu hujan untuk mulai tanam sehingga realisasinya masih rendah. Kan pendaftaran asuransinya menunggu tanam dulu,” katanya. PSP