Kementan Tambah Target AUTS/K 30.000 Ekor

0
411

Peserta Asuransi Usaha Ternak Sapi/Kerbau (AUTS/K) sudah mencapai target 100%. Untuk mengakomodir minat peternak yang semakin tinggi, maka Kementerian Pertanian (Kementan) menambah 30.000 ekor dari target 120.000 ekor menjadi 150.000 ekor.

Hal itu diungkapkan Direktur Pembiayaan Pertanian, Ditjen Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP),  Indah Megahwati kepada Agro Indonesia di Kantor Pusat (Kanpus) Kementan, Jakarta, Rabu (23/10/2019).

Target AUTS/K tahun ini sebenarnya sama dengan tahun 2018, yaitu 120.000 ekor. Namun, untuk tahun ini Kementan akan menambah sebanyak 30.000 ekor, sehingga total menjadi 150.000 ekor. “Penambahan target 30.000 ekor ini karena meningkatnya jumlah peminat peternak sapi  untuk ikut  program asuransi,” ujarnya.

Data Ditjen PSP mencatat, minat peternak untuk ikut asuransi terus meningkat. Pada 2016, target sebanyak 20.000 ekor dan terealisasi 100%. Tahun 2017, target sebanyak 120.000 ekor  dan tercapai 76,8% atau 92.176 ekor.

Tahun 2018, target 120.000 ekor terealisasi sebanyak 88.673 ekor atau 73,8%. Nah, tahun 2019 ini, target 120.000 ekor hingga awal September 2019 sudah terealiasi sebanyak 67.066 ekor (55,8%).

Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan, Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementan, Fini Murfiani membenarkan pencapaian target ini. “Iya, memang benar. Bantuan premi asuransi ternak sudah capai 100%, sehingga tahun ini target kita tambah 30.000 ekor menjadi 150.000 ekor,” katanya kepada Agro Indonesia di Jakarta, Sabtu (26/10/2019).

Fini menyebutkan, data Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan mencatat realisasi per 27 Oktober 2019, berdasarkan  DPD (Daftar Peserta Definitif) Dinas Kabupaten/Kota sudah mencapai 120.861 ekor atau 107,18% dari target 120.000 ekor.

“Kalau kita lihat antusias peternak, diharapkan sampai akhir tahun ini target 150.000 ekor akan tercapai,” tegasnya.

Dukungan Pemda Meningkat

Dia mengatakan, respons masyarakat ternak cukup tinggi karena program ini sudah berjalan selama empat tahun. Dengan meningkatnya minat peternak mengasuransikan ternaknya, maka target tahun ini dapat tercapai dengan baik.

Fini menyebutkan, provinsi yang paling banyak meng-asuransi-kan ternak sapi adalah Jawa Barat, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Sumatera Utara dan Lampung.

Dia juga mengatakan, sejak diterapkan SIAP, dukungan Pemerinta Daerah (Pemda) juga meningkat. Dukungan ini sangat diperlukan agar peternak bisa mengikuti program AUTS.

Dia menjelaskan, mekanisme pelaksanaan Asuransi Usaha Ternak Sapi/Kerbau (AUTS/K), di mana Dinas Kabupaten/Kota akan merekap seluruh calon peserta asuransi.

Data tersebut dikirim ke Dinas Provinsi dan daftar tersebut dikirim ke Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH). Daftar Peserta Definitif (DPD) dari masing-masing provinsi disampaikan ke Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP).

Perusahaan asuransi pelaksana, berdasarkan polis yang telah diterbitkan masing-masing cabang asuransi, mengajukan penagihan bantuan premi kepada Dirjen PSP.

Dirjen PSP selaku Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) melalui KPPN mencairkan dana bantuan premi asuransi atas nama peternak. “Proses ini tentu sangat lama karena harus menunggu dari beberapa titik dan belum diatur secara berkala,” tegasnya.

Perkembangan Positif

Fini mengungkapkan, kriteria untuk mengajukan asuransi adalah sapi atau kerbau betina dalam kondisi sehat. Hewan ternak minimal berumur satu tahun dan masih produktif. Selain itu, peternak merupakan skala usaha kecil, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Risiko yang dijamin dalam asuransi sapi atau kerbau adalah kematian karena penyakit, kecelakaan, beranak, dan kecurian. Premi asuransi untuk sapi atau kerbau sebesar 2% dari harga pertanggungan sebesar Rp10.000.000/ekor, yaitu sebesar Rp200.000/ekor/tahun. Pemerintah membayar subsidi Rp160.000/ekor, sehingga peternak hanya membayar Rp40.000/ekor/tahun.

Jika sapi yang diasuransikan mengalami kematian disebabkan oleh penyakit, beranak, kecelakaan, dan sapi hilang akibat pencurian, maka peternak akan mendapatkan nilai klaim sebesar Rp10.000.000, sehingga nilai klaim diharapkan dapat membeli sapi bakalan untuk calon indukan.

Pemerintah menyediakan dana sekitar Rp9,6 miliar untuk subsidi premi asuransi ternak. Risiko yang ditanggung meliputi kematian sapi disebabkan karena penyakit, kematian karena kecelakaan, dan hilang akibat pencurian

“Asuransi ternak ini untuk mitigasi risiko, pemerintah mendorong usaha peternak berkembang kalau ada ternak mati akan digantikan,” ungkapnya.

Menurut Fini, tujuan asuransi ternak adalah untuk mengalihkan risiko kerugian usaha akibat sapi atau kerbau mengalami kematian dan kehilangan melalui skema pertanggungan asuransi.

Sasaran program asuransi ternak adalah terlindungnya peternak sapi atau kerbau dari kerugian usaha akibat kematian dan kehilangan supaya peternak dapat melanjutkan usahanya.

Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementerian Pertanian (Kementan) Sarwo Edhy mengatakan, realisasi AUTS/K selama empat tahun terakhir menunjukkan tren positif. Meski terjadi beberapa kendala, Kementan terus berupaya memperbaiki.

“Salah satunya ditemukan satu NIK (Nomor Induk Kependudukan) untuk beberapa nama petani. Hal ini yang mengakibatkan pendaftaran AUTS/K sebanyak 65.472 ekor, namun realisasi bantuan premi 80% baru mencapai 7.553 ekor,” kata Sarwo Edhy.

Selain itu, masih banyak petugas lapangan yang belum memahami pendaftaran melalui aplikasi SIAP, tidak sedikit pula petugas dinas kabupaten yang belum dapat mengunggah SK DPD ke aplikasi SIAP.

“Kita akan terus gencarkan sosialisasi aplikasi SIAP kepada peternak dan penyuluh. Karena dengan aplikasi ini bisa memudahkan peternak untuk mengikutkan sapi atau kerbaunya ke program AUTS/K,” katanya, Atiyyah Rahma/PSP