Membangkitkan Pohon Andalas

0
192
Bibit Pohon Andalas yang dikembangkan Balai Litbang Teknologi Serat Tanaman Hutan, KLHK

Oleh: E Novriyanti (Bekerja di Balai Litbang Teknologi Serat Tanaman Hutan, KLHK).

AAndalas tentu bukan kata yang asing bagi kita pada umumnya. Andalas adalah nama julukan lain untuk Pulau Sumatera. Salah satu institusi pendidikan tinggi terbesar dan terkenal di Sumatera juga dinamakan dengan kata ini, Universitas Andalas yang berlokasi di jantung Provinsi Sumatera Barat, Kota Padang.

Banyak jalan, tempat dan desa yang berada bukan hanya di Sumatera Barat namun juga di bagian lain di Sumatera, yang dinamai dengan andalas (atau ‘andaleh’ dalam bahasa Minang) seperti Nagari Andaleh dan Nagari Andaleh Baruih Bukik di Kabupaten Tanah Datar atau Nagari Andaleh di Kabupaten Agam. Hal itu menjadikan kata ‘andalas’ sangat biasa terdengar di telinga kita.

Meskipun nama andalas sangat familiar, namun tidak banyak yang tahu, jika sebenarnya andalas adalah nama pohon. Jangankan ‘kids zaman now’ yang masuk dalam kategori generasi milenial, generasi sebelumnya pun banyak yang tidak menyadari hal tersebut. Andalas sendiri adalah maskot flora Provinsi Sumatera Barat yang telah ditetapkan oleh pemerintahan daerah provinsi tersebut sejak tahun 1990.

Meski baru selama 29 tahun secara resmi menjadi maskot provinsi, namun jenis pohon endemik di Pulau Sumatera ini telah memiliki keterikatan kultural dengan masyarakat Minangkabau jauh sejak zaman dahulu. Pada masa yang lalu, kayu dari pohon andalas selalu menjadi pilihan utama untuk dijadikan bahan pembuatan (baik tiang, balok landasan, papan lantai maupun dinding) Rumah Gadang, bangunan adat masyarakat Minangkabau yang menjadi tempat bernaung, berkumpul dan bermusyawarah kaum keluarga. Tiang utama masjid juga cenderung dipilih dari kayu andalas oleh orang Minangkabau yang terkenal relijius dan sangat menjunjung sendi-sendi agama Islam dalam kehidupan bernasyarakatnya. Selain itu kayu ini juga sering digunakan sebagai bingkai etalase dalam perdagangan, sebuah mata pencaharian yang melekat sebagai jati diri orang Minangkabau sebagai bangsa pedagang. Begitu dekatnya jenis tumbuhan ini di hati masyarakat sehingga akhirnya ditetapkan sebagai maskot flora Sumatera Barat.

Pohon andalas dapat tumbuh hingga mencapai tinggi 40 meter (m). Pohon yang sejauh ini disinyalir sebagai yang tertua dan terbesar ditemukan di tengah Nagari Andaleh di Tanah Datar dengan diameter mencapai pelukan delapan orang dewasa atau kurang lebih 300 centimeter (cm). Pohon andalas memiliki tinggi bebas cabang yang baik, hingga 15 m sehingga memang sangat cocok digunakan sebagai kayu konstruksi. Selain itu kayunya memang memiliki kualitas yang sangat baik, memiliki kekuatan dan kekerasan yang tinggi, juga sangat awet dan tahan serangan rayap. Kualitas kayu yang tua bahkan setara dengan kayu jati.

Bukan hanya kayunya yang memiliki potensi nilai ekonomi, bagian lain dari pohon ini seperti daun, kayu dan akarnya juga memiliki potensi sebagai bahan obat. Beberapa penelitian menemukan kalau metabolit sekunder yang diekstrak dari pohon andalas mengandung senyawa yang bersifat antioksidan yang berpotensi sebagai anti mikroba, anti tumor dan anti kanker.

Ketidaktahuan mengenai andalas, tumbuhan penting yang menjadi maskot flora tersebut, diperparah dengan kelangkaan pohon andalas sendiri dewasa ini. Meskipun tidak tercantum dalam daftar merah International Union for the conservation of Nature and Natural Resources (IUCN), namun pada kenyataannya kayu andalas telah menjadi kayu langka yang sudah susah ditemukan bahkan tidak dikenal lagi oleh masyarakat Sumatera Barat sendiri. Survei terbaru menemukan potensi andalas sebanyak 153 pohon yang tersebar pada spot-spot di lahan milik masyarakat di dua kabupaten di Sumatera Barat: Tanah Datar dan Lima Puluh Kota, tanpa dirawat bahkan kadang tanpa diketahui. Tidak ada jaminan keberadaan pohon andalas di areal milik masyarakat tersebut karena setiap saat ada ancaman penebangan saat masyarakat membutuhkan areal untuk keperluan lain seperti kebun sayur, bangunan, dan lain-lain.

Selanjutnya, untuk menemukan pohon andalas di hutan, perjalanan panjang hingga jauh ke dalam hutan harus ditempuh. Itupun andalas hanya ditemukan di kawasan yang relatif terjamin perlindungannya, seperti di hutan adat Nagari Andaleh (Provinsi Sumatera Barat) dengan potensi 12 pohon/ha dan 33 pohon di radius jalur pendakian di Gunung Kerinci–Gunung Tujuh, kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat di Provinsi Jambi.

Kekhawatiran mengenai keberadaan andalas di alam diperparah dengan fakta jarangnya terdapat bahkan tidak ditemukan sama sekali tingkat anakan andalas baik di lokasi survei di lahan masyarakat maupun di hutan alam. Secara alami, jenis ini memang termasuk jenis lambat tumbuh dengan sistem perbanyakan yang termasuk sophisticated. Andalas termasuk kategaori tanaman ancient (kuno) karena bersifat berumah dua (dioecious) yang berarti memiliki individual pohon jantan dan pohon betina yang terpisah. Kondisi ini diduga kuat sebagai penyebab rendahnya perbanyakan alami andalas di alam yang berujung pada kelangkaan jenis ini. Ditambah lagi kurangnya perhatian dan campur tangan manusia yang seharusnya bisa meningkatkan peluang perbanyakan andalas karena andalas sebenarnya sangat mudah berterubus sehingga dapat juga diperbanyak dengan metode stek.

Merupakan hal yang sangat miris bahwa kaumnya sendiri bahkan tidak mengenal maskot floranya. Ditambah fakta kelangkaan andalas saat ini, yang jika kondisi tersebut terus dibiarkan berlanjut, bukan tidak mungkin andalas akhirnya punah dan hanya tinggal nama saja yang dapat diwariskan pada generasi mendatang. Kenyataan saat ini di masyarakat bahkan sudah mengindikasikan ke arah itu. Kondisi ini perlu manjadi perhatian kita semua, perlu segera dilakukan aksi-aksi nyata untuk mengangkat batang andalas yang sekarang bisa dikatakan ‘tenggelam’ ini. Usaha pelestarian saja tidaklah cukup, namun harus disertai juga dengan upaya untuk ‘mengedukasi’ kembali masyarakat tentang maskot floranya, sehingga generasi mendatang di masa depan tidak hanya masih dapat menikmati kuatnya pohon andalas, namun juga sadar dengan sejarah dan status jenis ini sebagai maskot flora propinsi Sumatera Barat.

Balai Litbang Teknologi Serat Tanaman Hutan (BP2TSTH) merupakan salah satu institusi litbang yang berinisiatif untuk ‘membangkit kembali andalas’. Institusi yang merupakan UPT Badan Litbang dan Inovasi (BLI), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) tersebut berlokasi di Desa Kuok, Kabupaten Kampar, Riau sehingga secara geografis memang memiliki kedekatan dengan habitat alami andalas. BP2TSTH dalam kurun waktu tahun 2015-2018 melakukan penelitian untuk mengkonservasi dan mempromosikan tumbuhan andalas ini. Mulai dari survei potensi dan kondisi habitat alami hingga pembangunan plot konservasi, bahkan promosi menggaungkan kembali tanaman andalas ini dilakukan oleh balai litbang ini.

Gaung gerakan yang diupayakan oleh BP2TSTH mengharapkan gayung bersambut dari pihak terkait lain, terutama instistusi konservasi dan pemerintahan daerah, karena upaya pelesatrian akan merupakan langkah tersendat bahan suatu keniscayaan jika dilakukan sendiri danpa dukungan pihak-pihak terkait.

BP2TSTH telah mengusai teknologi perbanyakan tanaman andalas dari biji dengan persen bersemai hingga 90%, yang siap untuk di-knowledge sharing-kan sehingga pengetahuan tersebut dapat lebih tersebar ke pihak terkait lain. Bibit andalas dari balai ini telah ditanam di berbagai lokasi di Sumatera Barat. Balai ini juga telah membangun plot konservasi andalas seluas kurang lebih 2 hektare (ha) di Kabupaten Lima Puluh Kota yang nantinya diharapkan dapat menjadi sumber benih andalas. Sebagai upaya memperkenalkan/mengingatkan kembali andalas sebagai maskot flora Provinsi Sumatera Barat, dibangunlah plot monumental andalas dengan konsep konservasi-edukasi di jalan lintas provinsi Kelok Sembilan yang juga merupakan destinasi wisata dengan harapan pesan yang ingin disampaikan dapat lebih bergaung. Plot monumental Konservasi-Edukasi Andalas di Kelok Sembilan ini mendapat dukungan dari  pemerintahan daerah Kabupaten Lima Puluh Kota dan prasastinya ditandatangi oleh Bupati Lima Puluh Kota, Erfendi Arby, dan Kepala Badan Litbang dan Inovasi KLHK Agus Justianto pada tahun 2018 yang lalu.

Syukurlah gaung yang dibunyikan cukup tersebar dan gayung pun telah bersambut, meskipun upaya ke depannya dapat lebih intensif dan progresif lagi karena masih besarnya potensi dari pohon andalas yang masih bisa diteliti dan dikembangkan. Pemerintahan daerah Provinsi Sumatera Barat mulai bergerak kembali mengkampanyekan andalas ini dengan mencanangkan Gerakan Tanam Serentak (Gertak) andalas yang mewajibkan penanaman andalas di hampir seluruh kantor pemerintahan di Sumatera Barat. Institusi konservasi di lingkup KLHK, seperti Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Barat dan Badan Pengelola Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Agam Kuantan juga turut mendukung program pelestarian andalas ini dengan turut serta melakukan penanaman dan menyebarkan gaung pelestarian andalas. Besar harapan, semoga ke depannya gerakan ini tidak hanya sesaat saja namun terus bergaung hingga ke generasi masa mendatang.