Nanti, Air Citarum Bisa Diminum

0
115
Korlap Patroli Sungai Jabar, Wahyu Setiabudi (Bob Yaro)

Wahyu Setiabudi atau akrab disapa Bob Yaro tidak pernah menyangka transformasi dirinya, dari pecinta alam menjadi penggiat lingkungan. Jika tadinya, “hanya” senang-senang menikmati alam. Belakangan, terjun langsung menjaga lingkungan.

Ya, semasa kuliah dulu, Bob aktif sebagai anggota organisasi pecinta alam, Wanasatrya di kampusnya, Sekolah Tinggi Bahasa Asing Yapari-ABA Bandung. Penyayang binatang, khususnya ular ini pernah menjadi kepala divisi susur pantai dan kepala divisi arung jeram Wanasatrya.

Pada 2017, bekal dari organisasinya itu mendorong Bob untuk bergabung dalam tim Patroli Sungai Jawa Barat (Jabar) yang notabene di bawah koordinasi Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jabar.

Motivasinya jelas, Bob ingin berbagai program yang dicanangkan pemerintah tercapai. Terutama, untuk sungai terpanjang di Jabar, Citarum Harum. “Usaha untuk mengembalikan Citarum kembali harum akan kita saksikan bersama di 7 tahun mendatang. Apa benar air Citarum akan kembali bisa di minum di tahun ke 7,” ujar pria kelahiran Bandung, 15 Mei 1981.

Puncaknya, Bob pun ditunjuk menjadi koordinator lapangan (korlap) Patroli Sungai Jabar. Dia mengkoordinir 28 anggotanya yang bertugas di 7 zona kabupaten/kota.

Untuk mengetahui kegiatannya, berikut penuturan pria yang kerap menikmati waktu luangnya dengan off road mobil dan motor ini kepada Agro Indonesia pekan lalu.

Apa alasan Anda ikut terlibat dalam tim patroli Sungai Citarum?

Saya ingin sungai Citarum yang berada di Jawa Barat ini menjadi lebih baik, bersih kembali dan bebas dari berbagai sampah domestik, kotoran hewan dan limbah industri.

Waktu patroli bersama tim, jenis sampah apa yang paling banyak?

Sampah yang paling banyak ditemukan, baik itu di sepanjang bantaran sungai mau pun di badan sungai, didominasi oleh sampah anorganik yakni plastik dan styrofoam. Selebihnya, sampah organik yang diduga berasal dari sampah domestik seperti dari rumah-rumah warga dan juga pasar yang terdapat di daerah kabupaten/kota Bandung.

Apa ada temuan sampah yang aneh-aneh? Spring bed, sofa, kulkas, misalnya..

Banyak. Semua yang disebutkan ada. Sebagian besar tim patroli menemukan jenis sampah-sampah tersebut, baik di tempat pembuangan sampah liar di sekitar bantaran sungai, mau pun di badan sungai itu sendiri.

Ini pernah saya lihat sendiri waktu pengerukan di jembatan Cijagra dan Citepus. Itu mulai dari lemari sampai kasur, saya menemukannya di sungai. Bahkan, kloset pun ada yang buang. Yang paling ekstrim, kami pernah menemukan mayat manusia di tumpukan sampah di daerah aliran sungai Citepus yang bermuara langsung ke sungai Citarum.

Apakah dari waktu ke waktu kebiasaan masyarakat membuang sampah di sekitar DAS Citarum ada perubahan?

Ada. Walau pun hanya beberapa persen, namun sedikitnya masyarakat juga sudah menyadari bahayanya pencemaran air sungai yang ditimbulkan oleh pembuangan sampah secara sembarangan. Khususnya bagi warga yg berdomisili di daerah bantaran sungai. Mereka sudah mulai membuang sampah pada tempat yang telah disediakan di sepanjang bantaran sungai.

Ada pula yang sudah mulai melaksanakan Pilah Pilih Olah yang mempunyai nilai ekonomis dari sampah.

Selain itu juga kami dari tim patroli sering mengedukasi masyarakat dan mengkampanyekan larangan untuk tidak membuang sampah atau pun limbah ke sungai-sungai.

Bagaimana dengan oknum lainnya dari kalangan pelaku usaha?

Nah mengenai hal ini masih banyak permasalahan yang harus segera diambil tindakan. Dengan oknum, kami seperti sedang main petak umpet. Karena sejak tim patroli sungai dibentuk pada 2016, mereka mulai merasa tidak nyaman.

Apalagi kami yang bertugas mencari data terkini dan aktual mengenai situasi dan kondisi di lapangan. Kami terjun langsung mencari data berupa titik kordinat pembuangan atau saluran (outfall) limbah perusahaan. Juga mengontrol secara kontinu untuk mengetahui, apakah ada perubahan lebih baik atau bahkan lebik buruk mengenai limbah yang dibuang oleh perusahaan-perusahaan nakal.

Selain itu kami juga menginventarisir data perusahaan mulai dari nama, lokasi, jenis produksi, status instalasi pengolahan air limbah, titik outlet hingga titik outfall.

Semua data itu nantinya dilaporkan kepada Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Barat untuk ditindaklanjuti. Karena kami tidak berwenang untuk mengambil tindakan langsung. Hasil kerja kami di lapangan, selain  dijadikan sebagai bank data khususnya dinas, juga instansi-instansi terkait lainnya.

Sampai saat ini sudah banyak perusahaan yang ditindak dengan sanksi penutupan outfall langsung dan sanksi administrasi. Saat ini ada sekitar 45 kasus yang sedang diproses.

Jadi Pemprov Jabar serius memulihkan DAS Citarum ya?

Sangat serius. Keseriusan ini bisa dilihat dari penutupan outfall yang diduga dari perusahaan-perusahaan nakal itu tadi. Termasuk adanya perubahan dan penyediaan fasilitas sosial dan fasilitas umum yang berada di area bantaran daerah aliran sungai yang terus berkembang. Apalagi, program Citarum Harum mendapat arahan langsung dari Presiden RI, Joko Widodo.

Anda yakin Citarum Harum terwujud?

Yakin. Karena usaha masif untuk mengembalikan Citarum seperti semula kembali digalakkan.  Semua elemen masyarakat, khususnya warga Jawa Barat juga diajak untuk melaksanakan dan berkomitmen mewujudkannya. Seperti kami tim patroli yang direkrut dari masyarakat penggiat lingkungan.

Memang mengharumkan Citarum seperti dulu merupakan ujian kepemimpinan. Citarum menuntut siapa pun untuk mengambil langkah yang benar, walau pun sangat sulit.  Penyelesaian masalah Citarum menuntut ketulusan, tanpa pamrih, niat yang bulat dan tekad yang kuat.

Semua lapisan masyarakat harus melaksanakan 5 hal yakni pertama, melestarikan hutan di hulu sungai. Pepohonan di sekitar hulu sungai tidak ditebang atau berubah menjadi pemukiman penduduk. Kedua, tidak membuang sampah di sungai. Karena sampah menghambat aliran sungai dan menyebabkan sedimentasi yang memicu banjir. Sampah yang bercampur dengan bakteri dan jamur juga membuat sungai terkontaminasi, kotor dan menjijikkan.

Ketiga, tidak membuang limbah rumah tangga dan industri ke sungai secara langsung tanpa diolah terlebih dulu. Keempat, tidak buang air kecil dan besar di sungai secara sembarangan. Kelima, menanggulangi pencemaran air sungai.

Jika semua elemen masyarakat melaksanakan 5 hal penting tersebut, maka 7 tahun mendatang, air Citarum niscaya bisa diminum.

Fenny YL Budiman