Pertanian Kota Berbasis Keluarga

0
158
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta Sugeng Darmanto

Pertanian kota yang sedang digalakkan, secara ekologi dapat ikut berkontribusi ke arah terciptanya lingkungan kota berkelanjutan (sustainable city). Mengapa? Selain ikut memperelok lanskap kota, pertanian kota juga ikut membantu merestorasi lingkungan kota lewat pemanfaatan lahan-lahan kota yang tidak terawat maupun pemanfaatan sampah kota sebagai kompos tanaman. Aktivitas pertanian kota yang menciptakan lanskap hijau nan asri bakal ikut berpengaruh terhadap kondisi psikologis dan perasaan (emosi) warga kota, yang pada gilirannya akan berdampak positif bagi kondisi kesehatan secara keseluruhan.

Tetapi membuat seperti itu bukanlah kerja mudah, perlu penanganan dan kerjasama yang bagus. Kerja seperti itulah yang dilakukan oleh Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta Sugeng  Darmanto, dalam mengelola pertanian kota. Bagaimana kiprah Sugeng, Agro Indonesia berkesempatan mewawancarai pria ramah itu di sela kesibukan kerjanya.

Program apa saja yang ditangani di  wilayah  Yogya khususnya Kota Yogya?

Ada 3 bidang yang ditangani Dinas Pertanian Kota Yogyakarta yaitu bidang tanaman pangan, pertanian dan peternakan. Kalau bicara aspek kegiatan yang dilaksanakan yang ada di Kota Yogyakarta, baik kegiatan yang bersifat internal pelayanan atau kegiatan yang sifatnya eksternal dalam rangka pengembangan dan peningkatan pada kelompok masyarakat. Kalau yang internal pelayanan seperti di poliklinik. Eksternal pembinaan kelompok tani, kelopok wanita tani, gapoktan kelompok petani sayur dan sebagainya. Lingkupnya Kota Yogyakarta.

Bagaimana kegiatan pertanian di kota dengan lahan yang sempit?

Konsepnya bukan pada hasil produksi karena untuk itu butuh lahan luas. Seperti daerah Kabupaten Bantul, Kulonprogo. Itu lahannya luas untuk produksi padi, memungkinkan. Kalau di Kota Yogyakarta, meski punya sawah sekitar 53 ha, itu tidak difokuskan untuk produksi.

Konsep pertaniannya di Kota Yogyakarta adalah pertanian perkotaan. Ini adalah Pertanian Berbasis Keluarga. Yang dibuat ya seperti kelonpok kelompok lorong sayur, kampung sayur, dan sebagainya. Kerangka pendekatannya adalah basis hobiis dan digunakan untuk kegiatan yang sifatnya seperti refresing bukan diarahkan untuk produksi. Kalau untuk produksi tidak mungkin, susah.  Yogya sempit, kecil, tidak ada lahan yang luas.  Yang dikembangkan adalah pada aspek estetikanya.

Ketika diproduksi, jualnya bukan jual produksi. Misal cabai  per kilo atau dipetik, tidak seperti itu. Tapi yang dijual sekaligus potnya, dan yang bagus rupanya. Seperti  Cabai Panca Warna, Cabai Paprika dan sebagainya. Jadi ketika ditaruh dipot, kelihatan indahnya, nilai jualnya disitu.

Kalau untuk produksi tidak cukup, bagaimana mengatasi hasil pertanian yang kurang di kota?

Ketika bicara ketersediaan baik pangan untuk padi padian, umbi umbian, sayur sayuran, Yogyakarta itu mengandalkan pada aspek distribusi, distribusi dari luar daerah. Ketika masuk Kota Yogyakarta distribusinya lancar, jalan lebar, aspek ketersediaan sarana dan prasarana. Jadi ketika beli di Yogya kadang harganya relatif sama ketika beli di daerah.  Contoh ketika beli sayur di Bandungan dengan di Yogya, harga lebih murah di Yogya. Karena ada nilai tersendiri yang di-pluskan ketika kita belanja di Bandungan, dianggap sebagai wisatawan, Nilai ketersediaan yang kemudian dipersiapkan pemerintah Yogyakarta agar bisa dinikmati masyarakat. Jadi konsep ketersediaaan, kalau kita bicara di Yogya tidak ada produksi.

Untuk pembinaan di daerah apa masalah yang sering ditemukan?

Yang namanya bertanam tergantung musim. Misal umur tanaman semusim yang paling pendek seperti selada itu 30, 35 atau 40 hari. Selesai panen harusnya kita sudah menyiapkan rumah bibit, tinggal geser ke depan. Tetapi kesibukan di kampung sangat dinamis. Yang namanya kegiatan bertanam basisnya keluarga  rata-rata ibu. Di kampung disibukkan dengan banyak aktivitas, seperti Dasawisma, PKK, dan sebagainya. Habis panen mau kembali nanam lagi, nunggu dulu. Jadi harus dibangkitkan lagi karena orientasinya bukan untuk produksi, bukan untuk mata pencaharian. Kalau untuk mata pencaharian, begitu selesai panen sudah siap. Lebih pada penyediaan ruang untuk rileks. Menyediakan ruang untuk bisa berekspresi dan sebagainya. Sekali lagi bukan dalam konsep untuk agribisnisnya.

Untuk membangkitkan supaya tidak berhenti, bagaimana caranya??

Bisa dipandu oleh pendamping dengan menyiapkan rumah bibit, misalnya. Sering terjadi habis panen, agak lama, terhenti, setelah dimotivasi, baru berlanjut, mulai lagi. Karena tidak ada penyiapan di belakang, rumah bibit.  Rumah bibit itu mestinya ada 2 plot yg disediakan, Panen 1 selesai, tarik.  Panen, tarik lagi. Jadi  berkesinambungan. Dan itu sangat dinamis karena banyak kesibukan itu. Beda jika seorang petani murni.

Berapa kelompok yang dibina?

Kalau kelompok tani di Kota Yogya ada 176 kelompok. Tapi ketika kita bicara spot-spot. Misalnya mau panen apa ya tergantung kondisi. Misal di Badran mau panen sayur, kami dampingi kelompok sayur itu. Di Kotagede misal Rejowingangun mau panen apa? Kami dampingi lebih intens. Karena yang namanya masyarakat didampingipun naik turun, sesuai kebuituhan mereka. Kalau mereka merasa bahwa itu adalah bagian dari mata pecaharian pokok, dilakukan. Kalau hanya sebagai sarana tambahan penghasilan, sarana menenangkan pikiran, hanya sekian persen dari aspek utama kegiatan harian.

Untuk pendampingan, lebih banyak kelompok mengajukan, atau program dari sini ditawarkan?

Sebenarnya, kelompok itu mesti  punya kegiatan yang sifatnya mandiri, yang dilakukan oleh kelompok mereka sendiri. Tapi kelompok juga kadang meminta pendampingan dari penyuluh. Tidak serta merta dan tidak setiap saat dinas ada fasilitasi. Karena ketika ada fasilitasi yang terus menerus kadang hasilnya tidak bagus juga. Harus ada rasa memiliki. Ketika kita berusaha sendiri hasilnya lebih bagus, ketika kita punya niat, punya pengembangan. Bantuan tetap ada.  Tetapi itu tidak jadi tujuan utama. Karena kalau seperti itu tidak akan membawa hasil yang signifikan. Hanya saja jika mengajukan bantuan harus jelas  programnya.

Sekarang bantuan dana dan alat tidak ada. Kita bisa meminjamkan  sarana dan prasana. Misal rak, buatkan green house, bersama membuat demplot. Pemberian berupa dana sudah mulai dihindarkan. Jangan sampai kelomnpok hanya dibantu (terus menerus) tidak akan bagus hasilnya.

Bagaimana dampaknya terkait kesejahteraan petani?

Saya tidak bisa membuat catatan tingkat kesejahteraan petani di kota Yogya. Karena petani di Yogya beda dengan petani di Kabupaten. Bisa saja pemilik tanah di kota Yogya orang kaya, itu bukan petani murni. Hanya beberapa saja petani murni. Petani murni di Kota Yogyakarta sendiri juga sudah punya variasi tambahan penghasilan. Tidak hanya bercocok tanam sawah karena di Kota Yogyakarta kalau hanya mengandalkan sawah saja jelas tidak mungkin. Artinya pekerjaan utamanya itu apa? Misal pekerjaan utamanya pedagang juga punya sawah. Kalau pedagang punya sawah, bisa terpenuhi  pendapatan perbulannya dari  yang itu, ada tambahan pendapatan.

Apa itu tidak bisa sebagai  indikator?

Jadi yang bisa dihitung seperti itu ya di daerah daerah Kabupaten. Yang satu petani idealnya punya beberapa hektare. Ada istilah petani gurem, itu petani yang tidak punya sawah atau yang memiliki sawah kurang dari sekian hektare.  Nah kalau diterapkan di Yogya tidak bisa. Kenapa, kita bukan berorientasi pada pertanian sawah.

Harapan ke depan yg ingin capai dari kelompok kelompok tersebut?

Harapan justru saya letakkan pada kelompok itu sendiri, bagaimana mempertahankan atau memelihara kontinuitas dari aktivitas mereka sendiri. Saya tidak berharap ada produksi masal, Karena apa, pertama bagaimana mereka merasakan dari kegiatan mereka ada manfaat  positifnya. Itu saja sederhana.

Anna Zulfiyah