Revolusi Industri 4.0, Lompatan Besar di Sektor Industri

0
71

Revolusi industri 4.0 merupakan sebuah lompatan besar di sektor industri, dengan ditandai teknologi informasi dan komunikasi dimanfaatkan sepenuhnya. Tidak hanya dalam proses produksi, melainkan juga di seluruh rantai nilai guna mencapai efisiensi yang setinggi-tingginya sehingga melahirkan model bisnis yang baru dan berbasis digital.

“Sejak tahun 2011, kita telah memasuki revolusi industri generasi keempat. Secara global, revolusi industri 4.0 ditandai meningkatnya konektivitas, interaksi dan semakin konvergensinya batas antara manusia, mesin, dan sumber daya lainnya melalui teknologi informasi dan komunikasi,” ujar Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto pada acara bedah buku “Merajut Asa, Membangun Industri Menuju Indonesia yang Sejahtera dan Berkelanjutan” di Jakarta, Senin (14/10/2019).

Menurutnya, untuk melangkah ke sana, sektor industri nasional perlu melakukan banyak pembenahan, terutama dalam aspek penguasaan infrastruktur serta teknologi informasi dan komunikasi yang menjadi kunci utama penentu daya saing di era industri 4.0.

Airlangga menjelaskan, berbeda dengan revolusi-revolusi sebelumnya, industri 4.0 lebih demokratis dan tidak mengenal superioritas teknologi. Artinya, negara manapun bisa melakukan transformasi struktural, termasuk Indonesia bisa menjadi leading di ASEAN.

“Apalagi, kita punya safety factor, yakni pasar domestik,” ujar Menperin. Ia menambahkan, bila Indonesia dapat merebut momentum bonus demografi yang dimiliki, pertumbuhan ekonominya dapat semakin meningkat.

Digital become the new norm, kita tidak bisa lepas dari kehidupan digital. Kita bangun tidur cek WA, ke kantor dengan Gojek atau Grab, di kantor cek email dan kirim file lewat WA atau Telegram, termasuk menggunakan Itunes atau Spotify yang mempengaruhi lifestyle kita,” sebutnya.

Maka itu, Indonesia memiliki pertumbuhan ekonomi digital yang tertinggi di ASEAN. Ini menjadi potensi bagi Indonesia dalam merebut peluang ekonomi digital. Berdasarkan laporan Google-Temasek, digital ekonomi atau internet ekonomi di Indonesia tahun ini telah mencapai US$40 miliar, naik lima kali lipat dibanding tahun 2015 sebesar US$8 miliar.

“Angka US$ 40 miliar tersebut, menegaskan posisi Indonesia sebagai The Biggest Internet Economy di kawasan ASEAN, jauh meninggalkan negara-negara lainnya di ASEAN. Kita harus bisa mendorong inovasi untuk menambah lagi peluang di era Industri 4.0. Inilah yang membedakan ekonomi berbasis capital goods dengan yang didukung oleh kesempatan,” ucapnya.

Upaya Indonesia dalam menerapkan industri 4.0 dan sumbang saran Airlangga terhadap penerapkan revolusi industri 4.0 tercantum dalam buku yang berjudul  “Merajut Asa, Membangun Industri Menuju Indonesia yang Sejahtera dan Berkelanjutan” yang ditulis Menperin

Melalui buku yang ditulisnya, Menperin ingin menyumbangkan saran dan pemikiran terhadap langkah-langkah strategis yang harus dilakukan oleh Indonesia dalam rangka mendorong terwujudnya Indonesia yang sejahtera dan berkelanjutan. Buku setebal 186 halaman itu memuat beberapa peluang dan kemudahan untuk merajut asa pembangunan industri di Indonesia.

“Sebagai sebuah refleksi kebijakan, saya mencoba memaparkan best practice kebijakan industri di beberapa negara dalam buku ini. Industrialisasi membutuhkan sebuah ikhtiar untuk cita-cita kesejahteraan tanah air,” paparnya.

Airlangga mengungkapkan, buku tersebut juga menceritakan mengenai perjalanan dirinya di bangku legislatif (DPR) sebagai Ketua Pansus untuk menyusun UU Minerba, UU Perdagangan, dan revisi UU Perindustrian.

“Mengapa buku ini penting? karena mencatat hal-hal yang tidak tertulis di dalam UU itu sendiri. Jadi, banyak hal yang dibahas secara berbeda dan kita dapat mengetahui mengapa hilirisasi itu penting, serta apa bedanya pemurnian dan pengolahan,” paparnya. Buyung N