Peneliti KLHK Harus Dorong Budaya Inovasi

0
658
Kepala BLI KLHK Agus Justianto (kedua dari kiri) bersama Dirjen PSKL KLHK Bambang Supriyanto (ketiga dari kiri), Kepala Pusat Litbang Hutan KLHK Krisfianti L Ginoga (kiri) dan Kepala Pusat Litbang Sosial, Ekonomi, dan Kebijakan KLHK Syaiful Anwar (kanan) menjajal kain sutera yanag dihasilkan dari ulat sutera unggul hasil inovasi peneliti BLI KLHK, di Bogor, Kamis (21/11/2019)

Peneliti Badan Litbang dan Inovasi (BLI) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) ditantang untuk menciptakan budaya inovasi agar hasil riset yang dicapai bisa dimanfaatkan oleh masyarakat.

Kepala BLI KLHK Agus Justianto menyatakan peneliti tidak boleh berhenti pada hasil riset yang dicapai. “Penelitian bukan sekadar kegiatan, tapi harus menjadi budaya,” kata Agus saat peluncuran Teras Inovasi di Bogor, Kamis (21/11/2019).

Untuk itu, peneliti BLI harus mempromosikan dan menyebarluaskan hasil penelitiannya kepada masyarakat. Dia menilai diluncurkannya Teras Inovasi penting sebagai bagian dari promosi hasil riset BLI.

Teras Inovasi berlokasi di Kampus BLI, Gunung Batu, Bogor. Di sana masyarakat bisa mengeksplorasi berbagai inovasi BLI dan berinteraksi langsung dengan para peneliti dalam diskusi yang santai namun substantif.

Turut hadir dalam peluncuran Teras Inovasi, Dirjen Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan (PSKL) Bambang Supriyanto dan Kepala Pusat Litbang Hutan Krisfianti L Ginoga.

Menurut Agus, di Teras Inovasi, masyarakat bisa memberi feed back atas hasil riset BLI. Masukan dari masyarakat bisa menjadi inspirasi bagi penelitian lanjutan oleh BLI. Inovasi yang dilakukan harus bisa menjawab kebutuhan masyarakat,” katanya.

Sementara itu inovator BLI Lincah Andadari memaparkan salah satu inovasi budidaya ulat sutera yang kini sangat diminat masyarakat. Lincah menemukan tanaman murbei unggul SULI 01 dan galur ulat sutera unggul PS 01.
Hasilnya produksi kokon ulat sutera petani meningkat dari sebelumnya rata-rata 24 kilogram per box menjadi 38 kilogram per box,” katanya.

Peningkatan produksi kokon ulat sutera oleh petani diharapkan bisa menekan impor benang sutera yang menggerus devisa.

Sugiharto