Penyuluh Diminta Aktif Sosialisasikan Asuransi Pertanian

0
53

Petani lahan rawa di Desa Jejangkit Muara, Kecamatan Jejangkit, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan (Kalsel) serta petani yang mengolah lahan rawa dalam program SERASI lainnya diimbau bisa memanfaatkan AUTP, yang preminya disubsidi pemerintah.

“Bayar preminya tiap hektare (ha) hanya Rp36.000/musim tanam. Jadi, Pemerintah masih mensubsidi Rp144.000/ha/musim tanam. Kalau petani sudah menjadi peserta AUTP, nanti bisa melakukan klaim apabila sawahnya terkena bencana banjir, kekeringan, dan serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT) sebesar Rp6 juta/ha/musim tanam,” kata Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementan, Sarwo Edhy di Jakarta, Selasa (19/11/2019).

Menurut Edhy, agar semua petani bisa memanfaatkan program AUTP ini, sehingga petani bisa nyenyak dan tidur dengan tenang kalau lahan sawahnya terkena banjir, kekeringan dan serangan hama. “Sebab, petani yang telah menjadi peserta AUTP bisa mengajukan klaim ke PT  Jasindo dengan ganti rugi Rp6 juta/ha/musim tanam,” ujarnya.

Sarwo Edhy juga berharap, penyuluh pertanian yang ada di lapangan berperan aktif untuk melakukan sosialisasi AUTP ke petani, melalui kelompok tani (Poktan) dan gabungan kelompok tani (Gapoktan) binaannya.

“Ini program bagus yang bisa membantu usaha tani. AUTP ini bisa menjadi jaminan usaha petani tatkala sawahnya terkena bencana kekeringan, banjir atapun serangan OPT,” paparnya.

Dikatakan, AUTP  merupakan cara Kementan untuk melindungi usaha tani agar petani masih bisa melanjutkan usahanya ketika terkena bencana banjir, kekeringan atau serangan OPT. “Kami harapkan semua petani padi bisa mendaftar sebagai anggota AUTP. Karena harga preminya murah dan sangat bermanfaat,” ujarnya.

AUTP saat ini tak hanya diperuntukkan bagi petani yang lahan sawahnya berada di kawasan rawan bencana dan serangan OPT. Akan tetapi, AUTP juga dikembangkan untuk petani yang lahan sawahnya aman dari bencana. Sebab, yang namanya bencana atau serangan OPT tak bisa diduga.

Data Kementan menyebutkan, jumlah petani peserta AUTP dari tahun ke tahun terus meningkat. Tercatat, dari target 1 juta ha, realisasi AUTP pada tahun 2018 tercapai 806.199,64 ha atau 80,62%. Sementara itu klaim kerugian yang diajukan petani mencapai 12.194 ha atau sebesar 1,51%.

AUTP yang dikembangkan Kementan sampai saat ini tak menemui banyak kendala. Pembayaran klaim yang dilakukan PT Jasindo sampai saat ini berjalan lancar. Guna mempermudah pendaftaran dan pendataan asuransi, Kementan bersama PT Jasindo menerbitkan layanan berbasis online melalui Sistem Informasi Asuransi Pertanian (SIAP).

Selain AUTP, Kementan juga menerbitkan asuransi ternak sapi/kerbau dengan nilai premi asuransinya Rp40.000/ekor/tahun. Bagi petani yang ikut serta dalam asuransi ternak sapi/kerbau bisa mengajukan klaim ke PT Jasindo apabila ternaknya mati atau hilang sebesar Rp10 juta. “Asuransi ternak sapi/kerbau ini juga kami subsidi sebesar Rp160.000/ekor/tahun,” katanya.

Sarwo Edhy dalam berbagai kesempatan juga meminta daerah agar lebih gencar mensosialisasikan program asuransi pertanian ini. Pasalnya, masih banyak petani yang masih belum mengerti cara mendaftar.

“Kepada Dinas Pertanian seluruh daerah agar terus melakukan pendekatan kepada petani. Bisa menggunakan para penyuluh juga. Ini agar perani bisa lebih tenang dan nyaman, serta tidak takut mengalami gagal panen,” katanya.

Realisasi AUTP

Sementara itu Direktur Pembiayaan PSP, Indah Megahwati mengatakan, realisasi program AUTP hingga November 2019 mencapai 880.728 ha dari target 1 juta ha.

“Kalau kita lihat kondisi di lapangan, di mana petani cukup antusias ikut AUTP, maka kami yakin target dalam waktu dekat ini, Insyaallah, tercapai 100%. Minimal 99%,” kata Indah Megahwati.

Tren petani yang mengikuti program AUTP dalam empat tahun terakhir memang meningkat. Data AUTP menyebutkan, pada 2015 lahan yang tercakup baru sekitar 233.500 ha dengan luas lahan yang klaim sebesar 3.492 ha. Angka cakupan bertambah di 2016, yaitu seluas 307.217 ha dengan klaim 11.107 ha.

Pada 2017 bertambah lagi menjadi 997.961 ha dengan klaim kerugian tercatat 25.028 ha. Adapun pada 2018, realisasinya sekitar 806.199,64 ha dari target 1 juta ha (80,62%) dengan klaim kerugian mencapai 12.194 ha (1,51%).

Seperti diketahui, sekarang ini sudah masuk musim tanam Okmar (Oktober 2019-Maret 2020). Pada musim tanam ini, biasanya petani yang lahannya berisiko gagal mengasuransikan lahan sawahnya.

Menurut Indah, di beberapa daerah pencapaian target asuransi cukup tinggi, meskipun terdapat daerah yang masih kurang minat dalam ke ikutsertaan asuransi ini.

Indah menyebutkan, pihaknya telah membuat tim untuk percepatan realisasi AUTP dan meningkatkan sosisalisasi dalam pengoperasionalkan aplikasi SIAP untuk pendaftaran maupun pengajuan klaim.

Upaya lain untuk mempercepat realisasi target adalah memberikan insentif kepada petugas untuk berlangganan internet, serta menganjurkan petani untuk mendaftar lebih cepat menjadi peserta AUTP. PSP