Dukung Masyarakat Lestarikan Hutan, Cargill Alokasikan 3,5 Juta Dolar AS

0
307
Dr. U. Mamat Rahmat, Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia; Ir. Untat Dharmawan, Dinas Kehutanan Provinsi Kalimatan Barat; Richard Low CEO Cargill Tropical Palm; Gabriel Eickhoff CEO Lestari Capital; Rusman,Tokoh Masyarakat Nanga Lauk; Imanul Huda, Yayasan PRCF Indonesia menandatangani MoU dukungan pendanaan sebesar Rp 49 miliar (US$ 3,5 juta) untuk program konservasi hutan di Desa Nanga Lauk, Kalimantan Barat, selama 25 tahun ke depan.

Cargill menegaskan komitmen terhadap produksi minyak sawit berkelanjutan melalui dukungan pendanaan sebesar 3,5 juta dolar AS (Rp49 miliar) untuk program konservasi hutan di Desa Nanga Lauk, Kalimantan Barat, selama 25 tahun ke depan. Dana tersebut akan dikelola melalui Mekanisme Konservasi Komoditas Berkelanjutan (Sustainable Commodities Conservation Mechanism/SCCM) bersama dengan Lestari Capital, dan mitra implementasinya, People Resources and Conservation Foundation (PRCF) Indonesia.

CEO Cargill Tropical Palm Richard Low, mengatakan melalui kemitraan dengan Lestari Capital, pihaknya mengembangkan SCCM untuk mendukung dan melaksanakan program jangka panjang sekaligus memperkokoh komitmen terhadap pelestarian hutan dan perlindungan hak-hak masyarakat adat.

“SCCM merupakan mekanisme konservasi yang pertama di industri kelapa sawit dan Program Hutan Desa Nanga Lauk adalah salah satu contoh yang baik tentang bagaimana kami mengimplementasikan komitmen keberlanjutan dan ketaatan kami terhadap sertifikasi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang lebih luas serta melindungi keanekaragaman hayati dan ekosistem yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat,” kata dia di Jakarta, Rabu (4/12/2019).

Program Hutan Desa Nanga Lauk yang berlokasi di Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, terdiri atas Hutan Desa dan Hutan Produksi Terbatas. Hutan Desa mencakup total 1.430 hektar termasuk hutan rawa gambut, tanah rawa dan danau. Sedangkan Hutan Produksi Terbatas mencakup hutan rawa gambut seluas 9.169 hektar dan kawasan hutan yang berdekatan dengan aliran sungai dan danau. Baik Hutan Desa dan Hutan Produksi Terbatas Nanga Lauk mendukung kehidupan sekitar 700 penduduk di 197 rumah tangga.

Selama beberapa generasi, kawasan hutan ini telah menjadi sumber mata pencaharian bagi masyarakat melalui kegiatan menangkap ikan, bercocok tanam, dan memanen hasil hutan seperti madu. Hutan dan aliran air di sekitarnya juga merupakan sumber air, bahan bakar, bahan bangunan, dan obat tradisional.

Rusman, tokoh masyarakat Desa Nanga Lauk, mengatakan hutan dan sungai telah memberikan manfaat bagi masyarakat dengan menyediakan sarana untuk hidup dan tumbuh.

“Demi generasi yang akan datang – anak cucu kami – kami perlu memastikan bahwa kami terus melindungi hutan kami. Hal ini merupakan satu-satunya cara agar kami dapat terus mendapatkan manfaat dari ekosistem dan sumber daya alam untuk generasi mendatang. Kami menyambut baik program pengelolaan hutan berkelanjutan ini karena akan membantu masyarakat sekitar mencari nafkah sekaligus memberikan kontribusi kembali ke hutan yang kami sebut rumah kami,” katanya.

Nanga Lauk diharapkan menjadi contoh bagi program-program konservasi berkualitas tinggi yang memiliki manfaat jangka panjang. Program hutan desa memungkinkan anggota masyarakat untuk melindungi dan mengelola hutan serta memperoleh penghasilan dari pemanfaatan sumber daya alam yang berkelanjutan. Program ini juga membantu masyarakat meningkatkan mata pencaharian melalui pelatihan di berbagai bidang seperti patroli hutan, keterampilan bisnis, pemasaran dan pengembangan bisnis, pengelolaan dan pengolahan sumber daya alam seperti rotan, bambu dan madu liar, serta ekowisata. Sugiharto