Indonesia Genjot Pengembangan Rotan dan Bambu

0
341
Wakil Menteri LHK Alue Dohong (kedua dari kanan) dan Dirjen INBAR Ali Mchumo (kedua dari kiri), dan Kepala BLI KLHK Agus Justianto (kanan) dan Dirjen Pengendalian Perubahan Iklim Ruandha A Sugardiman (kiri) usai pertemuan bilateral di sela penyelenggaraan konferensi perubahan iklim COP 25 UNFCCC di Madrid, Spanyol, Selasa (10/12/2019).

Indonesia akan terus mendorong pengembangan hasil hutan bukan kayu, rotan dan bambu. Kedua komoditas tersebut bermanfaat untuk mendukung kesejahteraan masyarakat sekaligus bisa membantu pengendalian perubahan iklim.

Demikian dinyatakan Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Alue Dohong saat pertemuan bilateral dengan Direktur Jenderal International Bamboo and Rattan Organization (INBAR) Ali Mchumo di sela penyelenggaraan konferensi perubahan iklim COP 25 UNFCCC di Madrid, Spanyol, Selasa (10/12/2019).

Alue menyatakan Indonesia sebagai negara penghasil rotan terbesar di dunia dan juga penghasil bambu yang sangat besar. “Bambu bisa menjadi salah satu solusi pengendalian perubahan iklim, tidak hanya menyerap dan menyimpan karbon, merehabilitasi lahan terdegradasi, tetapi juga dapat diolah menjadi produk yang berkualitas dan berestetika tinggi” kata dia.

Setiap hektare tanaman bambu dapat menyerap 50 ton gas rumah kaca setara karbon dioksida setiap tahunnya.

Dalam pertemuan tersebut Wamen LHK didampingi oleh Kepala Badan Litbang dan Inovasi Agus Justianto dan Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim Ruandha A Sugardiman.

Ali Mchumo menyatakan bahwa Indonesia adalah anggota INBAR yang sangat penting. “Sebagai Dirjen yang baru, saya merasa bahwa perlu ada kerja sama yang lebih erat dan luas dengan Indonesia mengingat Indonesia memiliki potensi bambu dan rotan yang sangat potensial,” ujar Ali Mchumo.

Menurut dia, Indonesia adalah anggota yang sangat penting dalam kerangka kerja sama Selatan-Selatan (KSS) dan dapat menjadi pemimpin dalam KSS untuk pengembangan bambu dan rotan, sebab Indonesia adalah negara dengan ekonomi terbesar dalam kerangka KSS.

Di banyak negara, rotan mengalami penurunan potensi bahkan sudah punah. Untuk itu diperlukan upaya untuk membangkitkan lagi rotan di negara-negara anggota INBAR.

Ali juga berharap karena posisi Indonesia yang sangat strategis di kawasan, INBAR perlu membuka kantor di Indonesia sebagai hub di kawasan Asia Pasifik. Saat ini baru ada satu perwakilan INBAR di Asia yaitu di India.

“Indonesia akan mempertimbangkan pembukaan kantor di Indonesia dan akan lebih jauh menganalisis manfaatnya bagi pengembangan rotan dan bambu di Indonesia,” jawab Alue Dohong.

Guna menjajagi kemungkinan pembukaan kantor INBAR di Indonesia sekaligus mengembangkan kedua komoditas tersebut, perlu dilakukan studi komparasi di China yang merupakan negara produsen bambu terbesar di dunia sekaligus mengunjungi kantor pusat INBAR di Beijing. Sugiharto