Paviliun Indonesia Berhasil Jalankan “Soft Diplomacy” Iklim

0
292
Wakil Menteri LHK Alue Dohong bersama sejumlah delegasi dari negara lain memainkan angklung saat penutupan Paviliun Indonesia pada Konferensi Pengendalian Perubahan Iklim di Madrid, Spanyol, Kamis (12/12/2019). Alat musik angklung dimainkan untuk mewakili pemanfaatan hasil hutan bukan kayu dan menjadi lambang perlunya kolaborasi semua aktor untuk menghasilkan harmoni yang indah dalam pengendalian perubahan iklim. 

Paviliun Indonesia yang digelar seiring penyelenggaraan Konferensi Perubahan Iklim UNFCCC COP 25 di Madrid, Spanyol, telah menjalankan misi “soft diplomacy” untuk mendukung tim perunding Indonesia di KTT Perubahan Iklim COP 25. Sejak dibuka tanggal 4-12 Desember 2019, Paviliun Indonesia telah menggelar 43 sesi diskusi panel dengan 207 narasumber yang merupakan aktor langsung di tingkat tapak. Paviliun Indonesia bisa memberi informasi mendalam bagi delegasi negara lain tentang apa yang dilakukan dan dicapai Indonesia dalam mitigasi dan adaptasi perubahan iklim dari berbagai aspek. Misalnya, tentang pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Alue Dohong menuturkan, banyak negara di dunia seperti Brasil, Kanada, Bolivia, Amerika Serikat, dan Australia menghadapi tantangan besar soal karhutla. Hal yang sama juga dihadapi Indonesia.

Untuk menghadapi tantangan tersebut, Indonesia telah melakukan kajian terhadap karhutla yang terjadi di tahun 2019 dan mengambil aksi koreksi di lapangan.

“Berdasarkan kajian atas apa yang terjadi di tingkat global, kejadian karhutla yang terjadi di berbagai negara karena adanya situasi abnormal, dan wilayah Asia Tenggara mengalami situasi yang paling buruk,” kata Wamen Alue saat menutup penyelenggaraan Paviliun Indonesia, Kamis (12/12/2019).

Lebih lanjut Alue menjelaskan, meski Asia Tenggara menghadapi situasi abnormal terburuk, namun karhutla yang terjadi di Indonesia berhasil dikendalikan. Terbukti, kejadian karhutla tahun 2019 masih lebih rendah dibandingkan kejadian yang terjadi pada tahun 2015.

“Meski demikian, kita semakin memahami bahwa dampak karhutla pada masyarakat dan alam butuh respons yang lebih cepat. Kita juga butuh sistem mobilisasi sumber daya yang dimiliki pemerintah, pelaku usaha dan organisasi masyarakat untuk aksi pengendalian karhutla dan memitigasi dampaknya,” kata Alue.

Teknologi yang berkembang dan mudah diakses saat ini sudah mendukung hal itu. Satelit NOAA dan ESA bisa menyediakan teknologi pemantauan dan layanan informasi serta analisis yang mendukung manajemen pencegahan dan pemadaman karhutla sehingga respons cepat dan akurat bisa dilakukan di lapangan.

“Indonesia sudah memanfaatkan teknologi yang termutakhir untuk manajemen karhutla,” ujar Alue.

Sementara itu Ketua Penyelenggara Paviliun Indonesia Agus Justianto menjelaskan, selain tentang manajemen pengendalian karhutla, diskusi panel yang diselenggarakan menyajikan berbagai aspek mulai dari pegunungan hingga lautan, dari Timur ke Barat, apapun gender dan berapapun usianya, semua tentang aksi yang dilakukan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) demi menjaga kenaikan temperatur tidak lebih dari 2 derajat celcius.

“Lebih dari 3000 orang delegasi hadir mengikuti sesi panel yang digelar Paviliun Indonesia,” kata Agus.

Selain aktor di tingkat tapak, Paviliun Indonesia juga menghadirkan tokoh pengendalian perubahan iklim global seperti Mantan Wakil Presiden Amerika Serikat Al Gore, ekonom perubahan iklim Lord Nicholas Stern, dan Utusan Khusus Sekjen PBB untuk SDG era Kofi Annan dan Ban Kim-moon sekaligus pakar pengentasan kemiskinan Profesor Jeffrey Sachs.

Topik yang dipresentasikan di Paviliun Indonesia adalah aksi nyata untuk pengendalian perubahan iklim mulai dari dukungan politis, litbang, manajemen gambut, pendanaan dan pengelolaan sampah, termasuk sampah plastik.

Topik lain yang diangkat adalah kekuatan kelompok umat beragama, kemitraan, kontribusi pelaku usaha, konservasi hutan dan keanekaragaman hayati, serta energi terbarukan. “Sesi yang menghadirkan aktor dari generasi muda dan wanita juga digelar untuk mempresentasikan bahwa aksi pengendalian perubahan iklim di Indonesia melibatkan semua aktor di tingkat tapak,” kata Agus. Ini selaras dengan kampanye ‘no one left behind’,” tandas Agus.

Sugiharto